Kemarin kamu
bertanya “hari Senin ini tanggal berapa”?
Saya yakin sebenarnya
itu pertanyaan yang tak perlu saya jawab. Karna kamu biasanya tidak pernah
melupakan tanggal. Jadi saya jawab sekenanya saja karna saya tahu setelah ini
pertanyaan kamu akan terus berlanjut seakan-akan saya melupakan satu peristiwa
penting di tanggal itu. Ini pertanyaan rutin yang kamu lontarkan setiap tahun.
:D
Bagaimana mungkin
saya bisa lupa hari dimana kamu berikrar untuk mengambil alih sebuah tanggung
jawab besar dari orangtua saya dan meletakan beban beratnya ke pundakmu? Bahwa
sejak hari itu peradaban baru akan kita
mulai bersama atas nama pernikahan.
Kemudian kamu
bertanya apakah saya mencintai kamu?
Perlukah saya
jawab? mata kamu berkata “ya” dan saya tidak tega menolaknya.
Saya sedang
belajar mencintai kamu, sejak hari pertama menjadi istri kamu sampai hari ini. Jika
manusia, alam dan kehidupan tidak bisa tumbuh berkembang melebihi batas atau
kadar yang telah ditetapkan, maka saya berharap cinta saya pada kamu tumbuh
tanpa mengenal batas, meskipun setiap harinya hanya mengalami sedikit kenaikan.
Karna kita tahu, segala sesuatu yang telah tumbuh mencapai batasnya tidak akan
bisa tumbuh dan berkembang lagi, ia hanya tinggal menunggu hari-hari
menggerogoti dirinya hingga mati dalam kebosanan. Sungguh, saya tidak ingin
memiliki cinta yang seperti itu.
Dan tanya kamu
masih saja berlanjut. Seperti “Apakah kamu bahagia menikah denganku”?
Ah, kenapa kamu
suka sekali memberi pertanyaan retoris?
Tapi tetap saja,
saya suka menjawabnya.
Sejak awal saya
tahu, saya tidak sedang menikah dengan pangeran dalam cerita cinderella. Dimana
setelah menikah mereka akan bahagia selama-lamanya. Juga tidak seperti kisah
pernikahan Lady Diana dan Pangeran Charles, yang tampak bahagia dari luar tapi
penuh kerumitan, kesemrawutan dan pertengkaran di dalam.
Kita berbeda
dalam banyak hal. Tapi saya berharap, kita bisa saling melengkapi kekurangan
masing-masing. Adakalanya saya merasa kesal dan marah atas sikap kamu, dan itu
membuat kebahagiaan yang saya rasakan hilang seketika. Milyaran kebaikan kamu
menguap entah kemana. Seakan setan datang dari segala penjuru, membisiki segala
detil kekurangan kamu. Hidup menjadi sempit. Lalu saya akan merasa menjadi
orang paling sengsara di dunia karna telah dinikahi oleh kamu. :v Karna itu,
ma’afkanlah saya.
Sebenarnya saat
marah, hanya dengan mengingat satu kebaikan kamu saja mampu meredam segenap
kekesalan saya. Menderaikan tangis yang akan menjadi begitu sesak jika saya
pendam lama-lama di dalam jiwa. Lalu kamu datang meminta ma’af. Padahal saya
yang salah. Maka kita saat itu menjadi orang-orang paling berbahagia. Karna
saling menginsyafi kelemahan masing-masing. Mungkin begitulah seni pertengkaran
dalam sebuah pernikahan. Kita saling marah, untuk kemudian belajar menerima
kekurangan masing-masing. Hati kita telah berpadu. Sebab nun jauh di hati
terdalam, nyatanya kita saling menyayangi.
Begitulah..
Saya tahu ini
hari pernikahan kita di tahun yang kedua, tapi lidah saya tidak terbiasa
mengucap “Happy Anniversary, sayangku.” Jadi izinkanlah saya membersamai segala
suka duka kamu di tahun-tahun selanjutnya tanpa harus mengistimewakan satu hari
ini, tanpa perlu mengucap kalimat cinta sepanjang hari di wall fb atau inbox HP
kamu, juga tak perlu sepotong kue atau sekotak kado untuk merayakan hari ini.
Kita belajar mencintai dan saling menyelami jiwa masing-masing setiap hari agar
bisa tumbuh tua bersama dan bahagia hingga ke jannah-Nya, itu cukup bagi saya.
0 komentar:
Posting Komentar