Senin, 04 Mei 2015

Surat Cinta Buat Pak Hasbi



Kemarin kamu bertanya “hari Senin ini tanggal berapa”?
Saya yakin sebenarnya itu pertanyaan yang tak perlu saya jawab. Karna kamu biasanya tidak pernah melupakan tanggal. Jadi saya jawab sekenanya saja karna saya tahu setelah ini pertanyaan kamu akan terus berlanjut seakan-akan saya melupakan satu peristiwa penting di tanggal itu. Ini pertanyaan rutin yang kamu lontarkan setiap tahun. :D
Bagaimana mungkin saya bisa lupa hari dimana kamu berikrar untuk mengambil alih sebuah tanggung jawab besar dari orangtua saya dan meletakan beban beratnya ke pundakmu? Bahwa sejak hari itu  peradaban baru akan kita mulai bersama atas nama pernikahan.

Kemudian kamu bertanya apakah saya mencintai kamu?
Perlukah saya jawab? mata kamu berkata “ya” dan saya tidak tega menolaknya.
Saya sedang belajar mencintai kamu, sejak hari pertama menjadi istri kamu sampai hari ini. Jika manusia, alam dan kehidupan tidak bisa tumbuh berkembang melebihi batas atau kadar yang telah ditetapkan, maka saya berharap cinta saya pada kamu tumbuh tanpa mengenal batas, meskipun setiap harinya hanya mengalami sedikit kenaikan. Karna kita tahu, segala sesuatu yang telah tumbuh mencapai batasnya tidak akan bisa tumbuh dan berkembang lagi, ia hanya tinggal menunggu hari-hari menggerogoti dirinya hingga mati dalam kebosanan. Sungguh, saya tidak ingin memiliki cinta yang seperti itu.

Dan tanya kamu masih saja berlanjut. Seperti “Apakah kamu bahagia menikah denganku”?
Ah, kenapa kamu suka sekali memberi pertanyaan retoris?
Tapi tetap saja, saya suka menjawabnya.
Sejak awal saya tahu, saya tidak sedang menikah dengan pangeran dalam cerita cinderella. Dimana setelah menikah mereka akan bahagia selama-lamanya. Juga tidak seperti kisah pernikahan Lady Diana dan Pangeran Charles, yang tampak bahagia dari luar tapi penuh kerumitan, kesemrawutan dan pertengkaran di dalam.
Kita berbeda dalam banyak hal. Tapi saya berharap, kita bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing. Adakalanya saya merasa kesal dan marah atas sikap kamu, dan itu membuat kebahagiaan yang saya rasakan hilang seketika. Milyaran kebaikan kamu menguap entah kemana. Seakan setan datang dari segala penjuru, membisiki segala detil kekurangan kamu. Hidup menjadi sempit. Lalu saya akan merasa menjadi orang paling sengsara di dunia karna telah dinikahi oleh kamu. :v Karna itu, ma’afkanlah saya.
Sebenarnya saat marah, hanya dengan mengingat satu kebaikan kamu saja mampu meredam segenap kekesalan saya. Menderaikan tangis yang akan menjadi begitu sesak jika saya pendam lama-lama di dalam jiwa. Lalu kamu datang meminta ma’af. Padahal saya yang salah. Maka kita saat itu menjadi orang-orang paling berbahagia. Karna saling menginsyafi kelemahan masing-masing. Mungkin begitulah seni pertengkaran dalam sebuah pernikahan. Kita saling marah, untuk kemudian belajar menerima kekurangan masing-masing. Hati kita telah berpadu. Sebab nun jauh di hati terdalam, nyatanya kita saling menyayangi.
Begitulah..
Saya tahu ini hari pernikahan kita di tahun yang kedua, tapi lidah saya tidak terbiasa mengucap “Happy Anniversary, sayangku.” Jadi izinkanlah saya membersamai segala suka duka kamu di tahun-tahun selanjutnya tanpa harus mengistimewakan satu hari ini, tanpa perlu mengucap kalimat cinta sepanjang hari di wall fb atau inbox HP kamu, juga tak perlu sepotong kue atau sekotak kado untuk merayakan hari ini. Kita belajar mencintai dan saling menyelami jiwa masing-masing setiap hari agar bisa tumbuh tua bersama dan bahagia hingga ke jannah-Nya, itu cukup bagi saya. 



0 komentar:

Posting Komentar