Minggu, 10 Februari 2019
Dongeng Kota Buku
Dulu ayahku pernah bercerita. Saat masih muda, ia pernah tersesat di sebuah kota yang asing. Ia lupa tepatnya dimana. Tapi segala kenangan tentang kota itu begitu lekat di ingatannya.
Rancang bangunannya serupa buku yang terbuka. Semua sama, seperti itu. Bahkan pepohonan berbuah buku. Lebat. Hebat. Kau boleh percaya atau pun tidak. Sebab aku pun kini ragu. Telah satu dasawarsa berkelana mencarinya ke penjuru dunia, tapi tak juga kutemukan.
***
Ia mencintai ilmu. Maka sehari pun tak pernah kulihat ayah lepas dari buku. Kemanapun melangkah, didekapnya buku di dada. Saat jeda dari aktivitas kerja, dibukanya beberapa lembar buku hingga kadang terlewat waktu makan. Aku takjub. Sekaligus heran. Kenapa rasa yang sama tak mengalir dalam darahku? Kenapa aku tak bisa mencintai buku-buku sebagaimana ia?
"Ayah, adakah obat mujarab agar aku bisa seperti Ayah? Begitu lezat melahap beragam buku?" Pertanyaan yang berulang kali kuajukan. Saat itu ayah tengah asyik menceritakan semaraknya pustaka-pustaka di masa daulah Andalusia.
Jujur saja, aku mudah bosan. Apalagi melihat rangkaian kata-kata yang seakan bergerak sendiri, berputar-putar di mata. Menghadirkan kantuk. Terlebih, daya tangkapku untuk memahami bacaan terlalu lemah. Butuh waktu lama hanya untuk menuntaskan beberapa halaman.
Ia menutup buku yang tengah dibacakannya untukku.
"Ayah pernah bercerita tentang Ibnu Sina. Masih ingatkah Karkhi tentang beliau?"
Aku berusaha memanggil segala ingatan, mencari tau siapa gerangan yang ayah maksud.
"Hmmm, Raja dirajanya ilmu kedokteran bukan, yah?" jawabku memastikan.
"Betul," ayah tersenyum lebar.
"Bahkan sekelas Ibnu Sina, tak cukup membaca buku hanya sekali agar paham," lanjutnya.
Ayah selalu begitu, menjawab tanyaku dengan bercerita tentang siapa dan apa saja yang bisa menginspirasiku.
Aku ingat kisah Ibnu Sina. Ia memiliki semangat mencintai ilmu yang luar biasa. Yang bersemangat membaca berulang-ulang "Metaphysics of Aristotle" sampai 40 kali karena kesulitan memahami isinya. Aku tak bisa begitu, bisa membaca satu buku sampai tuntas, itu sudah menjadi pencapaian yang luar biasa untukku.
***
Suatu petang, saat butiran hujan luruh ke bumi, ayah pulang dengan kuyup. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya. Sebuah lukisan, indah. Ayah memajangnya di pustaka kecil kami. Menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Seperti seseorang yang merindu pulang ke kampung halaman. Lalu, dimulailah dongeng tentang kota buku itu.
Ibu bilang, cerita ayah tak masuk akal. Tapi aku terlanjur hanyut dalam pusaran dongeng ayah. Hingga dewasa, rasa penasaran terus menggedor-gedor isi kepalaku. Benarkah kota itu nyata? Bukankah Ayah pernah mengunjunginya? Maka ianya pasti ada. Pohon berbuah buku, kendaraan, lampu yang menerangi jalanan dan ragam benda lainnya berbentuk buku.
Hilir mudik orang-orang menenteng buku. Di sana, di bawah pohon rindang, ditingkahi angin sepoi para murid berkumpul. Duduk melingkar bersama seorang guru. Menanti cucuran ilmu mengalir dari lisannya.
Rumah-rumah di bangun seumpama buku yang terbuka. Bahkan kau bisa membolak balik lembarannya.
Aku ingin membuktikannya. Tak ingin gila dikejar rasa penasaran, kukumpulkan seluruh tabungan untuk bertualang. Ayah memelukku lama saat berpamitan. Menetes air matanya penuh keharuan. Ibu melepas dengan berat hati. Berhari-hari berdebat, akhirnya luluh juga.
"Kalau begitu, jangan pernah pulang sampai kau menemukannya," bisik ibu saat memelukku.
***
Satu dasawarsa telah terlewati, dan aku masih berpetualang sendiri mencari yang tak pasti. Banyak negeri yang disinggahi. Banyak orang yang telah aku temui.
Mungkir benar kata Ibu, cerita tentang kota buku itu tak masuk akal. Bisa jadi ini cara ayah mengirimku belajar tentang kehidupan langsung di lapangan.
Sering tersasar, kehabisan uang, tak punya tempat berteduh. Semua ini membentukku jadi terbiasa menghadapi kesulitan.
Berbagai masalah datang dan pergi, dan aku dipaksa untuk berpikir cepat mengatasinya sendiri. Benar-benar sendiri. Tanpa bantuan ayah.
Banyak negeri telah aku jelajahi. Beragam tempat kusinggahi. Bermacam tipe manusia kutemui. Menemukan teman tempat bertukar pikiran. Terbuka menerima perbedaan tapi harus tetap bertahan dengan prinsip yang kupegang. Aku dibesarkan oleh pengalaman.
Tentang kota buku itu, bukankah benar bahwa segala benda yang mempermudah aktifitas manusia, sejatinya berasal dari buku. Yang di dalamnya terdapat beragam pengetahuan yang mengajarkan manusia untuk menciptakan banyak hal. Aku yakin, kota buku yang ayah maksud hanyalah sebuah gambaran, betapa tanpa adanya buku dan pengetahuan, manusia kesulitan merumuskan ragam penemuan.
Kurasa ini saat yang tepat untuk menghentikan petualangan. Aku rindu pulang. Kukemasi segala perlengkapan yang kupunya. Menarik nafas dalam-dalam, berusaha meyakinkan diri bahwa sudah saatnya aku berhenti. Aku telah menemukan kebijaksanaan hidup, bukankah inilah bagian penting dari perjalanan yang kulakukan?
Kutarik nafas sekali lagi sembari memejamkan mata. Samar-samar terdengar seseorang berteriak memanggilku dari kejauhan.
"Kharki! Aku menemukannya! Kota buku itu ada! Benar-benar ada! Ia nyata! Aku menemukannya!" []
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar