Jumat, 01 November 2019

Wisata Ekslusif, Jalan Menuju Kepunahan Hewan Purba Komodo


Apa jadinya jika Pulau Komodo yang menjadi habitat hewan purba Varanus Komodoensis alias komodo dijadikan wisata ekslusif? Yap, yap. Seperti yang diberitakan di lini masa, pemerintah berencana untuk mengkonservasi Pulau Komodo untuk dijadikan Taman Nasional Komodo yang super ekslusif.



Gak tanggung-tanggung, untuk bisa menikmati keindahan dan keunikan hewan langka ini, agan dan sista harus siap-siap merogeh kocek sebanyak Empat Belas Juta Rupiah. Harga tiketnya bikin merinding. Setara gaji ane setahun. Wakakak. Alamat wisata online juga akhirnya ini. Cuma modal kuota sepuluh ribu doang udah bisa sampai di sana. Hihi.

Quote:Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan setelah rapat koordinasi yang melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pariwisata dan Gubernur NTT beberapa waktu lalu di Jakarta (11/10/19). “Kita ingin menata Komodo menjadi tourist destination. Jadi seperti di Afrika ada tempat safari,” kata Luhut seperti dikutip berbagai media. Pemerintah mematok biaya sekitar 1000 USD untuk setiap pengunjung. Pengelolaanya diserahkan kepada investor dalam dan luar negeri. “Pulau Komodo ini akan dibikin eksklusif dengan research yang bagus, penginapan oke. Kalau mau ke situ, keluarinlah uang berapa banyak,” sambung Luhut.
Sumber: disini


Berhubung Pak Luhut ingin mengubah pulau komodo menjadi seperti taman safari di Afrika, ada baiknya sebagai warga misqueen yang punya ponsel smart, kita kupas sedikit bagaimana kondisi masyarakat dan lingkungan di sono pasca dijadikan taman safari ekslusif.

Buat pelajaran aja, jangan sampai Pulau Komodo dan masyarakatnya bakalan bernasib malang macam suku Masai Mara dan habitat hewan langka di Afrika sana.

1. Habitat Asli Komodo Terganggu

Quote:


Serius ini, gan. Yang namanya wisata ekslusif, pasti akan memberikan layanan ekslusif juga bagi para pengunjung. Berkaca pada Taman Safari Nasional Kruger di Afrika, di dalam taman didirikan banyak bangunan-bangunan sebagai penginapan dan penunjang administrasi dan akomodasi para turis yang datang.

Dari penginapan mewah, pondok-pondok sederhana, camp-camp hingga tempat untuk barbeque-an dijejalkan di dalamnya. Jelas saja ini akan makin mempersempit tempat hidup para hewan langka dan betul-betul mengganggu ekosistem satwa liar yang hidup di sana. Bayangkan berapa banyak pohon yang ditebang demi ini semua? Ekosistem tumbuhan pun pastinya juga akan ikutan rusak. Ane takut, kerakusan para kapitalis ini akan merusak ruang gerak dan kelangsungan hidup komodo ke depannya.



2. Masyarakat Tersingkirkan

Quote:

Faktanya, belum apa-apa, masyarakat yang hidup di sekitar pulau komodo sudah digusur duluan. Pasti agan dan sista belum lupalah berita penutupan Pulau ini dengan alasan perbaikan. Lha, faktanya, ujug-ujug Pak Luhut datang membawa kabar buruk, bahwa Pulau Komodo akan dijadikan taman wisata ekslusif. Bikin sakit hati masyarakat setempat saja. Padahal banyak dari masyarakat sekitar yang menggantungkan hidup di sana.

Jangan sampailah komunitas setempat bernasib sama seperti orang-orang suku Masai di Kenya. Mereka bahkan gak kecipratan apa-apa dari pengembangan wisata model begini. Karena kebutuhan wisatawan pun sudah terpenuhi di dalam lokasi taman wisata, tanpa harus berinteraksi dengan masyarakat setempat. Karena nantinya, wisata model begini akan memberi batas yang tegas antara turis dengan komunitas lokal. Ini yang disebut Enclave Tourism.


Berikut yang terjadi pada hewan yang hidup di taman safari Afrika:
Quote:

FLORESA.CO –
Kehadiran Taman Nasional di Afrika menyebabkan penurunan populasi satwa liar. Berdasarkan laporan Patrick Adam, seorang wartawan yang meliput tentang Taman-taman Nasional di Afrika, antara rentang waktu 1970 hingga 2005, populasi beberapa spesies mamalia besar seperti singa, zebra, gajah, dan jerapah mengalami penurunan kurang lebih 59% pada Taman-taman Nasional di Afrika.[iv]Sementara di Tanzania populasi Gajah menurun hingga 53%, dari 109,000 ekor pada tahun 2009 menjadi hanya 51.000 ekor pada tahun 2015.[v]

Sistem konservasi melalui Taman Nasional di Afrika secara derastis mengubah pola migrasi alami tahunan dari satwa liar. Hidup serba terbatas dalam enclave Taman Nasional, menyebabkan satwa-satwa liar itu tidak lagi dapat berpindah tempat secara alami untuk mencari mencari makan. Krisis makanan pada musim-musim tertentu, menyebabkan banyak dari satwa liar itu yang mati. Sementara itu, efek kehadiran Taman Nasional yang memisahkan secara tegas antara antara wilayah konservasi dengan pemukiman penduduk setempat, telah menciptakan permusuhan antara penduduk setempat dengan satwa liar. Di Tanzania, pemisahan ini membuat area-area Taman Nasional tampak seperti Pulau kecil di tengah lautan populasi penduduk Maasai. Alhasil, meski dipaksa untuk hidup dalamenclave Taman Nasional, banyak dari satwa liar itu yang mencari makan di area penggembalaan ternak dan pertanian masyarakat suku Maasai. Akibatnya banyak dari satwa liar tersebut yang mati dibunuh oleh para peternak dan petani.

Sumber: disini


Intinya bagi ane pribadi, untuk apa mengubah pulau komodo demi wisata ekslusif, kalau hanya untuk menguntungkan sekelompok elit kapital? Biarkanlah komodo dan masyarakat setempat berbaur sebagaimana biasanya. Lagipula, siapa yang paling mengerti tentang komodo kalau bukan komunitas lokal sana?

Berhenti terus menerus memikirkan profit, jika akhirnya ekosistem binatang purba dan lingkungan sekitarnya jadi rusak. Kita tak perlu mencontoh Taman Nasional Afrika, karena pada faktanya, hewan-hewan langka yang hidup di Taman Nasional Serengeti maupun Kidepo, sedang berjalan menuju kepunahannya. 😭😭


______________
Sumber: opini pribadi dan disini

Senin, 21 Oktober 2019

1 Review Novel Orang-Orang Biasa (Andrea Hirata) yang Super Membosankan



Akhirnya dengan susah payah, berhasil juga teman saya itu khatam membaca novel ke-10 Pak Cik Andrea Hirata yang berjudul “Orang-Orang Biasa.”

Mungkin karena ekspektasi terlalu tinggi, berharap OOB semenakjubkan trilogi Laskar Pelangi, berujung kecewa pada akhirnya. Di awal-awal saja, dia sudah mengeluh tentang isi novel yang terlalu lamban alurnya.

“Super membosankan,” begitu keluhnya saat sudah membaca hampir separuh jumlah halaman buku.

Benar gak sih, kalau OOB semembosankan itu? Gimana pendapat agan dan aganwati setelah sukses membabat habis isi novel tersebut? Nah, berhubung saya juga sudah selesai membacanya, saya akan coba mereviewnya sedikit. Cekibroooot...

Novel terbitan Bentang Pustaka ini digadang-gadang akan menjadi best seller internasional, mengikuti jejak langkah Laskar Pelangi. Ini bisa dibaca pada endorsment cover depan buku.

Quote:“Ordinary People, destined to be the second international best seller for Indonesian author, Andrea Hirata, after his first one that surprised the world’s reader, The Rainbow Troops.” (Jill Simmons, New York)

Bagi sebagian orang yang mudah bosan, membaca OOB memang agak menjemukan di awalnya. Karena memang, novel ini ditulis dengan alur yang super lambat. Selooow, macam wak sellow yang jual pecel di channel si Beti.

Saran saya, baca sekali duduk saja. Jangan diputus atau disambi dengan melakukan aktivitas lainnya. Kalau tidak, agan bisa terjebak pada perasaan jenuh, karena konflik baru mulai terasa setelah membaca lebih dari separuh halaman. Berhubung kecepatan membaca saya di atas rata-rata (haha, songooong), Baru aja balikin cover, eh tau-tau udah selesai baca setengah isi buku. 😂

Sedikit tentang isi cerita

Kisah ini diawali dengan pengenalan karakter tokoh-tokoh penting yang jumlahnya sepuluh orang. Banyak banget tokohnya yak? OOB digambarkan sebagai kumpulan orang-orang dari kalangan bawah alias miskin plus bodoh.

Ada Debut, Dinah, Tohirin, Nihe, Salud, Rusip, Junilah, Honorun, Sobri dan Handai. Tak hanya miskin dan bodoh, tapi mereka juga penakut, suka saling tuduh dan lemah. Sehingga sering menjadi bahan bully-an Trio Bastardin dan Duo Boron.

Berbeda dengan Laskar Pelangi yang mengangkat Pendidikan sebagai jalan untuk merubah nasib, OOB justru kebalikannya. Mereka orang-orang miskin yang terkatung-katung di jalan nasib. Terlahir miskin dan akan mati juga dalam keadaan miskin.

Cerita mulai terasa asik setelah OOB dewasa. Dari sepuluh orang kumpulan mereka, tak ada satu pun yang bisa lepas dari jerat kemiskinan. Berbeda nasib dengan para pembully Trio Bastardin dan Duo Boron, mereka justru menjadi orang-orang yang sukses.


Sebenarnya, novel ini bercerita tentang rencana perampokan. Yang tercetus karena rasa iba akan masa depan Aini (anaknya Dinah) yang sudah mati-matian belajar hingga lulus masuk fakultas kedokteran.

Di novel ini, Pak Cik sukses menyindir pendidikan di Indonesia yang masih ekslusif bagi sebagian orang. Hanya bisa dimasuki oleh orang-orang kaya.

Memang faktanya begitu, masuk fakultas kedokteran butuh biaya yang selangit. Demi mewujudkan cita-cita anaknya, Dinah rela merendahkan diri meminjam uang dari bank ke bank, dari satu koperasi ke koperasi lainnya. Nihil.


Mana ada yang mau meminjamkan uang delapan puluh juta kepada pedagang mainan miskin seperti dirinya. Dinah pun curhat kepada Debut, si pemilik toko buku yang sepi pembeli. Dari sinilah muncul ide gila dari Debut untuk merampok bank. Ia pun mengajak para OOB untuk melancarkan aksinya.

Ada satu kalimat dari buku ini yang sangat menarik bagi saya:

Quote:-Kalau kita tertangkap, masa lalu tertangkap. Kalau seorang anak tidak sekolah, masa depan jadi musibah. Aku ikut- Nihe.

Ohya, ada tokoh Inspektur Polisi penggemar berat Shah Rukh Khan yang mengambil agak banyak porsi cerita di buku ini. Di tengah kondisi masyarakat yang mulai banyak kehilangan kepercayaan pada polisi yang bersih, Andrea Hirata sukses menggambarkan, bahwa di sana, di kota kecil Belantik sana, masih tersimpan polisi jujur yang tak bisa dibeli dengan harta. Luar biasa.

Satu hal lagi yang dikeluhkan oleh teman saya adalah lelucon-leluconnya yang garing. Mungkin ini hanya karena sense of humor beliau yang rendah. Karena faktanya, saya terpingkal-pingkal dengan bualan dan lelucon yang ditulis Pak Cik.

Kelemahan Novel

Tak ada gading yang tak retak. Saya sangat menikmati membaca novel ini. Terhanyut emosi. Kadang ikut tertawa, meringis, sedih, penasaran. Tapi, sehebat apa pun Andrea Hirata merangkai cerita, pasti ada kekurangannya.

Novel setebal lebih dari 200-an halaman ini, terlalu banyak berisi bualan-bualan tak penting, yang sebenarnya, kalau dihilangkan pun tak akan merusak bangunan cerita.

Pun terlampau banyak space yang diambil untuk puja puji buku Laskar Pelangi yang sudah diterbitkan di berbagai negara. Tiga puluh halaman, boook. Entah untuk apa.


Ditambah jalan cerita yang agak menabrak logika. Sepuluh OOB yang awalnya diceritakan sebagai kumpulan orang super bodoh itu, bagaimana bisa tiba-tiba merencanakan perubahan strategi di tengah aksi perampokan? Itu tuh gak diceritain.

Meskipun setting OOB itu di masa sekarang, ada gadget, internet, fesbuk, yang orang-orang gampang aja nyari barang kebutuhannya, semudah mencet-mencet layar hp, tapi tidak diceritakan tentang darimana Debut mendapatkan topeng-topeng monyet yang jumlahnya ribuan itu. Darimana mereka mendapatkan uang untuk membeli perlengkapan merampok tersebut? Bukannya semua tokoh-tokoh tersebut adalah orang-orang miskin, yang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya saja susah? Serasa banyak lubang hitam yang entah terlupa atau memang sengaja dibiarkan mengambang tanpa kejelasan.

Apa lagi, ya? Hmm, kebanyakan spoiler, ntar gak asik lagi bagi calon pembaca. Catatan terakhir, endingnya juga terkesan terburu-buru, pakai banget. Mestinya cerita ditutup dengan pengungkapan kasus yang seru. Itu jebakan balas dendam dan penangkapan Trio Bastardin dan Duo Boron kurang ciamik. Masa' gitu doank.

Atau ceritain donk properti apa dan milik siapa aja yang digadai demi dapetin duit 80 juta untuk Aini itu. Tapi, ini malah... Gitu deh.

Kesimpulan
Memang novel ini hanyalah kisah tentang orang-orang biasa. Tapi mereka bisa menjadi luar biasa setelah punya tujuan hidup yang jelas. Yang awalnya hidup tak bergairah karena terkungkung kemiskinan, dibiarkan mengalir seperti air yang tak jelas muaranya, jadi hidup penuh semangat dan warna warni demi tak matinya cita-cita anak teman mereka. Ini kisah tentang persahabatan orang-orang biasa, tentang kesetiakawanan, semangat rela berkorban demi kawan, motivasi untuk tetap teguh memegang cita-cita meski kemustahilan di depan mata terbentang 99,9% banyaknya, juga tentang kejujuran. Ingat juga, sepandai-pandai orang menyembunyikan kejahatan, akhirnya bakal ketahuan juga.

Intinya, novel ini sangat asik dibaca untuk hiburan setelah penat nguli seharian. Dibilang membosankan, ya gak juga. Asik pakai banget kok. Ya pokoknya jangan dibandingin sama Laskar Pelangi dkk lah. Kan ceritanya ngangkat tema yang gak sama.

Beda orang, tentu beda penilaian. Ane aja kagak bisa bikin yang model begituan. Huhuy. Ane kasih nilai 8 aja, deh. Hehe. 

Jumat, 20 September 2019

Review Film Super 30, Film Bollywood Paling Inspiratif Tahun 2019




Pagi ini, ane baru kelar nonton film Bollywood "Super 30." Sebuah film yang sangat inspiratif. Mata ane sampai berkabut, berawan mendung dan rintik-rintik hujan turun dari mata tanpa mampu ane bendung. Hiks. Bukan lebay, tapi ini karena ane benar-benar menghayati tiap potongan film yang ditampilkan.




Mungkin agan dan sista ada yang alergi dengan film hindia, ane dulu juga gitu. Karena negerinya Shah Ruk Khan ini identik dengan film-film roman picisan yang dipenuhi lagu dan tarian. Tapi sejak ane kenal film 3 Idiot, rasanya makin ke sini makin banyak film bagus yang mereka tampilkan. Untuk tema-tema pendidikan saja ada beberapa film yang sudah ane tonton: Three Idiots, Taare Zameen Par, Hindi Medium, Nil Battey Sananta, Dangal dan Hickhy dan terakhir Super 30.


Film Super 30 ini sendiri merupakan film biopic, tentang perjalanan hidup Anand Khumar, ahli matematika yang berhasil mendirikan sekolah untuk anak-anak miskin india hingga berhasil mengantarkan mereka ke sebuah kampus terkenal di India, Indian Institute of Technology (IIT).

Film biografi ini dibintangi oleh Hritik Roshan (HRo). Pasti agan dan sista generasi 90'an masih ingat dengan pemain Koi Mil Gaya ini, kan?

Kisah dibuka saat Anand Khumar mendapat penghargaan dari Menteri Pendidikan atas prestasinya sebagai matematikawan terbaik. Anand adalah pecinta matematika. Bahkan baginya, matematika lebih ia cintai dari pada kekasihnya, Ritu Rashmi.

Kecintaannya pada matematika ini mengantarkannya untuk pergi ke Varanasi, menempuh jarak 6 jam perjalanan demi mempelajari jurnal asing. Tapi sampai di sana, ia justru diusir, karena bukan siswa kampus tersebut. Agar bisa mendapat jurnal secara gratis, seorang office boy menyarankannya untuk mengirimkan artikel pemecahan matematika ke sana. Yang kemudian membuatnya mendapat undangan masuk ke Cambridge University.

Tapi sayang, bagi orang miskin, selalu saja uang menjadi kendala untuk maju. Ayah Adnan Kumar hanya seorang pegawai kantor rendahan. Meski dengan meminjam gaji pensiun, bahkan menjual barang-barang berharga miliknya, biaya untuk ke Cambridge tetap tidak mencukupi.

Hingga akhirnya, sang ayah meninggal. Adnan Khumar terpaksa mengubur cita-citanya karena harus menjadi tulang punggung keluarga, berjualan Papads. Sampai di sini, air mata ane netes-netes gak karuan nontonnya, gan. Karena teringat masa lalu. Susahnya melanjutkan pendidikan, padahal ane udah mati-matian ngejar prestasi tertinggi di sekolah. Tapi masalah biaya, bikin ane jadi bernasib sama kayak Adnan Khumar. :'(

Waktu lagi jualan Papads, Adnan Khumar ketemu dengan kakak kelasnya. Kemudian, dia diajak buat ngajar bimbel di kelas premium. Kelasnya anak-anak orang kaya yang pengen anaknya masuk IIT. Di sini tuh, hidup Adnan berubah, bisa beli ini dan itu. Dan jadi agak sombong. Sampai-sampai, dia nolak siswa yang mendaftar dan berharap dapat beasiswa.

Tapi ada satu kejadian yang buat Adnan berubah. Ada kisah Mahabrata yang dijadikan analogi nasib pendidikan orang miskin di India. Sepintar apa pun orang miskin, dia tak akan bisa jadi raja. Persis seperti Ekalaya, yang harus memotong jarinya karena lebih mahir menggunakan panah dari pada Arjuna. Ekalaya miskin, tak pantas menggeser kedudukan Arjuna si anak raja. Inilah titik balik Adnan Khumar yang terinspirasi mengumpulkan 30 anak miskin, untuk membuktikan bahwa mereka juga berhak dan pantas bersaing dengan orang kaya, untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Kalau mau diceritain, super panjang, gan. Kebanyakan spoiler, ntar gak asik nontonnya. Yang jelas, rugi kalau agan dan sista sampai gak nonton.

Sebenarnya, untuk film-film biopic, mudah saja menebak endingnya. Tapi serius, nonton film ini, semangat belajar ane jadi tercas kembali. Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari film ini. Yang intinya mengajak kita untuk tidak berhenti berjuang hingga titik penghabisan. Karena mendapat pendidikan terbaik adalah hak semua anak manusia.


Quote:
Sutradara   : Vikas Bahl

Penulis       : Sanjeev Dutta

Pemain      : Hrithik Roshan, Mrunal Thakur, Nandish Singh, Pankaj Tripathi

Rumah Produksi   : Phantom Films, Nadiadwala Grandson Entertainment, Reliance Entertainment, HRX Films

Rilis               : 12 Juli 2019

Rate               : 9 / 10

Selasa, 10 September 2019


Jumat, 15 Maret 2019

Ayah



Selalu saja rasa bosan menghinggapi setiap kali duduk satu meja bersamanya. Padahal kami begitu jarang saling buka suara. Bagiku, setiap kali mengangkat muka dan menatap wajahnya, aura mistis berembus seketika. Membuat bulu kuduk meremang. Ngeri. Jika sudah begitu, aku langsung buru-buru mengurung diri di kamar.


Beliau kupanggil Abak[1]. Pada musim hujan, yang hembusan anginnya mengilukan tulang, kudapati ia pulang dalam keadaan basah kuyup. Kenapa tidak menunggu hujan reda saja? pikirku. Aku terus mengintip dari balik jendela kamar hingga ia sampai di depan pintu.


Tok tok tok

“Yuus ... Yuuus!” Dengan suara bariton, bercampur gigil ia panggil-panggil Amak[2] yang sedang pulas tertidur dibalik selimut. Berkali-kali mengetuk pintu dan memanggil-manggil, berkali-kali pula tak ada sahutan. Suaranya hilang ditelan riuh rintik hujan.


Aku masih diam, pura-pura tidak tau kalau beliau kedinginan di luar.
Satu menit, lima belas menit, hingga satu jam, tak lagi kudengar suaranya. Aku juga tidak mendengar suara langkah kaki Amak yang buru-buru membukakan pintu untuknya. Kemana ia? kemana Abak? tiba-tiba darah mengalir kencang ke wajahku. Mukaku memerah, kecemasan menyergap seketika. Bersigegas kukejar ia ke depan, memutar kunci dengan terburu-buru, dan ... petirpun menyambar.


DUARRR!!!

Menyambar hatiku. Menyisakan luka bakar yang takkan pernah hilang.


“Kurang aja kalian ko sadonyo. Sa-jam aden manunggu basah-basah dilua, ndak kalian bukak-bukak pintu. Ndak tau diuntuang!" cecarnya murka, "Aden bukannyo pulang dari pai main, aden baliak mancari makan kalian! Ndak bautak! Seeeetan!”[3]


Dadaku gemuruh, jari mengepal. Tidak punya otak katanya? Harusnya tadi kubiarkan saja ia mati kedinginan sekalian di luar.


Bertahun-tahun aku memendam geram berharap ada celah dimana lisannya bertutur lebih lembut kepadaku, hari ini buyar! Tak pernah ada ucapan terima kasih darinya atas apapun yang kulakukan untuknya. Tak ada. Sepertinya kosa kata yang tersimpan di otaknya hanya caci maki.


Diterobosnya badanku yang tengah berdiri mematung di depan pintu. Bahunya yang kekar beradu dengan bahuku yang tinggal tulang. Sakit. Hujan di luar mulai reda. Rintiknya berpindah ke mataku.
*****


Satu hal yang tak kusuka dari kota ini adalah suhu panasnya. Jika sudah musim panas begini, suhu bisa meningkat hingga ke titik 35 derjat celcius. Membuat otakku mendidih. Ubun-ubun serasa mau pecah. Meringkuk bersama kipas angin ditemani segelas es teh di kamar tentu lebih nikmat.


Sialnya, siang ini aku malah terjebak tepat di bawah serbuan sinaran bola api yang membuat kulitku seakan terbakar. Aku menggerutu sepanjang jalan.


“Kenapa sih saban hari harus selalu aku yang bertugas mengantar nasi untuknya? Huh!”


Aku mempercepat langkah agar segera sampai. Keringat sebesar biji jagung mulai bercucuran di dahi dan punggung. Demi mengantar makan siang untuknya, aku rela berjalan kaki sejauh 2 kilometer, bahkan kadang lebih jika ia berpindah lokasi kerja di tempat yang lebih jauh. Harusnya melihat perjuanganku yang seberat ini, ia berhenti memarahiku.


Dari jauh aku melihatnya berdiri di sisi kubah masjid yang belum sempurna terpasang. Begitu kecil. Begitu tinggi. Ia berdiri di ketinggian lima belas meter tanpa alat pengaman. Aku merasa gamang. Bagaimana jika ia tiba-tiba jatuh? Lalu tulang-tulangnya remuk atau bahkan meninggal?


Meninggal? Mengingat kata-kata itu otak jahatku kembali bekerja. bukankah lebih baik jika ia meninggal? Aku tidak akan mendengar lagi caci maki darinya. Tidak masalah jika harus menjadi yatim. Toh, aku bisa mengurusi diriku sendiri tanpa dia.


Berbilang menit, aku sampai tepat di depan masjid yang sedang diperbaikinya. Kupanggil ia dari bawah.


“Oooo, Baaak! Ko nasi ha. Wak pulang lai yoooo!” [4] teriakku. Ia melongok ke bawah. “Yooooo”[5] balasnya.


Heh?! cuma “yo”? kau lihatkan? Ia sama sekali tidak pernah berterima kasih atas jerihku. Aku bergegas pulang. Untuk apa berlama-lama bersamanya?
****


Aku tak mengerti bagaimana cinta dan rindu itu bekerja. Lewat nasehat seorang kawan, aku putuskan untuk menjaga jarak dalam arti yang sebenarnya dengan beliau, dengan Abak.


Aku memilih mengadu peruntungan pada rentang jarak beribu-ribu kilo jauhnya dari kotaku semata hanya untuk memancing rasa cinta dan rindu kepada Abak muncul. Bertahun-tahun. Tapi yang ada kasihku pada Abak kian hambar. Ia bagai tak ada dalam galaksi hidupku.


Setiap kali menelepon ke rumah, lidahku terlampau berat untuk sekedar bertanya tentang kabarnya. Rupanya benci itu telah menjadi karat dihatiku. Mengendalikan tali kemudi perasaanku agar terus berjalan pada rasa muak ketika mengingat wajahnya.


“Seberapa besar kesalahan yang telah diperbuat Abakmu kepadamu sepanjang yang kau ingat?” Di bawah temaram senja, seorang teman mengajukan tanya demi tanya yang mengusikku.


“Hmmm…” Aku berusaha mengingat-ingat. Lewat mesin teleportase yang ada di hati dan pikiranku, aku berjalan-jalan mengunjungi masa lalu. Masa ketika emosi begitu angkuh mengendarai perasaan, melibas apa saja yang bertentangan denganku. Memusuhi siapa saja yang menyinggung perasaanku. Termasuk Abak. Musuh abadi sepanjang waktu.


Ia yang teramat jarang berkata-kata, tapi ketika murka, semua penduduk kebun binatang berhamburan keluar dari lisannya. Sekali itu saja. Setelah reda, ia akan kembali seperti sedia kala, seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Dan aku, meski tau tabiatnya, diam-diam menyemai dendam kepadanya. Sebaik apapun perlakuannya, sebenar apapun posisinya ketika berhadapan denganku, ia tetap salah dalam pandanganku. Selamanya salah.


Ingatanku menerawang pada musim hujan yang menggentarkan persendian abak, yang kubiarkan kuyup diserbu hujan diluar selama berjam-jam, dulu.


Berjalan kaki ia tempuh perjalanan pulangnya yang sejauh 3 kilometer. Rela menerobos hujan agar segera sampai di rumah hanya karna satu hal; ia takut beberapa bungkus mi ayam yang ada ditangannya sampai di rumah dalam keadaan dingin, mengembang dan kehilangan rasa.


Lalu aku? Tanpa rasa berdosa menghancurkan kebahagiaan yang ada ditangannya. Wajar jika ia marah. Aku yang memancingnya, aku pula yang membencinya.


Aku selalu berada pada posisi sebagai parafin ketika Amak protes pada sikap abak yang tak senang dihatinya. Aku menyiram minyak, lalu menyulut api, mengompor-ngompori agar Amak menaruh benci pada Abak.


Dulu, aku selalu berharap agar ia tidak ada. Ketika ia telat pulang, aku selalu berharap agar ia jatuh dari tempatnya bekerja atau bahkan ditabrak fuso saat diperjalanan pulang. Menanti sepenuh debar agar yang pulang adalah mayatnya.


Ya Rabb… separah itukah kebencianku padanya? Betapa ketidaksempurnaan tuturnya telah menyulut dendam dihatiku. Segala kenangan tentangnya saling berlompatan tak mau menunggu. Tentang ia yang rela berlapar-lapar hanya supaya aku bisa kenyang.


Tentang ia yang tak pernah mengganti tas kerjanya bertahun-tahun, sedang aku bisa ganti tas berkali-kali dalam satu semester. Ia rela berkali-kali jatuh dari tempat kerja yang seringkali membuatnya pulang dalam keadaan luka, sementara di lain waktu aku selalu merasa malu menjawab bahwa Abakku adalah seorang kuli bangunan ketika orang-orang nyinyir bertanya. Sekalipun seumur hidupku, tak pernah ia memukuliku. Lalu apa kesalahan terbesarnya padaku?


Aku selalu alpa mencari kesalahanku karna terlalu sibuk membangun ruang benci untuknya dihatiku. Aku berusaha menjauh darinya dengan alasan bisa mencintainya. Tapi itu hanya alasan. Yang ada selama ini aku berusaha lari agar kelak ia tak menjadi beban bagiku di masa tuanya.


Posisi Amak memang 3 kali lebih mulia dibanding Abak. Tapi itu bukan alasan bagiku untuk meletakkan kepala abak dibawah telapak kakiku. Jika berkata ‘ah’ kepadanya saja sudah mengundang murka Allah kepadaku, maka jahannamlah bagiku yang pernah mendo’akan kematian baginya.


Air mata merembes jatuh perlahan. Makin lama makin deras. Tangisku pecah atas segala kedurhakaan yang pernah kuperbuat pada Abak. Temanku menepuk-nepuk pundakku. Satu pertanyaan saja sudah mampu meluruhkan kebencianku.


Ufuk senja kian menghilang, tiba-tiba rindu terbit dihatiku. Segala pintu terbuka. Aku baru memulai ketika orang-orang sudah purna pengabdiannya terhadap ayah bundanya. Kuraih telepon genggamku, memencet tuts-tuts yang akan membawaku pada suara Abak. Nuuun, diseberang sana, kudapati Abak sedang menangis rindu menanti kepulanganku. Lelaki setengah purnama itu, akan kucintai ia hingga purnamanya bulat sempurna. []

Translate :

[1]Bapak
[2]Ibu
[3] “Kurang Ajar kalian semua. Satu jam aku menunggu basah-basah diluar, tak sekalipun kalian membukakan pintu. Tidak tahu diri kalian! Aku bukannya pulang dari pergi bermain, aku pulang dari mencari makan untuk kalian! G punya otak kalian! Setan!”
[4] “Oh, Pak.. ini nasinya. Aku pulang yaaa!”
[5] “Iyaaaa..”

Minggu, 10 Februari 2019

Dongeng Kota Buku


Dulu ayahku pernah bercerita. Saat masih muda, ia pernah tersesat di sebuah kota yang asing. Ia lupa tepatnya dimana. Tapi segala kenangan tentang kota itu begitu lekat di ingatannya.

Rancang bangunannya serupa buku yang terbuka. Semua sama, seperti itu. Bahkan pepohonan berbuah buku. Lebat. Hebat. Kau boleh percaya atau pun tidak. Sebab aku pun kini ragu. Telah satu dasawarsa berkelana mencarinya ke penjuru dunia, tapi tak juga kutemukan.
***

Ia mencintai ilmu. Maka sehari pun tak pernah kulihat ayah lepas dari buku. Kemanapun melangkah, didekapnya buku di dada. Saat jeda dari aktivitas kerja, dibukanya beberapa lembar buku hingga kadang terlewat waktu makan. Aku takjub. Sekaligus heran. Kenapa rasa yang sama tak mengalir dalam darahku? Kenapa aku tak bisa mencintai buku-buku sebagaimana ia?

"Ayah, adakah obat mujarab agar aku bisa seperti Ayah? Begitu lezat melahap beragam buku?" Pertanyaan yang berulang kali kuajukan. Saat itu ayah tengah asyik menceritakan semaraknya pustaka-pustaka di masa daulah Andalusia.

Jujur saja, aku mudah bosan. Apalagi melihat rangkaian kata-kata yang seakan bergerak sendiri, berputar-putar di mata. Menghadirkan kantuk. Terlebih, daya tangkapku untuk memahami bacaan terlalu lemah. Butuh waktu lama hanya untuk menuntaskan beberapa halaman.

Ia menutup buku yang tengah dibacakannya untukku.

"Ayah pernah bercerita tentang Ibnu Sina. Masih ingatkah Karkhi tentang beliau?"

Aku berusaha memanggil segala ingatan, mencari tau siapa gerangan yang ayah maksud.

"Hmmm, Raja dirajanya ilmu kedokteran bukan, yah?" jawabku memastikan.

"Betul," ayah tersenyum lebar.

"Bahkan sekelas Ibnu Sina, tak cukup membaca buku hanya sekali agar paham," lanjutnya.

Ayah selalu begitu, menjawab tanyaku dengan bercerita tentang siapa dan apa saja yang bisa menginspirasiku.

Aku ingat kisah Ibnu Sina. Ia memiliki semangat mencintai ilmu yang luar biasa.  Yang bersemangat membaca berulang-ulang "Metaphysics of Aristotle" sampai 40 kali karena kesulitan memahami isinya. Aku tak bisa begitu, bisa membaca satu buku sampai tuntas, itu sudah menjadi pencapaian yang luar biasa untukku.
***

Suatu petang, saat butiran hujan luruh ke bumi, ayah pulang dengan kuyup. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya. Sebuah lukisan, indah. Ayah memajangnya di pustaka kecil kami. Menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Seperti seseorang yang merindu pulang ke kampung halaman. Lalu, dimulailah dongeng tentang kota buku itu.

Ibu bilang, cerita ayah tak masuk akal. Tapi aku terlanjur hanyut dalam pusaran dongeng ayah. Hingga dewasa, rasa penasaran terus menggedor-gedor isi kepalaku. Benarkah kota itu nyata? Bukankah Ayah pernah mengunjunginya? Maka ianya pasti ada. Pohon berbuah buku, kendaraan, lampu yang menerangi jalanan dan ragam benda lainnya berbentuk buku.

Hilir mudik orang-orang menenteng buku. Di sana, di bawah pohon rindang, ditingkahi angin sepoi para murid berkumpul. Duduk melingkar bersama seorang guru. Menanti cucuran ilmu mengalir dari lisannya.

Rumah-rumah di bangun seumpama buku yang terbuka. Bahkan kau bisa membolak balik lembarannya.

Aku ingin membuktikannya. Tak ingin gila dikejar rasa penasaran, kukumpulkan seluruh tabungan untuk bertualang. Ayah memelukku lama saat berpamitan. Menetes air matanya penuh keharuan. Ibu melepas dengan berat hati. Berhari-hari berdebat, akhirnya luluh juga.

"Kalau begitu, jangan pernah pulang sampai kau menemukannya," bisik ibu saat memelukku.

***
Satu dasawarsa telah terlewati, dan aku masih berpetualang sendiri mencari yang tak pasti. Banyak negeri yang disinggahi. Banyak orang yang telah aku temui.

Mungkir benar kata Ibu, cerita tentang kota buku itu tak masuk akal. Bisa jadi ini cara ayah mengirimku belajar tentang kehidupan langsung di lapangan.

Sering tersasar, kehabisan uang, tak punya tempat berteduh. Semua ini membentukku jadi terbiasa menghadapi kesulitan.

Berbagai masalah datang dan pergi, dan aku dipaksa untuk berpikir cepat mengatasinya sendiri. Benar-benar sendiri. Tanpa bantuan ayah.

Banyak negeri telah aku jelajahi. Beragam tempat kusinggahi. Bermacam tipe manusia kutemui. Menemukan teman tempat bertukar pikiran. Terbuka menerima perbedaan tapi harus tetap bertahan dengan prinsip yang kupegang. Aku dibesarkan oleh pengalaman.

Tentang kota buku itu, bukankah benar bahwa segala benda yang mempermudah aktifitas manusia, sejatinya berasal dari buku. Yang di dalamnya terdapat beragam pengetahuan yang mengajarkan manusia untuk menciptakan banyak hal. Aku yakin, kota buku yang ayah maksud hanyalah sebuah gambaran, betapa tanpa adanya buku dan pengetahuan, manusia kesulitan merumuskan ragam penemuan.

Kurasa ini saat yang tepat untuk menghentikan petualangan. Aku rindu pulang. Kukemasi segala perlengkapan yang kupunya. Menarik nafas dalam-dalam, berusaha meyakinkan diri bahwa sudah saatnya aku berhenti. Aku telah menemukan kebijaksanaan hidup, bukankah inilah bagian penting dari perjalanan yang kulakukan?

Kutarik nafas sekali lagi sembari memejamkan mata. Samar-samar terdengar seseorang berteriak memanggilku dari kejauhan.

"Kharki! Aku menemukannya! Kota buku itu ada! Benar-benar ada! Ia nyata! Aku menemukannya!" []

Jumat, 25 Januari 2019

Meneladani Rasulullah Melayani Umat


“Idzaa aradta an tas’ada fa asidil akharin”, jika engkau ingin meraih bahagia, maka bahagiakanlah orang lain.


Di tengah menjangkitnya budaya individualis dalam masyarakat, selalu akan muncul tunas-tunas baru yang berusaha peduli dan merangkul sesama. Istiqomah menebar butir-butir kebaikan, ikhlas dan tulus berbagi serta melayani sepenuh hati.


Terkadang logika rasanya tak sampai untuk memahami. Atas dasar apa orang-orang terus bersemangat berkorban demi kepentingan orang lain? Menjadikan kepentingan umat lebih utama dari kebutuhan dirinya sendiri.


Meneladani Rasulullah Melayani Umat
Rasulullah dan para sahabat telah memberikan teladan terbaiknya dalam melayani umat. Inilah hari-hari menjelang perang Khandaq. Seperti yang diriwayatkan Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu.


Saat itu kota madinah dikepung musim dingin yang menggigilkan tulang. Sementara di luar, mereka harus menggali parit sepanjang 5 kilometer untuk menghadapi pasukan Quraisy yang akan datang. Persediaan makan menipis, hingga yang tersisa hanya minyak dan sedikit tepung yang lengket di tangan mereka. Rasa lapar mendera dan begitu menyiksa. Bahkan pernah selama 3 hari pasukan kaum muslim tidak makan sama sekali. Terlebih rasulullah, beliau sampai melilitkan batu di sekeliling perutnya untuk menahan rasa lapar. Turut bekerja menggali parit, merasakan lapar yang sama sebagaimana para sahabat.


Jabir bin Abdillah merasa tak tega dengan kondisi rasulullah. Ia lalu pulang ke rumah menemui istrinya. “Demi Allah, adakah sesuatu yang bisa untuk dimasak, istriku?” tanyanya, “aku tak sampai hati melihat rasulullah tersiksa menahan lapar,’ sambungnya.


Hanya ada seekor kambing dan segenggam tepung kasar di rumahnya saat itu. Lalu Jabir meminta istrinya untuk mengadon tepung menjadi roti. Sementara Jabir bertugas menyembelih dan menguliti kambing satu-satunya. Setelah masakan matang, Ia lalu mendatangi rasulullah dan mengundang beliau makan ke rumahnya. Rasulullah menyambut dengan senang. Sekalipun, tak pernah beliau meletakan kepentingannya di atas kepentingan umat.


Beliau Lantas mengumumkan pada semua pasukan kaum muslim, “Jabir mengundang kita makan di rumahnya, semuanya datanglah untuk makan bersama.”


Jabir kaget dan kelimpungan. Bagaimana mungkin seekor kambing dan segenggam roti bisa mencukupi perut prajurit kaum muslimin yang tengah kelaparan? Rasulullah yang menangkap kepanikan Jabir hanya tersenyum. Beliau menepuk pundaknya dan menggamit lengannya untuk berangkat bersama.


Lalu para prajurit diinstruksikan untuk masuk berombongan dan tidak berdesakan saat mengambil bagian. Rasulullah berdo’a dan memohon berkah kepada Allah atas hidangan yang disediakan pasangan suami istri itu. Beliau sendiri yang melayani. Mengambilkan roti dan menyendokan masakan daging kambing untuk mereka.


Setelah memastikan keluarga Jabir dan semua prajurit yang jumlahnya sekitar 300 orang itu makan dengan kenyang, lah rasulullah mengambil untuk dirinya sendiri. Makan dengan penuh kesyukuran dan mendo’akan kebaikan kepada Jabir dan istri. Selalu begitu. Beliau memberi teladan lewat laku dan perbuatannya. Mendahulukan umatnya dan melayani dengan sepenuh hati.


Istiqomah dalam Melayani

Hari ini, di tengah kemerosotan ekonomi, jangan sampai kemerosotan empati menghuni hati. Umat butuh uluran tangan. Meski dengan pelayanan terkecil sekalipun, semua tak akan sia-sia. Meski kadang kita bertanya “Bagaimana mungkin bisa memberi pelayanan pada umat, sementara melayani diri sendiri hingga tuntas belumlah mampu.”


Sering logika soal batas kemampuan menghambat diri dalam melakukan pengorbanan. Padahal Allah telah berjanji pada siapapun yang berniat melakukan kebaikan atas dasar ketaatan, akan dicukupkan kemampuannya untuk itu.


Tetap istiqomah melayani umat dalam kondisi sulit tentu teramat berat. Tapi ibarat ikan yang berada di tengah sungai yang aliran air dan arusnya begitu kuat, ikan yang tetap bergerak melawan arus akan menjadi kuat karena terbiasa melawan arus. Seperti itulah orang-orang yang mengazzamkan dirinya dalam melayani umat.


Keterbatasan kemampuan, godaan-godaan duniawi yang memaksa untuk berhenti, justru membuatnya semakin kuat melawan godaan. Tetap kokoh berdiri meski tak pernah diberi penghargaan ataupun puja dan puji. Karena memang bukan itu yang dicari. Semua semata karena berharap ridho dari Allah.


Sebagaimana keteladan yang dicontohkan Ali bin Husain. Bercerita Muhammad biin Ishaq, “Pada suatu masa, penduduk Madinah biasa menerima kiriman makanan yang cukup. Namun mereka tidak tahu sumber makanan itu. Ketika Ali bin Husein meninggal, bantuan makanan itupun terhenti. Ternyata, Ali bin Husain yang selama ini membawanya pada malam hari.


Maka, bertuturlah Amr bin Tsabit, “Ketika Ali bin Husain meninggal, mereka mendapati bekas dipunggungnya karena memikul karung pada malam hari ke rumah-rumah para janda.”
Begitulah Nabi dan para sahabat memberi teladan dalam melayani, terus istiqomah meski dalam sunyi. Bahagia saat kebutuhan saudaranya terpenuhi. Tak berhenti saat pujian tak kunjung diberi.


“Seorang mukmin jasadnya tercipta dari tanah, tapi ruhnya bergantung pada petunjuk dari langit. Bersahabt dan berteman dengan seorang mukmin, duduk di dekatnya dan berinteraksi dengannya memberi manfaat. Ia kokoh kala diterpa topan kesulitan, selalu memberi buahnya kepada manusia yang lain. Hatinya, amal-amalnya, perkataannya, tasbihnya, menjulang tinggi di langit dan menurunkan barakah keimanan dan pahalanya setiap saat.” (Musafir fi Qithari Da’wah,370)


Maka, jadilah kita seperti pohon yang terus menebar manfaat. Tetap istiqomah melayani umat, meski diterpa topan kesulitan. Karena jelas, yang kita tuju hanya satu: Ridha Allah swt semata.{}