Rabu, 19 Maret 2014

Tungga Babeleang



Tungga Babeleang
Rahimmu tertakdir hanya sebatas aku
Berpeluh menggeluti maut dalam siksanya silsilah kelahiran
Mestikah kususuri belantara masa tanpa pohon kekerabatan?
Merindui nasab yang kau pupus pada hembus nafas terakhirmu
Kau biarkan aku tergugu dalam sunyinya hari-hari tak bertuan
Mengeja alif ba ta sa bersama sebongkah kegelisahan
Nanap..
Jika bisa, ingin ku bunuh saja malam
Sebab tiba-tiba kesendirian menjelma tikaman pisau paling mematikan