408
Purnama. Ibu Lingga makin resah menyaksikan anak perempuan pertamanya yang tak
kunjung dilamar orang. Tadi malam, usia Lingga tepat memasuki angka ke-34
tahun. Kasak kusuk gunjingan tetangga yang menjuluki anaknya perawan tua semakin
menggelisahkan hati dan pikiran ibu Lingga. Sebagai ibu, tentu ia juga ingin
melihat anaknya bisa tersenyum bahagia duduk di kursi pelaminan dan mempunyai
keluarga yang bahagia. Entah apa yang salah pada Lingga, sudah tak terhitung
berapa jumlah pria yang ibu kenalkan padanya, tapi semuanya berujung pada
kegagalan. Padahal tiga orang adiknya sudah lama mendahuluinya, bahkan si
bungsu sudah memiliki 2 orang anak yang lucu dan menggemaskan.
“Jangan-jangan,
si Lingga kena Santuang Palalai , Ni?” di suatu malam menjelang
pernikahan adik kedua Lingga, Mak Adang, adik laki-laki tertua Ibu Lingga
datang mengangetkannya dengan sangkaan yang mengerikan itu.
“Cobalah uni
perhatikan, sudah berapa banyak anak bujang orang yang datang kemari, tapi tak
satupun yang jadi. Berapa kali pulak kita turutkan kehendak dia datang
melamar orang yang dia suka, tapi semua di tolak. Cocoklah tu dengan
ciri-ciri orang kena Santuang Palalai. Orang ingin, dia tak mau. Giliran
dia mau, orang yang tak ingin”
☻☻☻
Sore ini hujan turun deras. Ibu terkantuk-kantuk duduk di depan jendela
sambil mendekap kantong plastik hitam yang akan beliau bawa ke orang pintar
kenalan Mak Adang. Ketika Lingga pulang, pintu depan tidak terkunci. Ia masuk
perlahan setelah mengucapkan salam yang tertelan riuhnya suara hujan.
Ditatapnya ibu yang tertidur sambil duduk berselonjor. Lingga mendekat,
berusaha membangunkan ibu agar pindah dan tidur di kamar. Belum lagi ia sempat
meluncurkan kata-kata, mata sipitnya membesar penuh keheranan melihat barang
yang di dekap ibunya. Ia penasaran. Tidak biasanya ibu tidur sambil mendekap
sesuatu. Dilepaskannya dengan pelan kantong plastik itu dari dekapan ibu. Ia
membukanya dengan hati-hati agar suara kresek-kresek dari kantong itu tidak
membangunkan ibu.
Satu persatu Lingga mengeluarkan isi kantong plastik, kemudian menyusunnya
di lantai. Ada jeruk purut, tujuh bungkus air, berbagai macam bunga-bungaan dan
beberapa benda lagi yang tak ia ketahui namanya. Lingga semakin penasaran, apa
yang ingin dilakukan ibunya dengan benda-benda ini. Ia berusaha membangun
imajinasi. Belum purna menyelesaikan imajinasinya, ibu terbangun kaget. Beliau
sontak merebut benda-benda aneh yang kini ada di hadapan Lingga.
“Buat
apa ini, Mai?” Ibu yang dipanggil Amai oleh Lingga menggigil
ditanyai begitu. Ini rahasia antara Ibu dengan Mak Adang saja. Tak ada seorang
pun yang boleh tau apa yang akan ibu lakukan dengan benda-benda itu.
“Eh,
anu.. apa itu, eh...” Ibu berusaha menjelaskan. Tapi tampaknya Ibu tak mampu
menguasai ketakutannya sehingga tak jelas lagi hendak berkata apa pada anaknya.
“Untuk
apa, Mai?” Lingga mengulangi pertanyaan. Ibu semakin bingung. Habis
sudah. Jika Lingga tahu untuk apa benda-benda ini beliau kumpulkan, mimpi-mimpi
agar Lingga bisa berkeluarga akan hancur lebur.
“Mai?
Amai tak main dukun, kan?” Bagai tersengat aliran listrik, aliran darah
Ibu Lingga terhenti. Mukanya pucat pasi. Sekali ketauan, esok tak mungkin lagi
ada jalan.
☻☻☻
Lingga
murka. Kali ini benar-benar murka. Ia memang 34 tahun sekarang. Bukan Cuma Ibu yang
resah memikirkan keadaannya yang tak kunjung menikah. Bahkan ia berlebih-lebih.
Bukan juga ia tidak berusaha untuk mengakhiri masa lajangnya ini. Tak terhitung
berapa banyak teman yang ia todong untuk membantunya mencarikan calon
pendamping. Tak terhitung juga berapa banyak jumlah lelaki yang berusaha
dijodohkan ibu dan keluarganya dengan Lingga. Tapi, semua berujung sama. Gagal
Lingga
bukan seorang yang pemilih. Tak begitu penting baginya kriteria-kriteria yang
fisik atau materi yang orientasinya dunia belaka. Asal jelas akidahnya, sholeh
dan memiliki visi dan misi yang sama dengannya dalam membina mahligai rumah
tangga, pasti akan ia terima. Ia sudah berusaha, nyatanya jika dalam penjajakan
yang ia lakoni selama ini belum bertemu kecocokan satu sama lain, ia bisa apa?
Apa
yang ibu akan lakukan sore ini benar-benar keterlaluan bagi Lingga. Benda-benda
yang dikumpulkan ibu tadi ternyata untuk dibawa ke dukun. ibu termakan asutan
Mak Adang bahwa Lingga benar-benar terkena Santuang Palalai, semacam
santet di daerah Sumatera Barat yang dikirim seseorang agar orang lain tidak
bisa menikah seumur hidupnya. 7 bungkus air yang dibungkus ibu ternyata adalah air yang diambil dari tujuh
sumur yang berbeda. Entah kapan ibu mengambilnya.
Jeruk purut yang melihatnya menerbitkan ngeri di hati Lingga pun tak jelas
kegunaannya untuk apa, juga bunga-bunga beraneka warna tersebut. Berdasarkan
penjelasan Amai, benda-benda tadi akan dicampurkan jadi satu dan setelah
dimantrai oleh si dukun, harus dipakai mandi oleh Lingga untuk membuang segala
kesialan dan santet Santuang Palalai tadi. Wayyooik yeh. Hebat
sekali itu dukun.
“Bu,
emangnya jodoh itu ada di tangan dukun?”
☻☻☻
Kasak-kusuk
tetangga, desakan-desakan orangtua dan keluarga, kadang membuat Lingga pusing
tujuh keliling. Dikuat-kuatkannya juga hatinya dengan satu pepatah pamungkas
ini “Alah, Asam di gunung, garam di laut, dalam belanga bertemu juga”. Lingga
yakin seyakin-yakinnya, jika Allah memang belum berkehendak mempertemukannya
dengan laki-laki yang -namanya tertuils di lauhul mahfuz- akan menjadi imam
bagi Lingga, sekeras apapun usaha Lingga saat ini, maka tak juga akan bertemu. Toh,
yang mengalami nasib seperti Lingga bukan Cuma ia sendiri. Masih banyak
perempuan-perempuan lain yang bernasib sama sepertinya. Toh, pada akhirnya
banyak juga dari mereka yang menikah meski di usia yang tak lagi muda. Ada yang
berjodoh dengan duda beranak banyak, ada yang menjadi istri kedua, tapi jarang
sekali yang bertemu dengan bujang lapuk pula.
“Ha,
kini ko apo nio Lingga? Diubekan pun ndak nio, kalau bantuak itu taruih, ndak
ka baralek-baralek Lingga nampaknyo ko doh. Lai namuah jadi perawan tuo, hah?” Ibu
mengadu pada Mak Adang rupanya. Tengah malam, ditingkahi suara hujan, Mak Adang
datang memarahi Lingga. “Sekarang apa mau Lingga? Tidak mau diobati, kalau
begini terus, Lingga gak akan pernah nikah-nikah”.
“Lingga kan ndak sakik
doh, Mak” jawab Lingga lirih. Lingga kan gak sakit, Mak. Mak Adang
membelalakan matanya, Lingga ciut.
“Kalau tak mau ke dukun,
kita undang orang-orang ke rumah untuk do’a selamatan. Sudah abis segala cara.
Resah kami melihat Lingga yang makin hari makin tua. Makin bertambah umur,
makin tak mau orang melamar Lingga. Anak gadis orang banyak yang muda dan
cantik-cantik. Jangankan datang, melihat ke Lingga pun anak bujang orang tak
hendak”
Lingga tertunduk lesu.
“Lingga tak mau, Mak......” ucapnya dalam hati.
☻☻☻
492
purnama. Empat puluh satu usia Lingga saat ini. Dipandangnya lagi foto berikut
proposal berisi biodata seorang pria yang dikirim temannya minggu lalu. Duda 3
orang anak. Usianya lebih tua 5 tahun dari Lingga. Bukan orang jauh. Mantan
suami kawan dekat Lingga yang berpulang ke rahmatulllah 3 tahun lalu. Segala
hal tentang laki-laki itu, Lingga tahu. Sebab dulu sering bergaul, anak-anaknya
pun begitu dekat dengan Lingga. Akhirnya setelah istikharah berkali-berkali,
hati Lingga semakin mantap untuk memutuskan. Dikirimnya sebuah pesan pendek
pada teman yang menjembatani perjodohannya kali ini “Assalamu’alaykum, ma’af
kak, Lingga belum bisa”.
Ia
menolak bukan karena tak mau bersuamikan duda, tapi ia tau bagaimana
kepribadian laki-laki tersebut. Meski usianya semakin menua, menjadikan agama
sebagai prioritas utama tetap takkan ia geser posisinya hanya karna takut
dilabeli predikat perawan tua atau terkena kutukan Santuang Palalai.
Tiba-tiba dadanya terasa lapang, lapang sekali.