Minggu, 30 Agustus 2015

Santuang Palalai



408 Purnama. Ibu Lingga makin resah menyaksikan anak perempuan pertamanya yang tak kunjung dilamar orang. Tadi malam, usia Lingga tepat memasuki angka ke-34 tahun. Kasak kusuk gunjingan tetangga yang menjuluki anaknya perawan tua semakin menggelisahkan hati dan pikiran ibu Lingga. Sebagai ibu, tentu ia juga ingin melihat anaknya bisa tersenyum bahagia duduk di kursi pelaminan dan mempunyai keluarga yang bahagia. Entah apa yang salah pada Lingga, sudah tak terhitung berapa jumlah pria yang ibu kenalkan padanya, tapi semuanya berujung pada kegagalan. Padahal tiga orang adiknya sudah lama mendahuluinya, bahkan si bungsu sudah memiliki 2 orang anak yang lucu dan menggemaskan.
“Jangan-jangan, si Lingga kena Santuang Palalai , Ni?” di suatu malam menjelang pernikahan adik kedua Lingga, Mak Adang, adik laki-laki tertua Ibu Lingga datang mengangetkannya dengan sangkaan yang mengerikan itu.
“Cobalah uni perhatikan, sudah berapa banyak anak bujang orang yang datang kemari, tapi tak satupun yang jadi. Berapa kali pulak kita turutkan kehendak dia datang melamar orang yang dia suka, tapi semua di tolak. Cocoklah tu dengan ciri-ciri orang kena Santuang Palalai. Orang ingin, dia tak mau. Giliran dia mau, orang yang tak ingin”
☻☻☻
Sore ini hujan turun deras. Ibu terkantuk-kantuk duduk di depan jendela sambil mendekap kantong plastik hitam yang akan beliau bawa ke orang pintar kenalan Mak Adang. Ketika Lingga pulang, pintu depan tidak terkunci. Ia masuk perlahan setelah mengucapkan salam yang tertelan riuhnya suara hujan. Ditatapnya ibu yang tertidur sambil duduk berselonjor. Lingga mendekat, berusaha membangunkan ibu agar pindah dan tidur di kamar. Belum lagi ia sempat meluncurkan kata-kata, mata sipitnya membesar penuh keheranan melihat barang yang di dekap ibunya. Ia penasaran. Tidak biasanya ibu tidur sambil mendekap sesuatu. Dilepaskannya dengan pelan kantong plastik itu dari dekapan ibu. Ia membukanya dengan hati-hati agar suara kresek-kresek dari kantong itu tidak membangunkan ibu.
Satu persatu Lingga mengeluarkan isi kantong plastik, kemudian menyusunnya di lantai. Ada jeruk purut, tujuh bungkus air, berbagai macam bunga-bungaan dan beberapa benda lagi yang tak ia ketahui namanya. Lingga semakin penasaran, apa yang ingin dilakukan ibunya dengan benda-benda ini. Ia berusaha membangun imajinasi. Belum purna menyelesaikan imajinasinya, ibu terbangun kaget. Beliau sontak merebut benda-benda aneh yang kini ada di hadapan Lingga.
“Buat apa ini, Mai?” Ibu yang dipanggil Amai oleh Lingga menggigil ditanyai begitu. Ini rahasia antara Ibu dengan Mak Adang saja. Tak ada seorang pun yang boleh tau apa yang akan ibu lakukan dengan benda-benda itu.
“Eh, anu.. apa itu, eh...” Ibu berusaha menjelaskan. Tapi tampaknya Ibu tak mampu menguasai ketakutannya sehingga tak jelas lagi hendak berkata apa pada anaknya.
“Untuk apa, Mai?” Lingga mengulangi pertanyaan. Ibu semakin bingung. Habis sudah. Jika Lingga tahu untuk apa benda-benda ini beliau kumpulkan, mimpi-mimpi agar Lingga bisa berkeluarga akan hancur lebur.
Mai? Amai tak main dukun, kan?” Bagai tersengat aliran listrik, aliran darah Ibu Lingga terhenti. Mukanya pucat pasi. Sekali ketauan, esok tak mungkin lagi ada jalan.
☻☻☻
Lingga murka. Kali ini benar-benar murka. Ia memang 34 tahun sekarang. Bukan Cuma Ibu yang resah memikirkan keadaannya yang tak kunjung menikah. Bahkan ia berlebih-lebih. Bukan juga ia tidak berusaha untuk mengakhiri masa lajangnya ini. Tak terhitung berapa banyak teman yang ia todong untuk membantunya mencarikan calon pendamping. Tak terhitung juga berapa banyak jumlah lelaki yang berusaha dijodohkan ibu dan keluarganya dengan Lingga. Tapi, semua berujung sama. Gagal
Lingga bukan seorang yang pemilih. Tak begitu penting baginya kriteria-kriteria yang fisik atau materi yang orientasinya dunia belaka. Asal jelas akidahnya, sholeh dan memiliki visi dan misi yang sama dengannya dalam membina mahligai rumah tangga, pasti akan ia terima. Ia sudah berusaha, nyatanya jika dalam penjajakan yang ia lakoni selama ini belum bertemu kecocokan satu sama lain, ia bisa apa?
Apa yang ibu akan lakukan sore ini benar-benar keterlaluan bagi Lingga. Benda-benda yang dikumpulkan ibu tadi ternyata untuk dibawa ke dukun. ibu termakan asutan Mak Adang bahwa Lingga benar-benar terkena Santuang Palalai, semacam santet di daerah Sumatera Barat yang dikirim seseorang agar orang lain tidak bisa menikah seumur hidupnya. 7 bungkus air yang dibungkus ibu  ternyata adalah air yang diambil dari tujuh sumur yang berbeda. Entah kapan ibu  mengambilnya. Jeruk purut yang melihatnya menerbitkan ngeri di hati Lingga pun tak jelas kegunaannya untuk apa, juga bunga-bunga beraneka warna tersebut. Berdasarkan penjelasan Amai, benda-benda tadi akan dicampurkan jadi satu dan setelah dimantrai oleh si dukun, harus dipakai mandi oleh Lingga untuk membuang segala kesialan dan santet Santuang Palalai tadi. Wayyooik yeh. Hebat sekali itu dukun.
“Bu, emangnya jodoh itu ada di tangan dukun?”
☻☻☻
Kasak-kusuk tetangga, desakan-desakan orangtua dan keluarga, kadang membuat Lingga pusing tujuh keliling. Dikuat-kuatkannya juga hatinya dengan satu pepatah pamungkas ini “Alah, Asam di gunung, garam di laut, dalam belanga bertemu juga”. Lingga yakin seyakin-yakinnya, jika Allah memang belum berkehendak mempertemukannya dengan laki-laki yang -namanya tertuils di lauhul mahfuz- akan menjadi imam bagi Lingga, sekeras apapun usaha Lingga saat ini, maka tak juga akan bertemu. Toh, yang mengalami nasib seperti Lingga bukan Cuma ia sendiri. Masih banyak perempuan-perempuan lain yang bernasib sama sepertinya. Toh, pada akhirnya banyak juga dari mereka yang menikah meski di usia yang tak lagi muda. Ada yang berjodoh dengan duda beranak banyak, ada yang menjadi istri kedua, tapi jarang sekali yang bertemu dengan bujang lapuk pula.
“Ha, kini ko apo nio Lingga? Diubekan pun ndak nio, kalau bantuak itu taruih, ndak ka baralek-baralek Lingga nampaknyo ko doh. Lai namuah jadi perawan tuo, hah?” Ibu mengadu pada Mak Adang rupanya. Tengah malam, ditingkahi suara hujan, Mak Adang datang memarahi Lingga. “Sekarang apa mau Lingga? Tidak mau diobati, kalau begini terus, Lingga gak akan pernah nikah-nikah”.
“Lingga kan ndak sakik doh, Mak” jawab Lingga lirih. Lingga kan gak sakit, Mak. Mak Adang membelalakan matanya, Lingga ciut.
“Kalau tak mau ke dukun, kita undang orang-orang ke rumah untuk do’a selamatan. Sudah abis segala cara. Resah kami melihat Lingga yang makin hari makin tua. Makin bertambah umur, makin tak mau orang melamar Lingga. Anak gadis orang banyak yang muda dan cantik-cantik. Jangankan datang, melihat ke Lingga pun anak bujang orang tak hendak”
Lingga tertunduk lesu. “Lingga tak mau, Mak......” ucapnya dalam hati.
☻☻☻
492 purnama. Empat puluh satu usia Lingga saat ini. Dipandangnya lagi foto berikut proposal berisi biodata seorang pria yang dikirim temannya minggu lalu. Duda 3 orang anak. Usianya lebih tua 5 tahun dari Lingga. Bukan orang jauh. Mantan suami kawan dekat Lingga yang berpulang ke rahmatulllah 3 tahun lalu. Segala hal tentang laki-laki itu, Lingga tahu. Sebab dulu sering bergaul, anak-anaknya pun begitu dekat dengan Lingga. Akhirnya setelah istikharah berkali-berkali, hati Lingga semakin mantap untuk memutuskan. Dikirimnya sebuah pesan pendek pada teman yang menjembatani perjodohannya kali ini “Assalamu’alaykum, ma’af kak, Lingga belum bisa”.
Ia menolak bukan karena tak mau bersuamikan duda, tapi ia tau bagaimana kepribadian laki-laki tersebut. Meski usianya semakin menua, menjadikan agama sebagai prioritas utama tetap takkan ia geser posisinya hanya karna takut dilabeli predikat perawan tua atau terkena kutukan Santuang Palalai. Tiba-tiba dadanya terasa lapang, lapang sekali.

0 komentar:

Posting Komentar