Selasa, 08 September 2015

Jurus Melawan Tirani

Beberapa tahun belakangan saya mulai membiasakan diri untuk menonton siaran berita. Bukan untuk apa-apa. Hanya ingin tahu perkembangan ekopolisosbud dan tingkah polah kaum borjuis yang duduk di senayan. Tapi, semakin rajin mengikuti perkembangannya, kok ya hidup saya jadi semakin nggak tenang. Ada begitu banyak hal yang membuat dada saya sesak dan emosi serasa ingin meledak. Betapa tidak, para aparatur negara yang setiap 5 tahun sekali diganti untuk mengatur urusan rakyat ternyata malah menindas dan mengkhianati rakyat. Mulai dari kasus korupsi yang tidak selesai-selesai, pembuatan undang-undang yang tidak pernah memihak rakyat, buruknya sistem pendidikan, kemiskinan yang kian merata hingga drama komedi yang terjadi di ruang rapat DPR yang membuat kita seakan ingin muntah.

Pastinya bukan cuma saya yang serasa ingin meledak dan ingin muntah. Kamu juga, kan? Diluar sana pun juga sudah semakin banyak rakyat yang mulai sadar akan kebobrokan sistem dan tingkah polah aparatur negara di Indonesia ini. Kemarahan yang dipendam rakyat lama-lama akan menggelinding bak bola salju. Semakin lama semakin besar dan siap menghantam serta meluluhlantakkan pemerintahan dzalim ini. Tapi, tunggu dulu. Bicara tentang hantam menghantam, kamu ingin menghantam dengan jurus apa? Jurus Reformasi atau Revolusi? Bingung, ya? mari saya perjelas pilihannya...

Antara Reformasi dengan Revolusi
Apa perbedaan antara reformasi dengan revolusi? Reformasi adalah perubahan atas sistem yang ada, artinya reformasi itu tidak pernah mulai dari titik nol. Reformasi lebih merupakan sebuah reaksi atas ketidakmampuan sistem yang berlaku yang menghendaki perubahan dari suatu kondisi ke arah kondisi yang lebih baik (Rizal Musytansir). Di Indonesia sendiri jika kita membincang tentang reformasi maka ingatan langsung mengarah pada peristiwa reformasi 1998 yang dilakukan mahasiswa dalam rangka menggulingkan rezim Soeharto yang dinilai korup dan menyimpang.

Sedangkan Revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan.Revolusi menghendaki suatu upaya untuk merobohkan, menjebol, dan membangun dari sistem lama kepada suatu sistem yang sama sekali baru dan senantiasa berkaitan dengan dialektika, logika, romantika, menjebol dan membangun (Wikipedia).

Mas Fajar 212 dalam buku Republik Mafioso-nya membedakan reformasi dan revolusi seperti ini : “Reformasi itu seumpama pohon  yang  terkena penyakit maka pengikut reformasi akan mencari sumber penyakit tersebut, menyuntikkan obat  yang  manjur, serta memotong ranting2  yang terkena penyakit (‘Tambal Sulam’ bahasa gaulnya-red). Maka beda pula perlakuan para penganut revolusi, bagi para revolusionis pohon tersebutlah sumber penyakitnya, maka tanpa ragu2 mereka akan menggobangnya, merobohkannya, mencongkel akarnya dari tanah, kemudian mereka akan menanam pohon yang baru di atas tanah tersebut”.

Ketemu kan bedanya? Jadi, mau pilih jurus yang mana? Kalo saya lebih memilih revolusi aja. Karna pada dasarnya kebobrokan yang kita saksikan sekarang memang berakar pada kesalahan sistem kapitalis demokrasi yang rusak. Ibarat pohon yang sakit tadi, sistem ini memang benar-benar harus dicerabut hingga ke akar-akarnya dan harus diganti dengan sistem yang baru, yang terbukti mampu menyejahterakan dan melindungi entitas di dalamnya. Namun, Jika kita mengambil reformasi -ibarat abis minum obat pereda rasa sakit yang cuma ngilangin sakit sesaat- kita harus siap menderita lagi, harus siap ngurut dada lagi, harus siap meledak lagi. Apa gak capek? -___-“

Bukan Revolusi semu; Kenali Ideologi kita
“Ideologi tanpa aksi dan revolusi hanyalah sebongkah kajian dalam salah satu kuliah kita. Dan revolusi tanpa ideologi maka dia akan menjelma menjadi anarki”(Fajar 212)

Sejatinya, sebuah perjuangan melawan ketertindasan tidak semata hanya dimodali semangat ingin bebas dan merdeka saja. Tapi lebih dari itu, sebuah perjuangan harus dibangun dari pondasi yang kokoh agar ia tidak menjadi sekedar pertumpahan darah belaka yang hanya didasarkan pada rasa muak pada kedzaliman dan kesewenang-wenangan penguasa dengan emosi yang meletup-letup. Diperlukan sebuah ramuan ideologi agar jurus perlawanan yang dilakukan tidak hampa nilai, tidak sia-sia. Sebab ideologi sendiri merupakan sebuah way of life yang akan menjadi tolak ukur dan pemantik dasar landasan setiap perbuatan manusia. Sudah menguras tenaga, menguras waktu, menguras uang, menguras darah... eh, taunya gak dapat nilai apa-apa di mata Sang Pencipta. Cape’ deech. Karena itu, biar Jurus Revolusi yang kita pake bukan jurus palsu. Yuuuk, kenali dulu ideologi kita.

Secara umum, ideologi (Arab : mabda`) menurut Muhammad Muhammad. Ismail dalam Al FikruAlIslami (1958), adalah "al fikrual asasitubnaalaihiafkaar". (pemikiran mendasar yang di atasnya dibangun pemikiran-pemikiran lain).   Pemikiran mendasar ini merupakan pemikiran paling asasi pada manusia, dalam arti tidak ada lagi pemikiran lain yang lebih dalam atau lebih mendasar daripadanya. Pemikiran mendasar ini dapat disebut sebagai aqidah, yang merupakan pemikiran menyeluruh tentang manusia, alam semesta, dan kehidupan. Sedang pemikiran-pemikiran cabang yang dibangun di atas dasar aqidah tadi, merupakan peraturan bagi kehidupan manusia (nizham) dalam segala aspeknya seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya.

Sesuatu disebut ideologi jika ia memenuhi 2 syarat penyusunannya, yaitu tersusun dari Fikrah (Ide) dan Thariqah (metode). Menurut Syaikh Taqiyyudin An Nabhani dalam buku Nizham Al Islam-nya Fikrah merupakan sekumpulan konsep/pemikiran yang terdiri dari aqidah dan solusi terhadap masalah manusia. Sedang thariqah –yang merupakan metodologi penerapan ideologi secara operasional-praktis— terdiri dari penjelasan cara solusi masalah, cara penyebarluasan ideologi, dan cara pemeliharan aqidah. Jadi, ideologi ditinjau dari sisi ini adalah gabungan dari fikrah dan thariqah, sebagai satu kesatuan. (Taqiyyudin An Nabhani, 1953, Nizham Al Islam, hlm. 22-23). Intinya adalah keberadaan Thariqah merupakan suatu keharusan agar fikrah dapat terwujud.

Berdasarkan penjelasan di atas, kita temukan bahwa di dunia ini ternyata hanya ada 3 Ideologi. Yaitu Komunisme-Materialisme, Kapitalisme-Sekulerisme dan Islam. Nah, syarat sebuah ideologi dikatakan benar jika ia : (1) Sesuai dengan fitrah manusia yang selalu ingin mentaqdiskan (menyembah/menyucikan sesuatu) ; (2) Memuaskan akal ; (3) Menentramkan hati.

Ideologi Komunis-sosialis sendiri dibangun dari akidah rusak materialisme yang menyatakan bahwa segala hal yang ada di dunia ini berasal dari materi dan akan kembali menjadi materi. Tuhan telah mati bagi penganut dan pengemban ideologi ini. Ia menganggap bahwa agama adalah candu yang meracuni, melenakan dan menghambat perkembangan masyarakat.

Tau Revolusi Bolshevik yang terjadi di Rusia? Revolusi yang lahir untuk melakukan perlawanan demi meruntuhkan Rezim Tsar Nicholas II yang terlampau Dzalim dan sewenang-wenang, yang memperlakukan rakyatnya dengan semena-mena, tanpa prikemanusiaan. Revolusi yang digawangi oleh Vladimir Illich Ulyanov (Lenin) dan kawan-kawannya ini berdiri di atas ideologi Komunis-Sosialis. Ide sama rasa sama rata yang diusungnya ternyata melahirkan banyak dukungan dari masyarakat yang sudah lama gerah dengan ulah pemerintahan mereka pada saat itu.

Adapun Ideologi Kapitalis dibangun dari akidah sekulerisme (pemisahan agama dengan kehidupan). Sekalipun mengakui keberadaan Pencipta tapi pengemban ideologi ini berusaha untuk mengebiri peran Pencipta dalam mengatur kehidupan mereka. Mereka berpendapat bahwa manusia berhak untuk mengatur kehidupannya sendiri. Dari sinilah lahir paham yang memberi kebebasan pada manusia dalam bertingkah laku, beragama, berpendapat dan memiliki sesuatu. Kapitalisme kemudian melahirkan banyak anak ‘haram’ yang kini digunakan hampir seluruh masyarakat di dunia untuk mengatur kehidupan mereka : Sekulerisme, Demokrasi, Liberalisme, Pluralisme, dll.

Contoh revolusi yang berada di bawah payung Kapitalis-sekuler adalah Revolusi Perancis. Pernah ketemu di pelajaran Sejarah kan? Nah, lagi-lagi revolusi ini lahir akibat perbuatan zalim manusia. Semboyan L’etat c’est moi (negara adalah saya) yang diagung-agungkan Raja Lois XVI akhirnya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Masa kepemimpinannya dipenuhi dengan penyimpangan dan penindasan terhadap rakyat dengan mengatasnamakan agama. Raja Lois XVI membebankan pajak yang begitu besar kepada rakyatnya yang miskin untuk berpesta pora dan itu dilakukan atas persetujuan gereja (dari sini nih sekulerisme itu lahir)! Terang saja rakyat murka, geram dan marah. Akhirnya, bersama kaum borjuis dan kaum terpelajar, rakyat menyerang penjara Bastille yang menjadi simbol kekuasaan Raja Lois XVI, menangkap raja dan istrinya untuk diadili.

Setelah Rezim Raja Lois runtuh, orang-orang sibuk mencari model kekuasaan yang adil, yang tidak dimonopoli oleh orang atau kelompok-kelompok tertentu. Maka jatuhlah pilihan pada Kapitalisme-sekuler dengan Demokrasi (satu sistem kuno yang pernah diterapkan di Athena-Yunani) sebagai sistem pemerintahan alternatifnya. Dengan slogan populernya “Vox Populi vox dei (suara rakyat adalah suara tuhan)” atau dalam bahasa Abraham Lincoln, demokrasi adalah sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Bisa dikatakan saat ini satu-satunya ideologi yang mendominasi dunia setelah runtuhnya komunis-sosialis adalah Kapitalisme (Dengan Amerika sebagai pengemban utamanya). Tapi sungguh sangat disayangkan, ideologi yang mereka agung-agungkan ini pada kenyataannya juga menyimpan banyak kelemahan. Seperti yang dikatan John Perkins, Kapitalisme menimbulkan dampak yang lebih mengerikan daripada terorisme. Kemiskinan, perbedaan status yang mencolok antara si kaya dan si miskin, kerusakan lingkungan yang parah hingga penjajahan terselebung atas nama perang melawan terorisme (padahal tujuan utamanya untuk mengeksploitasi kekayaan alam negeri yang dijajahnya). Rusaklah pokoknya. Saat ini, kapitalisme sendiripun tinggal menunggu detik-detik kematiannya. Munculnya krisis keuangan hingga krisis kemanusiaan semakin memperjelas betapa bobrok dan cacatnya ideologi ini. Banyak orang yang mulai sadar bahwa ternyata kesejahteraan yang dijanjikan kapitalis-sekuler-demokrasi cuma ilusi belaka.

Jadi, baik komunis ataupun kapitalis dalam melakukan perlawanan tidak terlepas dari kekerasan dan  pertumpahan darah dengan mengorbankan banyak pihak-pihak yang tidak bersalah. Perlawanannya berlangsung cepat karena tergerak dari emosi yang meledak-ledak. Perlawanan yang tidak hanya berusaha menyingkirkan Pemerintah yang korup lagi dzalim, tapi juga berusaha menyingkirkan peran Tuhan dalam mengatur kehidupan mereka. Padahal kedzaliman akan terus berlanjut ketika penguasa dalam mengatur urusan rakyatnya tidak menggunakan hukum-hukum/aturan-aturan yang telah ditetapkan Tuhannya (Bukankah Pencipta yang lebih tahu apa yang dibutuhkan oleh ciptaan-Nya?). Akal yang terbatas, nafsu yang tamak dan ketidakmampuan dalam memahami kebutuhan semua rakyatnya menjadi satu cacat besar yang akan membawa pemerintahannya kepada kedzaliman yang lebih parah. Adapun pada dua ideologi ini, kesejahteraan yang dijanjikan hanya berlangsung sesaat. Komunis dengan slogan sama rasa sama ratanya ternyata berakhir pada sama menderita. Sedang Kapitalis, kesejahteraan yang dijanjikan pun pada kenyataannya hanya dinikmati oleh segelintir orang. Yaitu para penguasa dan pemilik modal. Rakyat miskin lagi-lagi menjadi pihak yang tertindas dan paling sengsara.

Yang terakhir adalah Islam. Akidah Islam memerintahkan setiap individu untuk menyembah Allah SWT sebagaimana yang telah diperintahkan dan ditunjukkan oleh Rasulullah saw. Penyembahan (ibâdah)kepada Allah SWT ini tidak hanya termanifestasikan dalam tingkah laku pribadi. Karena, akidah Islam bukan saja mendorong terbentuknya akhlak Islam, tetapi juga memberikan penyelesaian yang menyeluruh terhadap semua urusan kemasyarakatan dan pemerintahan. Artinya, Islam bukan Cuma sekedar akidah, tapi lebih jauh dari itu, Islam adalah agama yang juga melahirkan Nidham (sistem) kehidupan yang hukum-hukumnya (peraturan) meliputi semua aspek kehidupan manusia. Dan tentu saja, bagi siapa saja yang berjuang untuk memuliakan Islam dan berusaha menjadikan Islam sebagai satu-satunya sistem hukum yang digunakan untuk mengatur segala perikehidupan manusia akan mendapat balasan yang luar biasa digilai umat manusia: SURGA!! (tentu saja lewat methode yang benar).

Contoh abadi revolusi Islam adalah revolusi yang pernah digaungkan Nabi Muhammad SAW di Makkah dalam menghancurkan tirani penguasa yang kala itu masih jahiliyyah. Bukan dengan kekerasan. Bukan dengan Kudeta seperti yang kita lihat pada 2 ideologi di atas. Perlawanan Islam dimulai dari tahap paling dasar. Merubah pemikiran. Para pengembannya benar-benar ditempa agar memiliki Isi kepala (persepsi) yang sama, perasaan yang sama dan menginginkan diatur pada sistem yang sama. Butuh waktu yang lama untuk membersihkan pemikiran masyarakat dari sistem jahiliyah yang mengakar dan mengurat nadi dalam diri mereka. Butuh hati yang teguh untuk tidak mudah tergoda dengan tawaran-tawaran menggiurkan yang diberikan penguasa, untuk tidak melakukan kompromi dengan sistem kufur yang menggurita saat itu. Butuh keberanian yang luar biasa dalam menyampaikan kebenaran di tengah kebathilan. Butuh mental yang sekeras baja dan keimanan sekokoh karang dalam menggaungkan revolusi yang mengancam nyawa keluarga dan nyawa pengemban ideologi ini. Hingga pada akhirnya revolusi yang dipimpin nabi Muhammad saw menemukan ujungnya. Sistem Islam tegak di Madinah.

Perlahan tapi pasti, keberadaannya menyebar ke penjuru bumi. Menakhlukkan 2 (dua) Imperium Besar yang paling berkuasa saat itu ; Imperium Persia dan Romawi. Imperium Persia yang telah dibangun selama 1173 tahun dengan luas 7.400.000 km2 takhluk di bawah Ideologi Islam!!! menyusul Imperium Romawi yang mempunyai luas 5.000.000 km2 dan telah berkuasa selama 650 tahun juga berhasil ditundukkan di bawah Ideologi Islam. Kemudian menggabungkan keduanya dan memberikan kesejahteraan dan perlindungan pada masyarakat melebihi apa yang pernah diberikan oleh dua imperium sebelumnya. Luarrrr biasa!!! Jika revolusi sebelumnya adalah revolusi semu yang hanya melepaskan dahaga sesaat, maka Revolusi Islam adalah Revolusi Hakiki yang mampu membangun peradaban paling gemilang yang membentang hingga 2/3 dunia selama 13 Abad. Revolusi yang bergerak atas dasar keinginan untuk melepaskan diri dari penghambaan terhadap sesama manusia dan berusaha menjadikan Allah sebagai satu-satunya Penguasa Tertinggi dan Penguasa Abadi.

Meski kejayaan Islam sempat runtuh akibat pengkhianatan besar yang dilakukan Mustafa Kemal Attaturk pada Tahun 1924, tapi ideologi ini tetap diemban oleh masing-masing individu yang sadar akan kewajibannya untuk mengembalikan posisi Allah sebagai satu-satunya pengatur yang berhak dipatuhi. Masing-masing individu ini kemudian bersatu untuk menyusun langkah demi melanjutkan kehidupan yang hanya diatur oleh Syariah Islam. Mereka berusaha menempuh tahapan yang sama seperti yang dilakukan Nabi Muhammad Saw dalam melakukan revolusi. Maka, dimanapun kawan menemukan mereka, maka duduk dan dengarlah ide-ide yang diusungnya. Pelajari jurus-jurusnya. Lalu bergabunglah dalam perjuangan yang sama. Mau? [df]

Senin, 07 September 2015

Yang Tak Mau Menunggu


“Kalau saja aku bisa meminta pada Tuhan, putarkan roda waktu karna aku ingin memperbaiki semuanya”

Waktu bukanlah sebuah jarum jam yang bisa diputar balik sekehendak hati. Sekali saja salah memanfaatkannya tentu ia akan menjadi rekaman buruk berupa penyesalan dikemudian hari. Terkadang, perputaran waktu yang semakin hari semakin cepat ini membuat kita merasa tidak cukup dengan masa 24 jam yang Allah berikan. Terlebih bagi orang-orang yang suka menunda-nunda pekerjaan.  Seperti yang dikatakan Benjamin Franklin bahwa kita mungkin bisa menunda waktu, tapi waktu tidak akan bisa. Ia akan terus melaju tanpa bisa dihentikan dengan cara apapun.

Seringkali kita baru menjadi orang-orang yang sadar akan bahayanya mengabaikan keberadaan waktu setelah semua kejadian buruk datang timpa menimpa. Setelah nafas tinggal satu-satu dikerongkongan, barulah sadar betapa waktu-waktu yang pernah dimiliki tidak pernah digunakan sebaik mungkin. Segala keburukan membayang, segala angan-angan agar waktu bisa diputar mundur menertawakan mereka yang terlambat melantunkan taubat. Merugilah manusia, sungguh merugilah.

Malik bin Nabi dalam bukunya yang berjudul Syarat-Syarat Kebangkitan menulis ungkapan yang menurut sebagian ulama adalah perkataan Nabi Saw.: “Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru, ‘Putra-putri Adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku, karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat.’”

Jika diperbandingkan dengan lamanya waktu di padang masyar yang 50.000 tahun itu, ternyata hidup manusia di dunia ini hanya 2 menit 1 detik (jika dipukul rata usia hidup = 60-70 thn). Sebentar sekali bukan? Lalu, dengan waktu yang sekejap itu masihkah kita membiarkan ia terbuang percuma? Sebagai seorang muslim, tentu waktu-waktu yang dilewati harus memiliki nilai ibadah. Maka jangankan untuk bermaksiat, dengan memiliki kesadaran bahwa betapa singkatnya waktu yang dimiliki ini, seorang muslim tentu juga akan belajar meninggalkan perkara-perkara mubah yang tidak punya nilai pahala di dalamnya.

Sama halnya dengan sahabat yang seringkali beralasan menunda berkerudung dan berjilbab sampai merasa siap, bukankah waktu tak mau menunggu untuk itu? Jika kematian datang, maka habislah waktu tanpa sempat menunaikan salah satu perintah besar yang Allah berikan kepada seorang muslimah. Ini baru satu kewajiban, bagaimana dengan kewajiban-kewajiban lain? Kewajiban untuk beramar ma’ruf nahyi munkar, kewajiban untuk meninggalkan riba, merajam orang-orang yang berzina, mengqishas orang-orang yang mencuri, kewajiban untuk menerapkan aturan Islam secara kaffah? Masihkah kita menjadi manusia penunda hingga kemudian Allah turunkan Azab yang besar untuk membuat kita sadar? Menjadi orang-orang yang bersegera menyambut seruan Allah tentu sebaik-baik sikap seorang muslim.

Berhenti menunda-nunda kewajiban.
"Orang bijak adalah dia yang hari ini mengerjakan apa yang orang bodoh akan mengerjakannya 3 hari kemudian" [Abdullah ibn Mubarrak]

Minggu, 06 September 2015

Reuni


(1)
Satu detik yang lalu aku mulai mengenalMu.
Engkau adalah candu.
Dan aku mulai gila jika sekejap kehilanganMu.

(2)
Alif Lam Ha.
Tak banyak yang ku tahu tentangMu.
Tapi namaMu selalu ku lafal dalam kerja, dalam kata, dalam rasa.
Meski terbata.

Bagiku, Engkau adalah muara.
Dan aku berusaha menantang badai agar tak karam sebelum mencapai pusaranMu.


(3)
PadaMu aku Luruh.
Harapku hanya sebatas menggenggam tanganMu.
Tapi Engkau berlari merengkuhku ke dalam dekapMu.

Engkau adalah segala.
Dan aku menangis malu sebab acap berkeluh Engkau mengabaikanku.

Jumat, 04 September 2015