Sekali
layar terkembang, pantang surut ke belakang. Agaknya ini peribahasa yang keras
menancap di hati penyelenggara kontes Miss World. Meski menuai banyak protes
dan kecaman keras dari berbagai elemen masyarakat, tapi sampai hari ini belum
terlihat tanda-tanda akan adanya pembatalan acara dari pihak penyelenggara. Tentu
jauh-jauh hari panitia penyelenggara sudah memperhitungkan kemunculan pro dan
kontra terhadap kontes ini. Mengingat Indonesia sebagai lokasi acara merupakan
negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam dan masih kuat memegang budaya
ketimuran yang menjunjung tinggi nilai-nilai adab dan moral. Sementara Miss
World sendiri lebih dikenal sebagai budaya barat yang sarat dengan nuansa
eksploitasi tubuh perempuan.
Untuk
memuluskan jalannya acara, panitia sudah melakukan berbagai sosialisasi untuk
meyakinkan beberapa kalangan bahwa acara ini tetap menjunjung tinggi nilai
spiritualitas dan budaya. Panitia pun berkilah bahwa acara ini bukan sekedar
kontes yang menonjolkan keindahan fisik semata, tapi juga inner beauty,
kecerdasan dan jiwa sosial. Bahkan berbeda dari kontes Miss World di
tahun-tahun sebelumnya, kali ini panitia menjanjikan tidak akan ada sesi
berbikini pada acara ini. Namun gelombang suara penolakan yang datang dari
berbagai elemen masyarakat menampik bahwa penolakan terhadap Miss World bukan
sekedar masalah berbikini belaka.
Seperti
yang diungkapkan oleh Ketua PP Muhammadiyah
Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., MA, masalah utama penolakan ini adalah perbedaan
standar nilai bagaimana memandang perempuan. Ajang itu ditolak karena esensinya
melombakan perempuan. Apalagi penilaian dalam kontes seperti itu sebatas
kecantkan, kecerdasan atau bahkan bentuk tubuh. “Penolakan ini bukan soal
bikini saja, tapi melombakan perempuan tidak pantas,” kata Yunahar (Republika, 12/4/2013).
Bisnis Eksploitasi perempuan dalam Miss World
Dalam
perjalanan sejarahnya keberadaan perempuan memang memiliki daya tarik yang tak
pernah ada habisnya. Hampir semua bagian tubuh perempuan, dari rambut hingga
ujung kaki bisa dijadikan sebuah komoditas. Maka dari sinilah kemudian muncul
berbagai kalangan yang ingin mengeksplorasi dan mengeksploitasi tubuh perempuan
demi keuntungan materi. Ironisnya, sebagian perempuan ini pun secara sadar
mengikuti apa yang diinginkan pihak pengeksploitasi tanpa sungkan.
Begitupun
keberadaan kontes Miss World yang disinyalir sarat kepentingan bisnis dengan
menjadikan tubuh perempuan sebagai obyek eksploitasi. Ini bisa dilihat dari
betapa besarnya keuntungan yang diperoleh Julia
Morley sebagai Chairwoman of Miss World Organization. Dengan bisnis waralaba (franchise)
nya yang sudah dibeli oleh 130 negara ini ia mampu meraup keuntungan sekitar
450 juta USD. Sebelumnya, Times
of India Group yang memiliki akses dan hak untuk meliput Miss India 2003 juga
telah meraup keuntungan yang luar biasa. Ini bisnis yang menggiurkan. Sehingga
istri bos MNC group Hary Tanoesoedibyo yang
menjadi Chairwoman of Miss Indonesia Organization, Liliana Tanoesoedibjo
berjuang keras mengundang Miss World Organization selama 3 tahun berturut-turut
demi menjadi exclusive partner yang akan melakukan hak siar penuh untuk
Indonesia "Kita berusaha dari tiga tahun lalu," katanya pada 12
September 2012 lalu. (tempo.co.id).
Dalam berbagai kontes kecantikan, perempuan dijadikan etalase
berjalan yang memajang produk-produk industri mulai dari kosmetik, fashion,
hiburan, pariwisata dan lain sebagainya. Ini senada dengan pernyataan yang
disampaikan oleh sosiolog Universitas Indonesia, Ida Ruwaida. ''Ajang ini lebih
banyak digunakan sebagai alat industri untuk kepentingan bisnis,'' (Republika,
14/4)
Jika kemudian ada tambahan Brain dan Behaviour bagi
kontestan, Beauty tetap menjadi
syarat mutlak kemenangan bagi kontestan. Keindahan fisik perempuan tetap
menjadi penilaian utama yang mampu menaikkan harga jual dirinya di mata para juri
dan pemilik industri. Pada penyelenggaraan Miss World 2000, meskipun pada sesi
tanya jawab memberikan jawaban yang salah, tapi keinginan para juri untuk
menjadikan India sebagai ikon kecantikan dunia baru berhasil menjadikan
Priyanka Copra asal India muncul sebagai pemenang. Ini menjadi bukti, bahwa ada
kepentingan bisnis di balik berbagai kontes kecantikan yang ada.
Dalih apapun yang disampaikan panitia penyelenggara tetap
tidak bisa menutupi fakta, bahwa kontes kecantikan yang ada telah
mengeksploitasi tubuh perempuan sedemikian rupa. Perempuan kontestan Miss World
tidak pernah benar-benar merupakan representasi dari perempuan negeri asalnya,
terutama Indonesia. Tidak ada satu pun track
record yang menggambarkan bahwa ia pernah menjadi sosok inspiratif ataupun
memiliki sumbangsih yang nyata dalam bagi kemajuan Indonesia. Kemenangan Miss
World pun nantinya juga tidak akan memberi banyak manfaat bagi perkembangan
bangsa, selain bagi kepentingan bisnis dunia industri dan kepentingan dirinya
sendiri.
Miss World yang digadang-gadang mampu mendongkrak potensi
pariwisata dalam negeri pun tak lebih hanya kedok. Pariwisata Indonesia
terkenal di mancanegara bukan karena kemolekan perempuannya. Tapi karena
keindahan alamnya. Mestinya jika ingin memajukan sektor pariwisata Indonesia
bukan dengan “menjual” kecantikan perempuan dalam negeri lewat kontes
kecantikan, tapi dengan upaya penggalian dan pemberdayaan serius terhadap objek
pariwisata yang ada. Lagi pula berdasarkan fakta yang ada, negara-negara yang
pernah menyelenggarakan Miss World sebelum Indonesia tidak terbukti mampu
meningkatkan potensi pariwisata di negaranya.
Sistem kapitalisme yang dianut berbagai negara belahan dunia
telah menjadikan wanita hanya sebagai komoditas. Kapitalisme tidak melihat
wanita sebagai manusia yang mesti dimuliakan, melainkan dari segi feminitasnya
saja. Lalu mengeskploitasi wanita dengan mempermalukan martabat mereka dan
membuat mereka hanya sebagai alat pemasaran.
Mengembalikan Kemuliaan
Perempuan
Fitrah cantik dan menarik yang menjadi bawaan perempuan
semestinya tidak dijadikan ajang perlombaan dan tontonan publik. Kontes-kontes
kecantikan yang ada sejatinya telah merendahkan martabat perempuan yang hanya
dinilai berdasarkan fisik semata. Dalam Islam, perempuan tidak dinilai
berdasarkan penampakan fisik yang ada padanya. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupamu
dan hartamu, tetapi Dia melihat pada hatimu dan amalanmu” [Hadis Sahih
Riwayat Imam Muslim]
Keberadaan perempuan dalam pandangan Islam harus dilindungi
dan dihormati. Kemuliaan itu terjaga dengan tidak membiarkannya mengumbar aurat
bahkan memperlombakannya di depan publik. Menjadi mulia diraih dengan
keshalihan, dengan kepatuhan terhadap hukum-hukum syara’. Abdullah bin Amar ra
meriwayatkan Sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya
dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita
shalihah.” (HR. Muslim N0. 1467)
Ikut berpartisipasinya Indonesia dalam ajang Miss World
bahkan menjadi tuan rumahnya telah mencoreng nama Indonesia sebagai negeri
berpenduduk muslim terbesar. Budaya ketimuran yang terkenal dengan pemuliaannya
terhadap martabat perempuan telah terkikis. Dunia akan mengenal Indonesia sama
dengan negara barat yang memandang wanita hanya sebatas objek eksploitasi.
Karena itu, kontes Miss World ini wajib ditolak.#

0 komentar:
Posting Komentar