Selasa, 08 September 2015

Jurus Melawan Tirani

Beberapa tahun belakangan saya mulai membiasakan diri untuk menonton siaran berita. Bukan untuk apa-apa. Hanya ingin tahu perkembangan ekopolisosbud dan tingkah polah kaum borjuis yang duduk di senayan. Tapi, semakin rajin mengikuti perkembangannya, kok ya hidup saya jadi semakin nggak tenang. Ada begitu banyak hal yang membuat dada saya sesak dan emosi serasa ingin meledak. Betapa tidak, para aparatur negara yang setiap 5 tahun sekali diganti untuk mengatur urusan rakyat ternyata malah menindas dan mengkhianati rakyat. Mulai dari kasus korupsi yang tidak selesai-selesai, pembuatan undang-undang yang tidak pernah memihak rakyat, buruknya sistem pendidikan, kemiskinan yang kian merata hingga drama komedi yang terjadi di ruang rapat DPR yang membuat kita seakan ingin muntah.

Pastinya bukan cuma saya yang serasa ingin meledak dan ingin muntah. Kamu juga, kan? Diluar sana pun juga sudah semakin banyak rakyat yang mulai sadar akan kebobrokan sistem dan tingkah polah aparatur negara di Indonesia ini. Kemarahan yang dipendam rakyat lama-lama akan menggelinding bak bola salju. Semakin lama semakin besar dan siap menghantam serta meluluhlantakkan pemerintahan dzalim ini. Tapi, tunggu dulu. Bicara tentang hantam menghantam, kamu ingin menghantam dengan jurus apa? Jurus Reformasi atau Revolusi? Bingung, ya? mari saya perjelas pilihannya...

Antara Reformasi dengan Revolusi
Apa perbedaan antara reformasi dengan revolusi? Reformasi adalah perubahan atas sistem yang ada, artinya reformasi itu tidak pernah mulai dari titik nol. Reformasi lebih merupakan sebuah reaksi atas ketidakmampuan sistem yang berlaku yang menghendaki perubahan dari suatu kondisi ke arah kondisi yang lebih baik (Rizal Musytansir). Di Indonesia sendiri jika kita membincang tentang reformasi maka ingatan langsung mengarah pada peristiwa reformasi 1998 yang dilakukan mahasiswa dalam rangka menggulingkan rezim Soeharto yang dinilai korup dan menyimpang.

Sedangkan Revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan.Revolusi menghendaki suatu upaya untuk merobohkan, menjebol, dan membangun dari sistem lama kepada suatu sistem yang sama sekali baru dan senantiasa berkaitan dengan dialektika, logika, romantika, menjebol dan membangun (Wikipedia).

Mas Fajar 212 dalam buku Republik Mafioso-nya membedakan reformasi dan revolusi seperti ini : “Reformasi itu seumpama pohon  yang  terkena penyakit maka pengikut reformasi akan mencari sumber penyakit tersebut, menyuntikkan obat  yang  manjur, serta memotong ranting2  yang terkena penyakit (‘Tambal Sulam’ bahasa gaulnya-red). Maka beda pula perlakuan para penganut revolusi, bagi para revolusionis pohon tersebutlah sumber penyakitnya, maka tanpa ragu2 mereka akan menggobangnya, merobohkannya, mencongkel akarnya dari tanah, kemudian mereka akan menanam pohon yang baru di atas tanah tersebut”.

Ketemu kan bedanya? Jadi, mau pilih jurus yang mana? Kalo saya lebih memilih revolusi aja. Karna pada dasarnya kebobrokan yang kita saksikan sekarang memang berakar pada kesalahan sistem kapitalis demokrasi yang rusak. Ibarat pohon yang sakit tadi, sistem ini memang benar-benar harus dicerabut hingga ke akar-akarnya dan harus diganti dengan sistem yang baru, yang terbukti mampu menyejahterakan dan melindungi entitas di dalamnya. Namun, Jika kita mengambil reformasi -ibarat abis minum obat pereda rasa sakit yang cuma ngilangin sakit sesaat- kita harus siap menderita lagi, harus siap ngurut dada lagi, harus siap meledak lagi. Apa gak capek? -___-“

Bukan Revolusi semu; Kenali Ideologi kita
“Ideologi tanpa aksi dan revolusi hanyalah sebongkah kajian dalam salah satu kuliah kita. Dan revolusi tanpa ideologi maka dia akan menjelma menjadi anarki”(Fajar 212)

Sejatinya, sebuah perjuangan melawan ketertindasan tidak semata hanya dimodali semangat ingin bebas dan merdeka saja. Tapi lebih dari itu, sebuah perjuangan harus dibangun dari pondasi yang kokoh agar ia tidak menjadi sekedar pertumpahan darah belaka yang hanya didasarkan pada rasa muak pada kedzaliman dan kesewenang-wenangan penguasa dengan emosi yang meletup-letup. Diperlukan sebuah ramuan ideologi agar jurus perlawanan yang dilakukan tidak hampa nilai, tidak sia-sia. Sebab ideologi sendiri merupakan sebuah way of life yang akan menjadi tolak ukur dan pemantik dasar landasan setiap perbuatan manusia. Sudah menguras tenaga, menguras waktu, menguras uang, menguras darah... eh, taunya gak dapat nilai apa-apa di mata Sang Pencipta. Cape’ deech. Karena itu, biar Jurus Revolusi yang kita pake bukan jurus palsu. Yuuuk, kenali dulu ideologi kita.

Secara umum, ideologi (Arab : mabda`) menurut Muhammad Muhammad. Ismail dalam Al FikruAlIslami (1958), adalah "al fikrual asasitubnaalaihiafkaar". (pemikiran mendasar yang di atasnya dibangun pemikiran-pemikiran lain).   Pemikiran mendasar ini merupakan pemikiran paling asasi pada manusia, dalam arti tidak ada lagi pemikiran lain yang lebih dalam atau lebih mendasar daripadanya. Pemikiran mendasar ini dapat disebut sebagai aqidah, yang merupakan pemikiran menyeluruh tentang manusia, alam semesta, dan kehidupan. Sedang pemikiran-pemikiran cabang yang dibangun di atas dasar aqidah tadi, merupakan peraturan bagi kehidupan manusia (nizham) dalam segala aspeknya seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya.

Sesuatu disebut ideologi jika ia memenuhi 2 syarat penyusunannya, yaitu tersusun dari Fikrah (Ide) dan Thariqah (metode). Menurut Syaikh Taqiyyudin An Nabhani dalam buku Nizham Al Islam-nya Fikrah merupakan sekumpulan konsep/pemikiran yang terdiri dari aqidah dan solusi terhadap masalah manusia. Sedang thariqah –yang merupakan metodologi penerapan ideologi secara operasional-praktis— terdiri dari penjelasan cara solusi masalah, cara penyebarluasan ideologi, dan cara pemeliharan aqidah. Jadi, ideologi ditinjau dari sisi ini adalah gabungan dari fikrah dan thariqah, sebagai satu kesatuan. (Taqiyyudin An Nabhani, 1953, Nizham Al Islam, hlm. 22-23). Intinya adalah keberadaan Thariqah merupakan suatu keharusan agar fikrah dapat terwujud.

Berdasarkan penjelasan di atas, kita temukan bahwa di dunia ini ternyata hanya ada 3 Ideologi. Yaitu Komunisme-Materialisme, Kapitalisme-Sekulerisme dan Islam. Nah, syarat sebuah ideologi dikatakan benar jika ia : (1) Sesuai dengan fitrah manusia yang selalu ingin mentaqdiskan (menyembah/menyucikan sesuatu) ; (2) Memuaskan akal ; (3) Menentramkan hati.

Ideologi Komunis-sosialis sendiri dibangun dari akidah rusak materialisme yang menyatakan bahwa segala hal yang ada di dunia ini berasal dari materi dan akan kembali menjadi materi. Tuhan telah mati bagi penganut dan pengemban ideologi ini. Ia menganggap bahwa agama adalah candu yang meracuni, melenakan dan menghambat perkembangan masyarakat.

Tau Revolusi Bolshevik yang terjadi di Rusia? Revolusi yang lahir untuk melakukan perlawanan demi meruntuhkan Rezim Tsar Nicholas II yang terlampau Dzalim dan sewenang-wenang, yang memperlakukan rakyatnya dengan semena-mena, tanpa prikemanusiaan. Revolusi yang digawangi oleh Vladimir Illich Ulyanov (Lenin) dan kawan-kawannya ini berdiri di atas ideologi Komunis-Sosialis. Ide sama rasa sama rata yang diusungnya ternyata melahirkan banyak dukungan dari masyarakat yang sudah lama gerah dengan ulah pemerintahan mereka pada saat itu.

Adapun Ideologi Kapitalis dibangun dari akidah sekulerisme (pemisahan agama dengan kehidupan). Sekalipun mengakui keberadaan Pencipta tapi pengemban ideologi ini berusaha untuk mengebiri peran Pencipta dalam mengatur kehidupan mereka. Mereka berpendapat bahwa manusia berhak untuk mengatur kehidupannya sendiri. Dari sinilah lahir paham yang memberi kebebasan pada manusia dalam bertingkah laku, beragama, berpendapat dan memiliki sesuatu. Kapitalisme kemudian melahirkan banyak anak ‘haram’ yang kini digunakan hampir seluruh masyarakat di dunia untuk mengatur kehidupan mereka : Sekulerisme, Demokrasi, Liberalisme, Pluralisme, dll.

Contoh revolusi yang berada di bawah payung Kapitalis-sekuler adalah Revolusi Perancis. Pernah ketemu di pelajaran Sejarah kan? Nah, lagi-lagi revolusi ini lahir akibat perbuatan zalim manusia. Semboyan L’etat c’est moi (negara adalah saya) yang diagung-agungkan Raja Lois XVI akhirnya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Masa kepemimpinannya dipenuhi dengan penyimpangan dan penindasan terhadap rakyat dengan mengatasnamakan agama. Raja Lois XVI membebankan pajak yang begitu besar kepada rakyatnya yang miskin untuk berpesta pora dan itu dilakukan atas persetujuan gereja (dari sini nih sekulerisme itu lahir)! Terang saja rakyat murka, geram dan marah. Akhirnya, bersama kaum borjuis dan kaum terpelajar, rakyat menyerang penjara Bastille yang menjadi simbol kekuasaan Raja Lois XVI, menangkap raja dan istrinya untuk diadili.

Setelah Rezim Raja Lois runtuh, orang-orang sibuk mencari model kekuasaan yang adil, yang tidak dimonopoli oleh orang atau kelompok-kelompok tertentu. Maka jatuhlah pilihan pada Kapitalisme-sekuler dengan Demokrasi (satu sistem kuno yang pernah diterapkan di Athena-Yunani) sebagai sistem pemerintahan alternatifnya. Dengan slogan populernya “Vox Populi vox dei (suara rakyat adalah suara tuhan)” atau dalam bahasa Abraham Lincoln, demokrasi adalah sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Bisa dikatakan saat ini satu-satunya ideologi yang mendominasi dunia setelah runtuhnya komunis-sosialis adalah Kapitalisme (Dengan Amerika sebagai pengemban utamanya). Tapi sungguh sangat disayangkan, ideologi yang mereka agung-agungkan ini pada kenyataannya juga menyimpan banyak kelemahan. Seperti yang dikatan John Perkins, Kapitalisme menimbulkan dampak yang lebih mengerikan daripada terorisme. Kemiskinan, perbedaan status yang mencolok antara si kaya dan si miskin, kerusakan lingkungan yang parah hingga penjajahan terselebung atas nama perang melawan terorisme (padahal tujuan utamanya untuk mengeksploitasi kekayaan alam negeri yang dijajahnya). Rusaklah pokoknya. Saat ini, kapitalisme sendiripun tinggal menunggu detik-detik kematiannya. Munculnya krisis keuangan hingga krisis kemanusiaan semakin memperjelas betapa bobrok dan cacatnya ideologi ini. Banyak orang yang mulai sadar bahwa ternyata kesejahteraan yang dijanjikan kapitalis-sekuler-demokrasi cuma ilusi belaka.

Jadi, baik komunis ataupun kapitalis dalam melakukan perlawanan tidak terlepas dari kekerasan dan  pertumpahan darah dengan mengorbankan banyak pihak-pihak yang tidak bersalah. Perlawanannya berlangsung cepat karena tergerak dari emosi yang meledak-ledak. Perlawanan yang tidak hanya berusaha menyingkirkan Pemerintah yang korup lagi dzalim, tapi juga berusaha menyingkirkan peran Tuhan dalam mengatur kehidupan mereka. Padahal kedzaliman akan terus berlanjut ketika penguasa dalam mengatur urusan rakyatnya tidak menggunakan hukum-hukum/aturan-aturan yang telah ditetapkan Tuhannya (Bukankah Pencipta yang lebih tahu apa yang dibutuhkan oleh ciptaan-Nya?). Akal yang terbatas, nafsu yang tamak dan ketidakmampuan dalam memahami kebutuhan semua rakyatnya menjadi satu cacat besar yang akan membawa pemerintahannya kepada kedzaliman yang lebih parah. Adapun pada dua ideologi ini, kesejahteraan yang dijanjikan hanya berlangsung sesaat. Komunis dengan slogan sama rasa sama ratanya ternyata berakhir pada sama menderita. Sedang Kapitalis, kesejahteraan yang dijanjikan pun pada kenyataannya hanya dinikmati oleh segelintir orang. Yaitu para penguasa dan pemilik modal. Rakyat miskin lagi-lagi menjadi pihak yang tertindas dan paling sengsara.

Yang terakhir adalah Islam. Akidah Islam memerintahkan setiap individu untuk menyembah Allah SWT sebagaimana yang telah diperintahkan dan ditunjukkan oleh Rasulullah saw. Penyembahan (ibâdah)kepada Allah SWT ini tidak hanya termanifestasikan dalam tingkah laku pribadi. Karena, akidah Islam bukan saja mendorong terbentuknya akhlak Islam, tetapi juga memberikan penyelesaian yang menyeluruh terhadap semua urusan kemasyarakatan dan pemerintahan. Artinya, Islam bukan Cuma sekedar akidah, tapi lebih jauh dari itu, Islam adalah agama yang juga melahirkan Nidham (sistem) kehidupan yang hukum-hukumnya (peraturan) meliputi semua aspek kehidupan manusia. Dan tentu saja, bagi siapa saja yang berjuang untuk memuliakan Islam dan berusaha menjadikan Islam sebagai satu-satunya sistem hukum yang digunakan untuk mengatur segala perikehidupan manusia akan mendapat balasan yang luar biasa digilai umat manusia: SURGA!! (tentu saja lewat methode yang benar).

Contoh abadi revolusi Islam adalah revolusi yang pernah digaungkan Nabi Muhammad SAW di Makkah dalam menghancurkan tirani penguasa yang kala itu masih jahiliyyah. Bukan dengan kekerasan. Bukan dengan Kudeta seperti yang kita lihat pada 2 ideologi di atas. Perlawanan Islam dimulai dari tahap paling dasar. Merubah pemikiran. Para pengembannya benar-benar ditempa agar memiliki Isi kepala (persepsi) yang sama, perasaan yang sama dan menginginkan diatur pada sistem yang sama. Butuh waktu yang lama untuk membersihkan pemikiran masyarakat dari sistem jahiliyah yang mengakar dan mengurat nadi dalam diri mereka. Butuh hati yang teguh untuk tidak mudah tergoda dengan tawaran-tawaran menggiurkan yang diberikan penguasa, untuk tidak melakukan kompromi dengan sistem kufur yang menggurita saat itu. Butuh keberanian yang luar biasa dalam menyampaikan kebenaran di tengah kebathilan. Butuh mental yang sekeras baja dan keimanan sekokoh karang dalam menggaungkan revolusi yang mengancam nyawa keluarga dan nyawa pengemban ideologi ini. Hingga pada akhirnya revolusi yang dipimpin nabi Muhammad saw menemukan ujungnya. Sistem Islam tegak di Madinah.

Perlahan tapi pasti, keberadaannya menyebar ke penjuru bumi. Menakhlukkan 2 (dua) Imperium Besar yang paling berkuasa saat itu ; Imperium Persia dan Romawi. Imperium Persia yang telah dibangun selama 1173 tahun dengan luas 7.400.000 km2 takhluk di bawah Ideologi Islam!!! menyusul Imperium Romawi yang mempunyai luas 5.000.000 km2 dan telah berkuasa selama 650 tahun juga berhasil ditundukkan di bawah Ideologi Islam. Kemudian menggabungkan keduanya dan memberikan kesejahteraan dan perlindungan pada masyarakat melebihi apa yang pernah diberikan oleh dua imperium sebelumnya. Luarrrr biasa!!! Jika revolusi sebelumnya adalah revolusi semu yang hanya melepaskan dahaga sesaat, maka Revolusi Islam adalah Revolusi Hakiki yang mampu membangun peradaban paling gemilang yang membentang hingga 2/3 dunia selama 13 Abad. Revolusi yang bergerak atas dasar keinginan untuk melepaskan diri dari penghambaan terhadap sesama manusia dan berusaha menjadikan Allah sebagai satu-satunya Penguasa Tertinggi dan Penguasa Abadi.

Meski kejayaan Islam sempat runtuh akibat pengkhianatan besar yang dilakukan Mustafa Kemal Attaturk pada Tahun 1924, tapi ideologi ini tetap diemban oleh masing-masing individu yang sadar akan kewajibannya untuk mengembalikan posisi Allah sebagai satu-satunya pengatur yang berhak dipatuhi. Masing-masing individu ini kemudian bersatu untuk menyusun langkah demi melanjutkan kehidupan yang hanya diatur oleh Syariah Islam. Mereka berusaha menempuh tahapan yang sama seperti yang dilakukan Nabi Muhammad Saw dalam melakukan revolusi. Maka, dimanapun kawan menemukan mereka, maka duduk dan dengarlah ide-ide yang diusungnya. Pelajari jurus-jurusnya. Lalu bergabunglah dalam perjuangan yang sama. Mau? [df]

Senin, 07 September 2015

Yang Tak Mau Menunggu


“Kalau saja aku bisa meminta pada Tuhan, putarkan roda waktu karna aku ingin memperbaiki semuanya”

Waktu bukanlah sebuah jarum jam yang bisa diputar balik sekehendak hati. Sekali saja salah memanfaatkannya tentu ia akan menjadi rekaman buruk berupa penyesalan dikemudian hari. Terkadang, perputaran waktu yang semakin hari semakin cepat ini membuat kita merasa tidak cukup dengan masa 24 jam yang Allah berikan. Terlebih bagi orang-orang yang suka menunda-nunda pekerjaan.  Seperti yang dikatakan Benjamin Franklin bahwa kita mungkin bisa menunda waktu, tapi waktu tidak akan bisa. Ia akan terus melaju tanpa bisa dihentikan dengan cara apapun.

Seringkali kita baru menjadi orang-orang yang sadar akan bahayanya mengabaikan keberadaan waktu setelah semua kejadian buruk datang timpa menimpa. Setelah nafas tinggal satu-satu dikerongkongan, barulah sadar betapa waktu-waktu yang pernah dimiliki tidak pernah digunakan sebaik mungkin. Segala keburukan membayang, segala angan-angan agar waktu bisa diputar mundur menertawakan mereka yang terlambat melantunkan taubat. Merugilah manusia, sungguh merugilah.

Malik bin Nabi dalam bukunya yang berjudul Syarat-Syarat Kebangkitan menulis ungkapan yang menurut sebagian ulama adalah perkataan Nabi Saw.: “Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru, ‘Putra-putri Adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku, karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat.’”

Jika diperbandingkan dengan lamanya waktu di padang masyar yang 50.000 tahun itu, ternyata hidup manusia di dunia ini hanya 2 menit 1 detik (jika dipukul rata usia hidup = 60-70 thn). Sebentar sekali bukan? Lalu, dengan waktu yang sekejap itu masihkah kita membiarkan ia terbuang percuma? Sebagai seorang muslim, tentu waktu-waktu yang dilewati harus memiliki nilai ibadah. Maka jangankan untuk bermaksiat, dengan memiliki kesadaran bahwa betapa singkatnya waktu yang dimiliki ini, seorang muslim tentu juga akan belajar meninggalkan perkara-perkara mubah yang tidak punya nilai pahala di dalamnya.

Sama halnya dengan sahabat yang seringkali beralasan menunda berkerudung dan berjilbab sampai merasa siap, bukankah waktu tak mau menunggu untuk itu? Jika kematian datang, maka habislah waktu tanpa sempat menunaikan salah satu perintah besar yang Allah berikan kepada seorang muslimah. Ini baru satu kewajiban, bagaimana dengan kewajiban-kewajiban lain? Kewajiban untuk beramar ma’ruf nahyi munkar, kewajiban untuk meninggalkan riba, merajam orang-orang yang berzina, mengqishas orang-orang yang mencuri, kewajiban untuk menerapkan aturan Islam secara kaffah? Masihkah kita menjadi manusia penunda hingga kemudian Allah turunkan Azab yang besar untuk membuat kita sadar? Menjadi orang-orang yang bersegera menyambut seruan Allah tentu sebaik-baik sikap seorang muslim.

Berhenti menunda-nunda kewajiban.
"Orang bijak adalah dia yang hari ini mengerjakan apa yang orang bodoh akan mengerjakannya 3 hari kemudian" [Abdullah ibn Mubarrak]

Minggu, 06 September 2015

Reuni


(1)
Satu detik yang lalu aku mulai mengenalMu.
Engkau adalah candu.
Dan aku mulai gila jika sekejap kehilanganMu.

(2)
Alif Lam Ha.
Tak banyak yang ku tahu tentangMu.
Tapi namaMu selalu ku lafal dalam kerja, dalam kata, dalam rasa.
Meski terbata.

Bagiku, Engkau adalah muara.
Dan aku berusaha menantang badai agar tak karam sebelum mencapai pusaranMu.


(3)
PadaMu aku Luruh.
Harapku hanya sebatas menggenggam tanganMu.
Tapi Engkau berlari merengkuhku ke dalam dekapMu.

Engkau adalah segala.
Dan aku menangis malu sebab acap berkeluh Engkau mengabaikanku.

Jumat, 04 September 2015







Minggu, 30 Agustus 2015

Santuang Palalai



408 Purnama. Ibu Lingga makin resah menyaksikan anak perempuan pertamanya yang tak kunjung dilamar orang. Tadi malam, usia Lingga tepat memasuki angka ke-34 tahun. Kasak kusuk gunjingan tetangga yang menjuluki anaknya perawan tua semakin menggelisahkan hati dan pikiran ibu Lingga. Sebagai ibu, tentu ia juga ingin melihat anaknya bisa tersenyum bahagia duduk di kursi pelaminan dan mempunyai keluarga yang bahagia. Entah apa yang salah pada Lingga, sudah tak terhitung berapa jumlah pria yang ibu kenalkan padanya, tapi semuanya berujung pada kegagalan. Padahal tiga orang adiknya sudah lama mendahuluinya, bahkan si bungsu sudah memiliki 2 orang anak yang lucu dan menggemaskan.
“Jangan-jangan, si Lingga kena Santuang Palalai , Ni?” di suatu malam menjelang pernikahan adik kedua Lingga, Mak Adang, adik laki-laki tertua Ibu Lingga datang mengangetkannya dengan sangkaan yang mengerikan itu.
“Cobalah uni perhatikan, sudah berapa banyak anak bujang orang yang datang kemari, tapi tak satupun yang jadi. Berapa kali pulak kita turutkan kehendak dia datang melamar orang yang dia suka, tapi semua di tolak. Cocoklah tu dengan ciri-ciri orang kena Santuang Palalai. Orang ingin, dia tak mau. Giliran dia mau, orang yang tak ingin”
☻☻☻
Sore ini hujan turun deras. Ibu terkantuk-kantuk duduk di depan jendela sambil mendekap kantong plastik hitam yang akan beliau bawa ke orang pintar kenalan Mak Adang. Ketika Lingga pulang, pintu depan tidak terkunci. Ia masuk perlahan setelah mengucapkan salam yang tertelan riuhnya suara hujan. Ditatapnya ibu yang tertidur sambil duduk berselonjor. Lingga mendekat, berusaha membangunkan ibu agar pindah dan tidur di kamar. Belum lagi ia sempat meluncurkan kata-kata, mata sipitnya membesar penuh keheranan melihat barang yang di dekap ibunya. Ia penasaran. Tidak biasanya ibu tidur sambil mendekap sesuatu. Dilepaskannya dengan pelan kantong plastik itu dari dekapan ibu. Ia membukanya dengan hati-hati agar suara kresek-kresek dari kantong itu tidak membangunkan ibu.
Satu persatu Lingga mengeluarkan isi kantong plastik, kemudian menyusunnya di lantai. Ada jeruk purut, tujuh bungkus air, berbagai macam bunga-bungaan dan beberapa benda lagi yang tak ia ketahui namanya. Lingga semakin penasaran, apa yang ingin dilakukan ibunya dengan benda-benda ini. Ia berusaha membangun imajinasi. Belum purna menyelesaikan imajinasinya, ibu terbangun kaget. Beliau sontak merebut benda-benda aneh yang kini ada di hadapan Lingga.
“Buat apa ini, Mai?” Ibu yang dipanggil Amai oleh Lingga menggigil ditanyai begitu. Ini rahasia antara Ibu dengan Mak Adang saja. Tak ada seorang pun yang boleh tau apa yang akan ibu lakukan dengan benda-benda itu.
“Eh, anu.. apa itu, eh...” Ibu berusaha menjelaskan. Tapi tampaknya Ibu tak mampu menguasai ketakutannya sehingga tak jelas lagi hendak berkata apa pada anaknya.
“Untuk apa, Mai?” Lingga mengulangi pertanyaan. Ibu semakin bingung. Habis sudah. Jika Lingga tahu untuk apa benda-benda ini beliau kumpulkan, mimpi-mimpi agar Lingga bisa berkeluarga akan hancur lebur.
Mai? Amai tak main dukun, kan?” Bagai tersengat aliran listrik, aliran darah Ibu Lingga terhenti. Mukanya pucat pasi. Sekali ketauan, esok tak mungkin lagi ada jalan.
☻☻☻
Lingga murka. Kali ini benar-benar murka. Ia memang 34 tahun sekarang. Bukan Cuma Ibu yang resah memikirkan keadaannya yang tak kunjung menikah. Bahkan ia berlebih-lebih. Bukan juga ia tidak berusaha untuk mengakhiri masa lajangnya ini. Tak terhitung berapa banyak teman yang ia todong untuk membantunya mencarikan calon pendamping. Tak terhitung juga berapa banyak jumlah lelaki yang berusaha dijodohkan ibu dan keluarganya dengan Lingga. Tapi, semua berujung sama. Gagal
Lingga bukan seorang yang pemilih. Tak begitu penting baginya kriteria-kriteria yang fisik atau materi yang orientasinya dunia belaka. Asal jelas akidahnya, sholeh dan memiliki visi dan misi yang sama dengannya dalam membina mahligai rumah tangga, pasti akan ia terima. Ia sudah berusaha, nyatanya jika dalam penjajakan yang ia lakoni selama ini belum bertemu kecocokan satu sama lain, ia bisa apa?
Apa yang ibu akan lakukan sore ini benar-benar keterlaluan bagi Lingga. Benda-benda yang dikumpulkan ibu tadi ternyata untuk dibawa ke dukun. ibu termakan asutan Mak Adang bahwa Lingga benar-benar terkena Santuang Palalai, semacam santet di daerah Sumatera Barat yang dikirim seseorang agar orang lain tidak bisa menikah seumur hidupnya. 7 bungkus air yang dibungkus ibu  ternyata adalah air yang diambil dari tujuh sumur yang berbeda. Entah kapan ibu  mengambilnya. Jeruk purut yang melihatnya menerbitkan ngeri di hati Lingga pun tak jelas kegunaannya untuk apa, juga bunga-bunga beraneka warna tersebut. Berdasarkan penjelasan Amai, benda-benda tadi akan dicampurkan jadi satu dan setelah dimantrai oleh si dukun, harus dipakai mandi oleh Lingga untuk membuang segala kesialan dan santet Santuang Palalai tadi. Wayyooik yeh. Hebat sekali itu dukun.
“Bu, emangnya jodoh itu ada di tangan dukun?”
☻☻☻
Kasak-kusuk tetangga, desakan-desakan orangtua dan keluarga, kadang membuat Lingga pusing tujuh keliling. Dikuat-kuatkannya juga hatinya dengan satu pepatah pamungkas ini “Alah, Asam di gunung, garam di laut, dalam belanga bertemu juga”. Lingga yakin seyakin-yakinnya, jika Allah memang belum berkehendak mempertemukannya dengan laki-laki yang -namanya tertuils di lauhul mahfuz- akan menjadi imam bagi Lingga, sekeras apapun usaha Lingga saat ini, maka tak juga akan bertemu. Toh, yang mengalami nasib seperti Lingga bukan Cuma ia sendiri. Masih banyak perempuan-perempuan lain yang bernasib sama sepertinya. Toh, pada akhirnya banyak juga dari mereka yang menikah meski di usia yang tak lagi muda. Ada yang berjodoh dengan duda beranak banyak, ada yang menjadi istri kedua, tapi jarang sekali yang bertemu dengan bujang lapuk pula.
“Ha, kini ko apo nio Lingga? Diubekan pun ndak nio, kalau bantuak itu taruih, ndak ka baralek-baralek Lingga nampaknyo ko doh. Lai namuah jadi perawan tuo, hah?” Ibu mengadu pada Mak Adang rupanya. Tengah malam, ditingkahi suara hujan, Mak Adang datang memarahi Lingga. “Sekarang apa mau Lingga? Tidak mau diobati, kalau begini terus, Lingga gak akan pernah nikah-nikah”.
“Lingga kan ndak sakik doh, Mak” jawab Lingga lirih. Lingga kan gak sakit, Mak. Mak Adang membelalakan matanya, Lingga ciut.
“Kalau tak mau ke dukun, kita undang orang-orang ke rumah untuk do’a selamatan. Sudah abis segala cara. Resah kami melihat Lingga yang makin hari makin tua. Makin bertambah umur, makin tak mau orang melamar Lingga. Anak gadis orang banyak yang muda dan cantik-cantik. Jangankan datang, melihat ke Lingga pun anak bujang orang tak hendak”
Lingga tertunduk lesu. “Lingga tak mau, Mak......” ucapnya dalam hati.
☻☻☻
492 purnama. Empat puluh satu usia Lingga saat ini. Dipandangnya lagi foto berikut proposal berisi biodata seorang pria yang dikirim temannya minggu lalu. Duda 3 orang anak. Usianya lebih tua 5 tahun dari Lingga. Bukan orang jauh. Mantan suami kawan dekat Lingga yang berpulang ke rahmatulllah 3 tahun lalu. Segala hal tentang laki-laki itu, Lingga tahu. Sebab dulu sering bergaul, anak-anaknya pun begitu dekat dengan Lingga. Akhirnya setelah istikharah berkali-berkali, hati Lingga semakin mantap untuk memutuskan. Dikirimnya sebuah pesan pendek pada teman yang menjembatani perjodohannya kali ini “Assalamu’alaykum, ma’af kak, Lingga belum bisa”.
Ia menolak bukan karena tak mau bersuamikan duda, tapi ia tau bagaimana kepribadian laki-laki tersebut. Meski usianya semakin menua, menjadikan agama sebagai prioritas utama tetap takkan ia geser posisinya hanya karna takut dilabeli predikat perawan tua atau terkena kutukan Santuang Palalai. Tiba-tiba dadanya terasa lapang, lapang sekali.

Minggu, 23 Agustus 2015

Semata Wayang



Entah macam mana lagi hendak mengingatkan perempuan tua yang kami panggil Anduang itu. Telah habis segala nasihat, petatah petitih minang pun tak tinggal kami ucap. Tapi Anduang bersikeras dengan keinginannya. Rumah besar ini mesti dijual. Titik. Sesungguhnya pun kami tak ada sangkut paut dengan Anduang. Anak bukan, kerabat pun tidak. Sebab rasa iba sajalah maka tak kami biarkan beliau menjual satu-satunya harta yang ia miliki. Akan tinggal dimana kalau rumah itu nanti sudah laku terjual? Aku tak yakin kalau anak semata wayang yang jadi alasan Anduang menjual rumah ini akan mau menampung beliau.
“Kau ini macam tak pernah punya anak. Kalau lah nyawa ini bisa dijual, aku jual jugalah demi masa depan si Djasmun anakku itu” Nah, selalu ini yang diucapkan Anduang untuk membekap mulutku dan orang-orang yang datang menasehati beliau.
“Sebentar lagi anakku ambil kuliah S2 di Jerman. hebat, kan? Walaupun katanya dia hendak mengganti rumahku ini nantinya, tapi aku tak berharap sangatlah. Dia jadi orang hebat saja sudah tak terkira syukurku”
Aku menarik nafas panjang. Anduang terlalu menaruh harap pada si Djasmun itu. Sampai otak kecil itu tak lagi jernih dipakai untuk berpikir. Terlalu terobsesi anaknya jadi orang hebat, orang sukses, orang besar. Anduang pun dulunya juga orang terpandang di kampung kami. Suaminya Wali Nagari. Sawah berpetak-petak di lingkar bukit. Urang Kayo Gadang kata orang Minang. Tapi roda hidup macam itulah. Sejak suaminya mangkat, sepetak demi sepetak sawah itu pun ikut pula mangkat. Habis dijual untuk biaya hidup Anduang yang tak biasa bekerja. Ditambah untuk membesarkan anak kebanggaan yang kelak diharap Anduang bisa mengulang kebesaran pangkat Bapaknya.
Maka dikuliahkanlah si Djasmun ke Ibu kota negara. Tak tanggung-tanggung biayanya. Biarlah habis sawah terjual, biarlah merasai badan. Kelak anak akan membalas jasa orangtuanya. Itu pikir Anduang.
Tahun-tahun pertama kuliah, rajin betul si Djasmun berkirim surat. Dia kirim juga foto kopi nilai-nilai kuliahnya yang bagus. Tak terkira besarnya hati Anduang. Dibawanya foto kopi nilai itu kemana-mana. Diperlihatkannya ke orang-orang kampung yang ia temui di lapau-lapau, di surau, di sawah. Terasa jelas aroma kebanggaan itu dari tuturnya.
“Tengoklah. Aduhai bagus betul nilai-nilai si Djasmun. Sebagus masa depannya kelak. Majulah Negeri kita ini kalau dia pulang. Semaju Ibu kota. Anak-anak kau yang tak bekerja itu bolehlah besok dipekerjakan oleh anakku. Biar terciprat suksesnya juga” orang-orang mengangguk-angguk saja mendengar Anduang membanggakan anaknya. Ikut pula berharap si Djasmun itu nanti membuka lapangan pekerjaan di kampung.
Dua tahun terlewati. Djasmun pun masih sering berkirim surat meski tak lagi sesering dahulu. Kiriman surat pun tak lagi beserta kopian nilai-nilai cemerlang itu. Isi suratnya cuma berisi keluhan-keluhan duit yang selalu kurang. Uang kos naik, tugas kuliah makin banyak, makan serba tak enak, penat pulang pergi kuliah jalan kaki, yang kesemuanya berujung minta tambahan kiriman.
Hidup dan kuliah di ibu kota negara memang sangat luar biasa mahalnya. Tapi tak mengapalah. Apalah artinya biaya yang ia keluarkan sekarang jika dibandingkan dengan kesuksesan yang akan diraih anaknya kelak? Maka semakin rajinlah Anduang menjual sawahnya.
Hari-hari terus saja berganti. Orang-orang muda di kampung silih berganti merantau ke pelosok negeri. Tentu ada pula yang menuju ke ibu kota negara. Mereka pulang membawa kabar berita bermacam ragam. Tentang si anu yang sukses berdagang, si fulan yang beristrikan orang seberang, tak ketinggalan berita tentang Djasmun anaknya semata wayang. Ramai bisik-bisik orang tentang Djasmun. Bisik buruklah. Satu-dua orang datang menyampaikan kelakuan busuk Djasmun selagi di Ibu kota. Berharap agar Anduang berhenti menjual sawah dan mengirimi si Djasmun itu uang. Betapa sudah puluhan orang ditipunya, ratusan juta uang dibawanya kabur. Anduang naik pitam, tega betul orang-orang menggosip jelek tentang anaknya. Dia kata semua orang iri pada anaknya yang sebentar lagi berjaya. Ia tunjuk-tunjuk muka si perantau yang pulang menyebar gosip itu. Dicaci makinya sambil meludah kiri kanan. Sakit betul hatinya. Anaknya berbudi pekerti baik. Keturunan keluarga baik-baik. Manalah mungkin berperangai buruk macam kabar si perantau itu. Uang pun tak pernah kurang dikiriminya. Bagaimanalah mungkin ia akan menilap?
Lekas-lekas ia pulang, menulis surat dengan muka bersungut-sungut. Ditumpahkan segala kesalnya pada anaknya. “Cepatlah kau tamat, pulang dengan titel yang membanggakan. Sakit betul hatiku kau digosip berperangai buruk. Kelak kalau kau sudah disini, kita bungkam mulut orang-orang itu dengan kesuksesanmu. Rajin-rajin belajar. Sebut apa yang kurang. Asal kau berhasil, nyawa pun rela Aku gadai”
Sejak hari itu, orang-orang mulai memandang iba pada Anduang. Ingin betul menghentikan harapan-harapan palsunya. Sekali dua kali aku pun datang memberi nasihat. Tapi begitulah, Anduang tak percaya. Ia kata aku ikut pula mengiri. Padahal apa yang hendak aku iri dari si Djasmun penipu itu?
Anduang tetap sibuk membanggakan anaknya. Sampai ludahnya terciprat ke muka lawan bicaranya saking semangatnya ia bercerita. Orang menyungging senyum sebelah. Hanya untuk menghargai. Padahal dalam hati mengumpat si Djasmun. Sekali-kali orang lain ikut pula menimpali seakan ikut berbangga “Senanglah tu, Nduang. Aku pun  mau pula punya anak macam si Djasmun itu. Sekolah tinggi, pangkat tinggi, gaji tinggi, pandai pula membalas budi. Cerah hari tua ku kelak”
Tak terkira melambungnya hati Anduang demi mendengar pujian kepada anaknya. Tak terasa baginya padahal orang-orang berkata dengan nada menyindir. Ia sudah terbuai angan-angan. Harapan-harapan itu telah menumpulkan otaknya. Obsesi-obsesi kesuksesan itu menyiksa dirinya sendiri. Ia tak percaya pada omongan orang. Bagaimanapun, anaknya tetap yang terbaik. Anaknya pasti membalas budi.
Surat pun datang lagi. Anaknya hendak melanjutkan kuliah S2 ke Jerman. Tak tanggung-tanggung berhitung puluhan juta biayanya. Sawah tak ada lagi. Habis tergadai demi 5 tahun kuliah Djasmun. Apalagi yang ia punya? Maka terpikirlah untuk menjual rumah peninggalan suaminya ini. Anduang sibuk kesana kemari mencari pembeli. Aku pun tak ketinggalan ditawari. Kadang kalau sedang tak ke sawah, aku temani jugalah Anduang ke kampung sebelah mencari pembeli. Ada satu dua orang yang berminat, tapi harga tak sesuai.
Aku kasihan pada beliau. Begitu pun para tetangga. Bagaimanapun Anduang sudah tua. Lebih setengah abad usianya. Hendak tinggal dimana lagi ia kalau rumah ini benar-benar terjual? Kerabat tak punya, anak pun cuma si Djasmun yang disangka bakal sukses itu. Tak tega rasanya membiarkan Anduang larut dalam harapan-harapan palsu yang dihembus-hembuskan Djasmun. Kami tau ia tak lagi kuliah di Ibu kota sana sejak 2 tahun lalu. Sibuk keluar masuk penjara. Macam mana pula hendak lanjut S-2? Ke Jerman pula katanya? Omong kosong!
Atas rasa tak tega itu, kuhubungi saudara perantau disana, mencari tau kabar Djasmun. Hendak apa ia gerangan dengan uang puluhan juta itu. Dan aduhai, perih lah hati saat tau kebenarannya. Anduang bisa mati berdiri kalau tau apa guna uang itu bagi anak kebanggaannya. Itu uang buat tebusan. Tak ada itu S-2. Omong kosong soal Jerman. Aku tau Anduang tak akan percaya jika ku beri tahu apa yang dilakukan anaknya di Ibu kota. Aku bisa dihardik, dituduh pengiri. Sebab itu, setelah rumah laku terjual, uang sudah di tangan, aku bujuk Anduang untuk mengantar langsung uang itu kepada anaknya ke ibu kota. Lagi pula mereka sudah lama tak bersua. Anduang pasti rindu berlipat-lipat. Anduang tak mau, ia takut anaknya akan buyar konsentrasinya jika bertemu Anduang. Anaknya bisa batal ke Jerman demi melihat wajah sendu Anduang saat melepas kepergiannya. Aah, anduang terlalu berangan-angan.
Aku tak patah arang, tetap kupaksa-paksa ia dengan seribu macam alasan. “Jerman itu jauh, Nduang. Entah takdir berkata lain. Bisa jadi pesawatnya jatuh di laut. Tak ingin Anduang melepas kepergiannya langsung? Mungkin juga ini pertemuan terakhir, siapa tahu?” lalu Anduang pun luluh.
Tiga hari lagi kami berangkat. Memberi kejutan besar pada Djasmun yang bakal jadi orang sukses. Yang bakal S-2 ke luar negeri. Ku larang Anduang memberi kabar lewat surat, telegram atau telpon sekalipun. Ini rahasia. Ini kejutan. Kejutan yang akan membongkar kedok busuk Djasmun tak tahu di untung itu.
Tepat jam 6 pagi, setelah berhari-hari menahan sesak aroma bus yang bercampur keringat, bau orang tak mandi, anyir muntah dan gerahnya perjalanan, sampai jugalah kami di terminal jakarta ini. Disini pagi turun lebih cepat rupanya. Lihatlah alam telah terang benderang. Beda betul dengan kampung kami yang dikelilingi bukit. Jam segini suasana masih gelap, orang-orang masih berkelimun dalam selimut. Saudaraku sudah menunggu dengan oplet birunya. Sebelum menuju ke tempat Djasmun, dibawanya kami sarapan dan menumpang mandi di rumahnya. Tapi Anduang begitu tak sabaran. Ia tak selera makan, juga malas mandi. Ingin betul segera bertemu anaknya. Rindunya telah menggelegak. Tak sanggup lagi ia menahannya. Aku seakan tak tega membawanya menemui Djasmun. Tak tega melihat reaksi Anduang saat kedok si penipu itu terbongkar. Tapi bagaimanalah. Aroma bangkai itu sudah saatnya tercium di hidung Anduang.
Setelah segar, kami pun berangkat. Semakin dekat menuju hunian Djasmun, jantungku makin berlompatan tak karuan. Hawa panas menjalari mukaku. Kulihat Anduang duduk tak tenang. Wajahnya sumringah. Kadang senyum mengembang. Entah. Kurang lebih tiga puluh menit perjalanan, tibalah kami di penginapan Djasmun. Anduang bertanya heran “Kenapa pula kita kesini? Bukannya kau hendak membawaku bertemu Djasmun?”
Aku bingung menyusun kata-kata. Aku melirik saudaraku. Dia angkat bicara “Djasmun ada di dalam, Nduang”. Anduang tak lagi banyak tanya, isi kepalanya dipenuhi prasangka baik terhadap anaknya. Mungkin ada yang diurus anaknya disini.
Semakin melangkah ke dalam, semakin berat kakiku. Saudaraku menyuruh kami menunggu. Ia mengurus izin jenguk pada petugas. Anduang meremas-remas jarinya. Aku mendengar degup jantungnya. Rindunya benar-benar telah mengepundan. Selang beberapa menit petugas mengantar kami menemui Djasmun. Hawa panas makin menjalari wajahku. Degup jantungku tak karuan. Keringat dingin berjatuhan. Aku menahan tangan Anduang. Tak tega membiarkannya melihat kenyataan pahit ini. Tapi Anduang makin tak sabaran. Didahuluinya langkahku. Tepat 5 langkah di depan kami, Anduang terhenti. Begitupun jantungnya juga ikut berhenti. Tiba-tiba rasanya suara jam di dinding turut pula berhenti. Anginpun berhenti. Semua berhenti. Djasmun terperanjat kaget di depan sana dengan baju tahanan penjara bernomor 1345. Bibirnya bergetar ketakutan. Kedoknya terbongkar. Tapi Anduang sudah limbung duluan. Ia tak kuasa menahan kenyataan. Anaknya tidak akan ke jerman, anaknya akan menjadi penghuni hotel prodeo. Entah sampai kapan.[]



Jumat, 07 Agustus 2015

Batas

Garis-garis telah dilukis pada setiap bentangan masa yang samar
Entahkah bising angin masih singgahi helai rambut sewarna abu
Seperti kilatan petir yang selalu datang tiba-tiba
Tak pernah ada pertanda
Dan aku terbata mengeja batas-batas masa

Kamis, 09 Juli 2015

Kenakalan Remaja dan Beban Berat Pendidikan



Beberapa tahun belakangan hari-hari kita selalu dihiasi pemberitaan negatif  terhadap berbagai bentuk kasus kenakalan remaja. Bahkan menjadi trending topic yang tidak ada habisnya baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Pasalnya, kenakalan remaja yang kian melampaui batas telah memakan banyak korban jiwa. Mulai dari tawuran pelajar, penyalahgunaan narkoba, merebaknya seks bebas di kalangan remaja yang berujung aborsi, pembunuhan bermotif asmara dan ratusan ribu kasus lainnya yang bertebaran di berbagai daerah di Indonesia.

Tawuran pelajar seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perilaku pelajar. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) mencatat ada 229 kasus tawuran pelajar sepanjang Januari-Oktober tahun 2013. Jumlah ini meningkat sekitar 44 persen dibanding tahun lalu yang hanya 128 kasus. Dalam 229 kasus kekerasan antarpelajar SMP dan SMA itu, 19 siswa meninggal dunia. (tempo.com/20/11/2013)

Untuk kasus penyalahgunaan narkoba Badan Narkotika Nasional mencatat terdapat 110 ribu pecandu atau penyalahguna narkotika dan obat-obatan terlarang yang berada di berbagai wilayah kabupaten dan kota di Riau. (antaranews.com/3/11/2013). Ditambah data menyedihkan dari Direktorat Reserse Narkoba Polda Riau yang mencatat sebanyak 131 siswa sekolah dasar, sepanjang Januari-September 2013, menjadi pelaku pengguna dan pengedar narkotika serta obat-obatan terlarang (narkoba). (merdeka.com/10/10/2013)

Bukti-bukti kenakalan remaja seakan tak ada habisnya. Angka seks bebas di kalangan remaja semakin tinggi dari ke hari. Sebab, tercatat 46 persen remaja berusia 15-19 tahun sudah berhubungan seksual. Bahkan data Sensus Nasional menunjukkan 48-51 persen perempuan hamil adalah remaja. Dari 3.339 kasus yang dilaporkan kepada Komnas Anak pada 2013, sebanyak 58 persen merupakan kasus kejahatan seksual. Dari jumlah itu, 16 persen pelakunya merupakan anak-anak. (bkkbn.go.id)

Fakta terhadap tinggi dan mengerikannya angka kenakalan remaja ini menjadi beban berat yang menimbulkan sebuah tanya: “Bagaimana gambaran masa depan generasi bangsa ini?”

Sistem pendidikan yang sekuler telah gagal mengantarkan generasi bangsa menjadi generasi yang muslih, cerdas, peduli bangsa dan kelak mampu menjadi pemimpin yang ideal.
Ada dua hal yang menyebabkan kegagalan pendidikan tersebut. Pertama, paradigma pendidikan yang keliru dengan asas sekuler. Tujuan pendidikan yang ditetapkan juga sekedar membentuk manusia-manusia yang berpaham materialistik dan serba individualistik. 

Padahal dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 

Tujuan mulia dari pendidikan seperti yang tertuang di dalam undang-undang ini mustahil bisa diwujudkan selama sistem yang diterapkan di Indonesia adalah sistem kapitalisme sekuler. Sistem yang memisahkan peranan agama dalam mengatur kehidupan. Sebab dalam sistem ini agama hanya dijadikan sebatas pengetahuan dan aturan ritual belaka. Dimana seluruh aturan hidup dibuat berlandaskan keterbatasan akal manusia semata, sehingga mustahil mampu melahirkan generasi yang bertakwa, cerdas dan mulia.

Kedua, sinergi antara sekolah, masyarakat, dan keluarga. Pendidikan yang integral harus melibatkan tiga unsur di atas. Sebab, ketiga unsur di atas menggambarkan kondisi faktual obyektif pendidikan. Saat ini ketiga unsur tersebut belum berjalan secara sinergis, di samping masing-masing unsur tersebut juga belum berfungsi secara benar. 

Buruknya pendidikan anak di rumah memberi beban berat kepada sekolah/kampus dan menambah keruwetan persoalan di tengah-tengah masyarakat seperti terjadinya tawuran pelajar, seks bebas, narkoba, dan sebagainya. Keluarga di rumah semestinya menjadi filter atas berbagai pemahaman dan pengetahuan baru yang diperolehnya di luar rumah. Di rumah tentu saja orang tua menghadapi tantangan bahwa mereka harus jadi contoh yang baik, terutama masalah integritas. Metode terbaik dalam membuat orang tua memberikan perhatian besar pada anak-anaknya adalah menanamkan kesadaran bahwa mereka sedang membentuk calon pemimpin masa depan dan menanamkan kesadaran, bahwa setiap Muslim adalah bagian dari umat terbaik (khairu ummah), dan itu diperlukan agar dia dapat efektif melakukan amar ma’ruf dan nahy munkar (QS. Ali Imran : 110).

Pada saat yang sama, situasi masyarakat yang buruk jelas membuat nilai-nilai yang mungkin sudah berhasil ditanamkan di tengah keluarga dan sekolah/kampus menjadi kurang optimal. Apalagi jika pendidikan yang diterima di sekolah juga kurang bagus, maka semakin lengkaplah kehancuran dari tiga pilar pendidikan tersebut.

Di dalam Islam, pendidikan bagi setiap Muslim merupakan kebutuhan dasar. Allah SWT telah mewajibkan setiap Muslim untuk menuntut ilmu dan membekali dirinya dengan berbagai macam ilmu untuk dapat menyelesaikan permasalahan dirinya, keluarga, masyarakat dan negara. 

Rasulullah saw. bersabda: Menuntut ilmu wajib atas setiap Muslim (HR Ibnu Majah).
Dalam hadis lain dikatakan, “Jadilah kamu orang berilmu, atau pencari ilmu, atau pendengar (ilmu), atau pecinta (ilmu)j jangan menjadi yang kelima (orang bodoh) nanti kamu binasa.” (Lihat: Al-Fathul Kabir, I/204).

Islam menjadikan aqidah Islam sebagai dasar kurikulum pendidikan. Dengan keyakinan penuh bahwa untuk mewujudkan generasi berjiwa pemimpin memerlukan kurikulum berkualitas yang disusun berdasarkan dan berorientasikan ideology Islam bukan pasar. Materi dan metode pendidikan didesain sedemikian rupa sehingga peserta didik memahami dan meyakini bahwa eksistensi Allah swt dengan segala sifat-sifat uluhiyahnya adalah realitas, kesadaran ini dimanivestasikan dengan memandang keridhoan Allah swt sebagai kebahagiaan tertinggi, dan keterikatan kepada syariat Allah swt adalah hal yang mutlak.  Disamping itu peserta didik memandang Islam sebagai sistem kehidupan satu-satunya yang layak bagi manusia.  Di atas prinsip-prinsip ini nilai-nilai, akhlak mulia benar-benar menghiasi segenap aktivitas pelajar.

Islam memandang bahwa negara wajib menyiapkan orang tua yang berkualitas. Negara harus mendorong dan memfasilitasi orangtua dalam meningkatkan kemampuannya dalam mendidik anaknya agar tercapai output pendidikan. Orangtua harus memiliki kepribadian Islam, karna orangtua adalah orang pertama yang akan dicontoh oleh anak dan menjadi guru pertama dan utama bagi anak-anaknya. Disamping menyiapkan orangtua yang berkualitas, negara juga harus berusaha menyediakan guru-guru yang berkualitas. Yang memiliki kepribadian Islam, yang akan menjadi model bagi anak-anak didiknya.

Sudah saatnya dunia pendidikan mempertimbangkan sistem pendidikan yang ditawarkan Islam. Karna telah terbukti mampu melahirkan generasi emas yang kehebatannya baik dalam pemerintahan, sains dan teknologi, militer hingga ekonomi diakui oleh dunia semisal Umar bin Abdul Azis, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Muhammad Alfatih, dll. []