Beberapa
tahun belakangan saya mulai membiasakan diri untuk menonton siaran
berita. Bukan untuk apa-apa. Hanya ingin tahu perkembangan ekopolisosbud
dan tingkah polah kaum borjuis yang duduk di senayan. Tapi, semakin
rajin mengikuti perkembangannya, kok ya hidup saya jadi semakin nggak
tenang. Ada begitu banyak hal yang membuat dada saya sesak dan emosi
serasa ingin meledak. Betapa tidak, para aparatur negara yang setiap 5
tahun sekali diganti untuk mengatur urusan rakyat ternyata malah
menindas dan mengkhianati rakyat. Mulai dari kasus korupsi yang tidak
selesai-selesai, pembuatan undang-undang yang tidak pernah memihak
rakyat, buruknya sistem pendidikan, kemiskinan yang kian merata hingga
drama komedi yang terjadi di ruang rapat DPR yang membuat kita seakan
ingin muntah.
Pastinya bukan cuma saya yang serasa ingin
meledak dan ingin muntah. Kamu juga, kan? Diluar sana pun juga sudah
semakin banyak rakyat yang mulai sadar akan kebobrokan sistem dan
tingkah polah aparatur negara di Indonesia ini. Kemarahan yang dipendam
rakyat lama-lama akan menggelinding bak bola salju. Semakin lama semakin
besar dan siap menghantam serta meluluhlantakkan pemerintahan dzalim
ini. Tapi, tunggu dulu. Bicara tentang hantam menghantam, kamu ingin
menghantam dengan jurus apa? Jurus Reformasi atau Revolusi? Bingung,
ya? mari saya perjelas pilihannya...
Antara Reformasi dengan Revolusi
Apa perbedaan antara reformasi dengan revolusi? Reformasi adalah perubahan atas sistem yang ada, artinya reformasi itu tidak pernah mulai dari titik nol.
Reformasi lebih merupakan sebuah reaksi atas ketidakmampuan sistem yang
berlaku yang menghendaki perubahan dari suatu kondisi ke arah kondisi
yang lebih baik (Rizal Musytansir). Di Indonesia sendiri jika
kita membincang tentang reformasi maka ingatan langsung mengarah pada
peristiwa reformasi 1998 yang dilakukan mahasiswa dalam rangka
menggulingkan rezim Soeharto yang dinilai korup dan menyimpang.
Sedangkan Revolusi
adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat
dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam
revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa
direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau
melalui kekerasan.Revolusi menghendaki suatu upaya untuk merobohkan,
menjebol, dan membangun dari sistem lama kepada suatu sistem yang sama
sekali baru dan senantiasa berkaitan dengan dialektika, logika,
romantika, menjebol dan membangun (Wikipedia).
Mas Fajar 212 dalam buku Republik Mafioso-nya membedakan reformasi dan revolusi seperti ini : “Reformasi
itu seumpama pohon yang terkena penyakit maka pengikut reformasi akan
mencari sumber penyakit tersebut, menyuntikkan obat yang manjur,
serta memotong ranting2 yang terkena penyakit (‘Tambal Sulam’ bahasa
gaulnya-red). Maka beda pula perlakuan para penganut revolusi, bagi para
revolusionis pohon tersebutlah sumber penyakitnya, maka tanpa ragu2
mereka akan menggobangnya, merobohkannya, mencongkel akarnya dari tanah,
kemudian mereka akan menanam pohon yang baru di atas tanah tersebut”.
Ketemu
kan bedanya? Jadi, mau pilih jurus yang mana? Kalo saya lebih memilih
revolusi aja. Karna pada dasarnya kebobrokan yang kita saksikan
sekarang memang berakar pada kesalahan sistem kapitalis demokrasi yang
rusak. Ibarat pohon yang sakit tadi, sistem ini memang benar-benar harus
dicerabut hingga ke akar-akarnya dan harus diganti dengan sistem yang
baru, yang terbukti mampu menyejahterakan dan melindungi entitas di
dalamnya. Namun, Jika kita mengambil reformasi -ibarat abis minum obat
pereda rasa sakit yang cuma ngilangin sakit sesaat- kita harus siap
menderita lagi, harus siap ngurut dada lagi, harus siap meledak lagi.
Apa gak capek? -___-“
Bukan Revolusi semu; Kenali Ideologi kita
“Ideologi
tanpa aksi dan revolusi hanyalah sebongkah kajian dalam salah satu
kuliah kita. Dan revolusi tanpa ideologi maka dia akan menjelma menjadi
anarki”(Fajar 212)
Sejatinya, sebuah perjuangan
melawan ketertindasan tidak semata hanya dimodali semangat ingin bebas
dan merdeka saja. Tapi lebih dari itu, sebuah perjuangan harus dibangun
dari pondasi yang kokoh agar ia tidak menjadi sekedar pertumpahan darah
belaka yang hanya didasarkan pada rasa muak pada kedzaliman dan
kesewenang-wenangan penguasa dengan emosi yang meletup-letup. Diperlukan
sebuah ramuan ideologi agar jurus perlawanan yang dilakukan tidak hampa
nilai, tidak sia-sia. Sebab ideologi sendiri merupakan sebuah way of
life yang akan menjadi tolak ukur dan pemantik dasar landasan setiap
perbuatan manusia. Sudah menguras tenaga, menguras waktu, menguras uang,
menguras darah... eh, taunya gak dapat nilai apa-apa di mata Sang
Pencipta. Cape’ deech. Karena itu, biar Jurus Revolusi yang kita pake
bukan jurus palsu. Yuuuk, kenali dulu ideologi kita.
Secara umum, ideologi (Arab : mabda`) menurut Muhammad Muhammad. Ismail dalam Al FikruAlIslami (1958), adalah "al fikrual asasitubnaalaihiafkaar".
(pemikiran mendasar yang di atasnya dibangun pemikiran-pemikiran
lain). Pemikiran mendasar ini merupakan pemikiran paling asasi pada
manusia, dalam arti tidak ada lagi pemikiran lain yang lebih dalam atau
lebih mendasar daripadanya. Pemikiran mendasar ini dapat disebut sebagai
aqidah, yang merupakan pemikiran menyeluruh tentang manusia,
alam semesta, dan kehidupan. Sedang pemikiran-pemikiran cabang yang
dibangun di atas dasar aqidah tadi, merupakan peraturan bagi kehidupan
manusia (nizham) dalam segala aspeknya seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya.
Sesuatu disebut ideologi jika ia memenuhi 2 syarat penyusunannya, yaitu tersusun dari Fikrah (Ide) dan Thariqah
(metode). Menurut Syaikh Taqiyyudin An Nabhani dalam buku Nizham Al
Islam-nya Fikrah merupakan sekumpulan konsep/pemikiran yang terdiri dari
aqidah dan solusi terhadap masalah manusia. Sedang thariqah –yang
merupakan metodologi penerapan ideologi secara operasional-praktis—
terdiri dari penjelasan cara solusi masalah, cara penyebarluasan
ideologi, dan cara pemeliharan aqidah. Jadi, ideologi ditinjau dari sisi
ini adalah gabungan dari fikrah dan thariqah, sebagai satu kesatuan.
(Taqiyyudin An Nabhani, 1953, Nizham Al Islam, hlm. 22-23). Intinya adalah keberadaan Thariqah merupakan suatu keharusan agar fikrah dapat terwujud.
Berdasarkan
penjelasan di atas, kita temukan bahwa di dunia ini ternyata hanya ada 3
Ideologi. Yaitu Komunisme-Materialisme, Kapitalisme-Sekulerisme dan
Islam. Nah, syarat sebuah ideologi dikatakan benar jika ia : (1) Sesuai
dengan fitrah manusia yang selalu ingin mentaqdiskan
(menyembah/menyucikan sesuatu) ; (2) Memuaskan akal ; (3) Menentramkan
hati.
Ideologi Komunis-sosialis sendiri dibangun dari akidah rusak materialisme yang
menyatakan bahwa segala hal yang ada di dunia ini berasal dari materi
dan akan kembali menjadi materi. Tuhan telah mati bagi penganut dan
pengemban ideologi ini. Ia menganggap bahwa agama adalah candu yang
meracuni, melenakan dan menghambat perkembangan masyarakat.
Tau
Revolusi Bolshevik yang terjadi di Rusia? Revolusi yang lahir untuk
melakukan perlawanan demi meruntuhkan Rezim Tsar Nicholas II yang
terlampau Dzalim dan sewenang-wenang, yang memperlakukan rakyatnya
dengan semena-mena, tanpa prikemanusiaan. Revolusi yang digawangi oleh
Vladimir Illich Ulyanov (Lenin) dan kawan-kawannya ini berdiri di atas
ideologi Komunis-Sosialis. Ide sama rasa sama rata yang diusungnya
ternyata melahirkan banyak dukungan dari masyarakat yang sudah lama
gerah dengan ulah pemerintahan mereka pada saat itu.
Adapun Ideologi Kapitalis dibangun dari akidah sekulerisme (pemisahan
agama dengan kehidupan). Sekalipun mengakui keberadaan Pencipta tapi
pengemban ideologi ini berusaha untuk mengebiri peran Pencipta dalam
mengatur kehidupan mereka. Mereka berpendapat bahwa manusia berhak untuk
mengatur kehidupannya sendiri. Dari sinilah lahir paham yang memberi
kebebasan pada manusia dalam bertingkah laku, beragama, berpendapat dan
memiliki sesuatu. Kapitalisme kemudian melahirkan banyak anak ‘haram’
yang kini digunakan hampir seluruh masyarakat di dunia untuk mengatur
kehidupan mereka : Sekulerisme, Demokrasi, Liberalisme, Pluralisme, dll.
Contoh
revolusi yang berada di bawah payung Kapitalis-sekuler adalah Revolusi
Perancis. Pernah ketemu di pelajaran Sejarah kan? Nah, lagi-lagi
revolusi ini lahir akibat perbuatan zalim manusia. Semboyan L’etat c’est
moi (negara adalah saya) yang diagung-agungkan Raja Lois XVI akhirnya
menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Masa kepemimpinannya dipenuhi
dengan penyimpangan dan penindasan terhadap rakyat dengan
mengatasnamakan agama. Raja Lois XVI membebankan pajak yang begitu besar
kepada rakyatnya yang miskin untuk berpesta pora dan itu dilakukan atas
persetujuan gereja (dari sini nih sekulerisme itu lahir)! Terang saja
rakyat murka, geram dan marah. Akhirnya, bersama kaum borjuis dan kaum
terpelajar, rakyat menyerang penjara Bastille yang menjadi simbol
kekuasaan Raja Lois XVI, menangkap raja dan istrinya untuk diadili.
Setelah
Rezim Raja Lois runtuh, orang-orang sibuk mencari model kekuasaan yang
adil, yang tidak dimonopoli oleh orang atau kelompok-kelompok tertentu.
Maka jatuhlah pilihan pada Kapitalisme-sekuler dengan Demokrasi (satu
sistem kuno yang pernah diterapkan di Athena-Yunani) sebagai sistem
pemerintahan alternatifnya. Dengan slogan populernya “Vox Populi vox dei
(suara rakyat adalah suara tuhan)” atau dalam bahasa Abraham Lincoln,
demokrasi adalah sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk
rakyat.
Bisa dikatakan saat ini satu-satunya ideologi yang
mendominasi dunia setelah runtuhnya komunis-sosialis adalah Kapitalisme
(Dengan Amerika sebagai pengemban utamanya). Tapi sungguh sangat
disayangkan, ideologi yang mereka agung-agungkan ini pada kenyataannya
juga menyimpan banyak kelemahan. Seperti yang dikatan John Perkins,
Kapitalisme menimbulkan dampak yang lebih mengerikan daripada terorisme.
Kemiskinan, perbedaan status yang mencolok antara si kaya dan si
miskin, kerusakan lingkungan yang parah hingga penjajahan terselebung
atas nama perang melawan terorisme (padahal tujuan utamanya untuk
mengeksploitasi kekayaan alam negeri yang dijajahnya). Rusaklah
pokoknya. Saat ini, kapitalisme sendiripun tinggal menunggu detik-detik
kematiannya. Munculnya krisis keuangan hingga krisis kemanusiaan semakin
memperjelas betapa bobrok dan cacatnya ideologi ini. Banyak orang yang
mulai sadar bahwa ternyata kesejahteraan yang dijanjikan
kapitalis-sekuler-demokrasi cuma ilusi belaka.
Jadi, baik komunis ataupun kapitalis dalam melakukan perlawanan tidak terlepas dari
kekerasan dan pertumpahan darah dengan mengorbankan banyak pihak-pihak
yang tidak bersalah. Perlawanannya berlangsung cepat karena tergerak
dari emosi yang meledak-ledak. Perlawanan yang tidak hanya berusaha
menyingkirkan Pemerintah yang korup lagi dzalim, tapi juga berusaha
menyingkirkan peran Tuhan dalam mengatur kehidupan mereka. Padahal
kedzaliman akan terus berlanjut ketika penguasa dalam mengatur urusan
rakyatnya tidak menggunakan hukum-hukum/aturan-aturan yang telah
ditetapkan Tuhannya (Bukankah Pencipta yang lebih tahu apa yang
dibutuhkan oleh ciptaan-Nya?). Akal yang terbatas, nafsu yang tamak dan
ketidakmampuan dalam memahami kebutuhan semua rakyatnya menjadi satu
cacat besar yang akan membawa pemerintahannya kepada kedzaliman yang
lebih parah. Adapun pada dua ideologi ini, kesejahteraan yang dijanjikan
hanya berlangsung sesaat. Komunis dengan slogan sama rasa sama ratanya
ternyata berakhir pada sama menderita. Sedang Kapitalis, kesejahteraan
yang dijanjikan pun pada kenyataannya hanya dinikmati oleh segelintir
orang. Yaitu para penguasa dan pemilik modal. Rakyat miskin lagi-lagi
menjadi pihak yang tertindas dan paling sengsara.
Yang terakhir adalah Islam.
Akidah Islam memerintahkan setiap individu untuk menyembah Allah SWT
sebagaimana yang telah diperintahkan dan ditunjukkan oleh Rasulullah
saw. Penyembahan (ibâdah)kepada Allah SWT ini tidak hanya
termanifestasikan dalam tingkah laku pribadi. Karena, akidah Islam bukan
saja mendorong terbentuknya akhlak Islam, tetapi juga memberikan
penyelesaian yang menyeluruh terhadap semua urusan kemasyarakatan dan
pemerintahan. Artinya, Islam bukan Cuma sekedar akidah, tapi lebih jauh
dari itu, Islam adalah agama yang juga melahirkan Nidham (sistem)
kehidupan yang hukum-hukumnya (peraturan) meliputi semua aspek kehidupan
manusia. Dan tentu saja, bagi siapa saja yang berjuang untuk memuliakan
Islam dan berusaha menjadikan Islam sebagai satu-satunya sistem hukum
yang digunakan untuk mengatur segala perikehidupan manusia akan mendapat
balasan yang luar biasa digilai umat manusia: SURGA!! (tentu saja
lewat methode yang benar).
Contoh abadi revolusi Islam
adalah revolusi yang pernah digaungkan Nabi Muhammad SAW di Makkah dalam
menghancurkan tirani penguasa yang kala itu masih jahiliyyah. Bukan
dengan kekerasan. Bukan dengan Kudeta seperti yang kita lihat pada 2
ideologi di atas. Perlawanan Islam dimulai dari tahap paling dasar.
Merubah pemikiran. Para pengembannya benar-benar ditempa agar memiliki
Isi kepala (persepsi) yang sama, perasaan yang sama dan menginginkan
diatur pada sistem yang sama. Butuh waktu yang lama untuk membersihkan
pemikiran masyarakat dari sistem jahiliyah yang mengakar dan mengurat
nadi dalam diri mereka. Butuh hati yang teguh untuk tidak mudah tergoda
dengan tawaran-tawaran menggiurkan yang diberikan penguasa, untuk tidak
melakukan kompromi dengan sistem kufur yang menggurita saat itu. Butuh
keberanian yang luar biasa dalam menyampaikan kebenaran di tengah
kebathilan. Butuh mental yang sekeras baja dan keimanan sekokoh karang
dalam menggaungkan revolusi yang mengancam nyawa keluarga dan nyawa
pengemban ideologi ini. Hingga pada akhirnya revolusi yang dipimpin nabi
Muhammad saw menemukan ujungnya. Sistem Islam tegak di Madinah.
Perlahan
tapi pasti, keberadaannya menyebar ke penjuru bumi. Menakhlukkan 2
(dua) Imperium Besar yang paling berkuasa saat itu ; Imperium Persia dan
Romawi. Imperium Persia yang telah dibangun selama 1173 tahun dengan
luas 7.400.000 km2 takhluk di bawah Ideologi Islam!!! menyusul Imperium
Romawi yang mempunyai luas 5.000.000 km2 dan telah berkuasa selama 650
tahun juga berhasil ditundukkan di bawah Ideologi Islam. Kemudian
menggabungkan keduanya dan memberikan kesejahteraan dan perlindungan
pada masyarakat melebihi apa yang pernah diberikan oleh dua imperium
sebelumnya. Luarrrr biasa!!! Jika revolusi sebelumnya adalah revolusi
semu yang hanya melepaskan dahaga sesaat, maka Revolusi Islam adalah
Revolusi Hakiki yang mampu membangun peradaban paling gemilang yang
membentang hingga 2/3 dunia selama 13 Abad. Revolusi yang bergerak atas
dasar keinginan untuk melepaskan diri dari penghambaan terhadap sesama
manusia dan berusaha menjadikan Allah sebagai satu-satunya Penguasa
Tertinggi dan Penguasa Abadi.
Meski kejayaan Islam sempat
runtuh akibat pengkhianatan besar yang dilakukan Mustafa Kemal Attaturk
pada Tahun 1924, tapi ideologi ini tetap diemban oleh masing-masing
individu yang sadar akan kewajibannya untuk mengembalikan posisi Allah
sebagai satu-satunya pengatur yang berhak dipatuhi. Masing-masing
individu ini kemudian bersatu untuk menyusun langkah demi melanjutkan
kehidupan yang hanya diatur oleh Syariah Islam. Mereka berusaha menempuh
tahapan yang sama seperti yang dilakukan Nabi Muhammad Saw dalam
melakukan revolusi. Maka, dimanapun kawan menemukan mereka, maka duduk
dan dengarlah ide-ide yang diusungnya. Pelajari jurus-jurusnya. Lalu
bergabunglah dalam perjuangan yang sama. Mau? [df]
Selasa, 08 September 2015
Senin, 07 September 2015
Yang Tak Mau Menunggu
“Kalau saja aku bisa meminta pada Tuhan, putarkan roda waktu karna aku ingin memperbaiki semuanya”
Waktu bukanlah sebuah jarum jam yang bisa diputar balik sekehendak hati. Sekali saja salah memanfaatkannya tentu ia akan menjadi rekaman buruk berupa penyesalan dikemudian hari. Terkadang, perputaran waktu yang semakin hari semakin cepat ini membuat kita merasa tidak cukup dengan masa 24 jam yang Allah berikan. Terlebih bagi orang-orang yang suka menunda-nunda pekerjaan. Seperti yang dikatakan Benjamin Franklin bahwa kita mungkin bisa menunda waktu, tapi waktu tidak akan bisa. Ia akan terus melaju tanpa bisa dihentikan dengan cara apapun.
Seringkali kita baru menjadi orang-orang yang sadar akan bahayanya mengabaikan keberadaan waktu setelah semua kejadian buruk datang timpa menimpa. Setelah nafas tinggal satu-satu dikerongkongan, barulah sadar betapa waktu-waktu yang pernah dimiliki tidak pernah digunakan sebaik mungkin. Segala keburukan membayang, segala angan-angan agar waktu bisa diputar mundur menertawakan mereka yang terlambat melantunkan taubat. Merugilah manusia, sungguh merugilah.
Malik bin Nabi dalam bukunya yang berjudul Syarat-Syarat Kebangkitan menulis ungkapan yang menurut sebagian ulama adalah perkataan Nabi Saw.: “Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru, ‘Putra-putri Adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku, karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat.’”
Jika diperbandingkan dengan lamanya waktu di padang masyar yang 50.000 tahun itu, ternyata hidup manusia di dunia ini hanya 2 menit 1 detik (jika dipukul rata usia hidup = 60-70 thn). Sebentar sekali bukan? Lalu, dengan waktu yang sekejap itu masihkah kita membiarkan ia terbuang percuma? Sebagai seorang muslim, tentu waktu-waktu yang dilewati harus memiliki nilai ibadah. Maka jangankan untuk bermaksiat, dengan memiliki kesadaran bahwa betapa singkatnya waktu yang dimiliki ini, seorang muslim tentu juga akan belajar meninggalkan perkara-perkara mubah yang tidak punya nilai pahala di dalamnya.
Sama halnya dengan sahabat yang seringkali beralasan menunda berkerudung dan berjilbab sampai merasa siap, bukankah waktu tak mau menunggu untuk itu? Jika kematian datang, maka habislah waktu tanpa sempat menunaikan salah satu perintah besar yang Allah berikan kepada seorang muslimah. Ini baru satu kewajiban, bagaimana dengan kewajiban-kewajiban lain? Kewajiban untuk beramar ma’ruf nahyi munkar, kewajiban untuk meninggalkan riba, merajam orang-orang yang berzina, mengqishas orang-orang yang mencuri, kewajiban untuk menerapkan aturan Islam secara kaffah? Masihkah kita menjadi manusia penunda hingga kemudian Allah turunkan Azab yang besar untuk membuat kita sadar? Menjadi orang-orang yang bersegera menyambut seruan Allah tentu sebaik-baik sikap seorang muslim.
Berhenti menunda-nunda kewajiban.
"Orang bijak adalah dia yang hari ini mengerjakan apa yang orang bodoh akan mengerjakannya 3 hari kemudian" [Abdullah ibn Mubarrak]
Minggu, 06 September 2015
Reuni
(1)
Satu detik yang lalu aku mulai mengenalMu.
Engkau adalah candu.
Dan aku mulai gila jika sekejap kehilanganMu.
(2)
Alif Lam Ha.
Tak banyak yang ku tahu tentangMu.
Tapi namaMu selalu ku lafal dalam kerja, dalam kata, dalam rasa.
Meski terbata.
Bagiku, Engkau adalah muara.
Dan aku berusaha menantang badai agar tak karam sebelum mencapai pusaranMu.
(3)
PadaMu aku Luruh.
Harapku hanya sebatas menggenggam tanganMu.
Tapi Engkau berlari merengkuhku ke dalam dekapMu.
Engkau adalah segala.
Dan aku menangis malu sebab acap berkeluh Engkau mengabaikanku.
Jumat, 04 September 2015
Minggu, 30 Agustus 2015
Santuang Palalai
408
Purnama. Ibu Lingga makin resah menyaksikan anak perempuan pertamanya yang tak
kunjung dilamar orang. Tadi malam, usia Lingga tepat memasuki angka ke-34
tahun. Kasak kusuk gunjingan tetangga yang menjuluki anaknya perawan tua semakin
menggelisahkan hati dan pikiran ibu Lingga. Sebagai ibu, tentu ia juga ingin
melihat anaknya bisa tersenyum bahagia duduk di kursi pelaminan dan mempunyai
keluarga yang bahagia. Entah apa yang salah pada Lingga, sudah tak terhitung
berapa jumlah pria yang ibu kenalkan padanya, tapi semuanya berujung pada
kegagalan. Padahal tiga orang adiknya sudah lama mendahuluinya, bahkan si
bungsu sudah memiliki 2 orang anak yang lucu dan menggemaskan.
“Jangan-jangan,
si Lingga kena Santuang Palalai , Ni?” di suatu malam menjelang
pernikahan adik kedua Lingga, Mak Adang, adik laki-laki tertua Ibu Lingga
datang mengangetkannya dengan sangkaan yang mengerikan itu.
“Cobalah uni
perhatikan, sudah berapa banyak anak bujang orang yang datang kemari, tapi tak
satupun yang jadi. Berapa kali pulak kita turutkan kehendak dia datang
melamar orang yang dia suka, tapi semua di tolak. Cocoklah tu dengan
ciri-ciri orang kena Santuang Palalai. Orang ingin, dia tak mau. Giliran
dia mau, orang yang tak ingin”
☻☻☻
Sore ini hujan turun deras. Ibu terkantuk-kantuk duduk di depan jendela
sambil mendekap kantong plastik hitam yang akan beliau bawa ke orang pintar
kenalan Mak Adang. Ketika Lingga pulang, pintu depan tidak terkunci. Ia masuk
perlahan setelah mengucapkan salam yang tertelan riuhnya suara hujan.
Ditatapnya ibu yang tertidur sambil duduk berselonjor. Lingga mendekat,
berusaha membangunkan ibu agar pindah dan tidur di kamar. Belum lagi ia sempat
meluncurkan kata-kata, mata sipitnya membesar penuh keheranan melihat barang
yang di dekap ibunya. Ia penasaran. Tidak biasanya ibu tidur sambil mendekap
sesuatu. Dilepaskannya dengan pelan kantong plastik itu dari dekapan ibu. Ia
membukanya dengan hati-hati agar suara kresek-kresek dari kantong itu tidak
membangunkan ibu.
Satu persatu Lingga mengeluarkan isi kantong plastik, kemudian menyusunnya
di lantai. Ada jeruk purut, tujuh bungkus air, berbagai macam bunga-bungaan dan
beberapa benda lagi yang tak ia ketahui namanya. Lingga semakin penasaran, apa
yang ingin dilakukan ibunya dengan benda-benda ini. Ia berusaha membangun
imajinasi. Belum purna menyelesaikan imajinasinya, ibu terbangun kaget. Beliau
sontak merebut benda-benda aneh yang kini ada di hadapan Lingga.
“Buat
apa ini, Mai?” Ibu yang dipanggil Amai oleh Lingga menggigil
ditanyai begitu. Ini rahasia antara Ibu dengan Mak Adang saja. Tak ada seorang
pun yang boleh tau apa yang akan ibu lakukan dengan benda-benda itu.
“Eh,
anu.. apa itu, eh...” Ibu berusaha menjelaskan. Tapi tampaknya Ibu tak mampu
menguasai ketakutannya sehingga tak jelas lagi hendak berkata apa pada anaknya.
“Untuk
apa, Mai?” Lingga mengulangi pertanyaan. Ibu semakin bingung. Habis
sudah. Jika Lingga tahu untuk apa benda-benda ini beliau kumpulkan, mimpi-mimpi
agar Lingga bisa berkeluarga akan hancur lebur.
“Mai?
Amai tak main dukun, kan?” Bagai tersengat aliran listrik, aliran darah
Ibu Lingga terhenti. Mukanya pucat pasi. Sekali ketauan, esok tak mungkin lagi
ada jalan.
☻☻☻
Lingga
murka. Kali ini benar-benar murka. Ia memang 34 tahun sekarang. Bukan Cuma Ibu yang
resah memikirkan keadaannya yang tak kunjung menikah. Bahkan ia berlebih-lebih.
Bukan juga ia tidak berusaha untuk mengakhiri masa lajangnya ini. Tak terhitung
berapa banyak teman yang ia todong untuk membantunya mencarikan calon
pendamping. Tak terhitung juga berapa banyak jumlah lelaki yang berusaha
dijodohkan ibu dan keluarganya dengan Lingga. Tapi, semua berujung sama. Gagal
Lingga
bukan seorang yang pemilih. Tak begitu penting baginya kriteria-kriteria yang
fisik atau materi yang orientasinya dunia belaka. Asal jelas akidahnya, sholeh
dan memiliki visi dan misi yang sama dengannya dalam membina mahligai rumah
tangga, pasti akan ia terima. Ia sudah berusaha, nyatanya jika dalam penjajakan
yang ia lakoni selama ini belum bertemu kecocokan satu sama lain, ia bisa apa?
Apa
yang ibu akan lakukan sore ini benar-benar keterlaluan bagi Lingga. Benda-benda
yang dikumpulkan ibu tadi ternyata untuk dibawa ke dukun. ibu termakan asutan
Mak Adang bahwa Lingga benar-benar terkena Santuang Palalai, semacam
santet di daerah Sumatera Barat yang dikirim seseorang agar orang lain tidak
bisa menikah seumur hidupnya. 7 bungkus air yang dibungkus ibu ternyata adalah air yang diambil dari tujuh
sumur yang berbeda. Entah kapan ibu mengambilnya.
Jeruk purut yang melihatnya menerbitkan ngeri di hati Lingga pun tak jelas
kegunaannya untuk apa, juga bunga-bunga beraneka warna tersebut. Berdasarkan
penjelasan Amai, benda-benda tadi akan dicampurkan jadi satu dan setelah
dimantrai oleh si dukun, harus dipakai mandi oleh Lingga untuk membuang segala
kesialan dan santet Santuang Palalai tadi. Wayyooik yeh. Hebat
sekali itu dukun.
“Bu,
emangnya jodoh itu ada di tangan dukun?”
☻☻☻
Kasak-kusuk
tetangga, desakan-desakan orangtua dan keluarga, kadang membuat Lingga pusing
tujuh keliling. Dikuat-kuatkannya juga hatinya dengan satu pepatah pamungkas
ini “Alah, Asam di gunung, garam di laut, dalam belanga bertemu juga”. Lingga
yakin seyakin-yakinnya, jika Allah memang belum berkehendak mempertemukannya
dengan laki-laki yang -namanya tertuils di lauhul mahfuz- akan menjadi imam
bagi Lingga, sekeras apapun usaha Lingga saat ini, maka tak juga akan bertemu. Toh,
yang mengalami nasib seperti Lingga bukan Cuma ia sendiri. Masih banyak
perempuan-perempuan lain yang bernasib sama sepertinya. Toh, pada akhirnya
banyak juga dari mereka yang menikah meski di usia yang tak lagi muda. Ada yang
berjodoh dengan duda beranak banyak, ada yang menjadi istri kedua, tapi jarang
sekali yang bertemu dengan bujang lapuk pula.
“Ha,
kini ko apo nio Lingga? Diubekan pun ndak nio, kalau bantuak itu taruih, ndak
ka baralek-baralek Lingga nampaknyo ko doh. Lai namuah jadi perawan tuo, hah?” Ibu
mengadu pada Mak Adang rupanya. Tengah malam, ditingkahi suara hujan, Mak Adang
datang memarahi Lingga. “Sekarang apa mau Lingga? Tidak mau diobati, kalau
begini terus, Lingga gak akan pernah nikah-nikah”.
“Lingga kan ndak sakik
doh, Mak” jawab Lingga lirih. Lingga kan gak sakit, Mak. Mak Adang
membelalakan matanya, Lingga ciut.
“Kalau tak mau ke dukun,
kita undang orang-orang ke rumah untuk do’a selamatan. Sudah abis segala cara.
Resah kami melihat Lingga yang makin hari makin tua. Makin bertambah umur,
makin tak mau orang melamar Lingga. Anak gadis orang banyak yang muda dan
cantik-cantik. Jangankan datang, melihat ke Lingga pun anak bujang orang tak
hendak”
Lingga tertunduk lesu.
“Lingga tak mau, Mak......” ucapnya dalam hati.
☻☻☻
492
purnama. Empat puluh satu usia Lingga saat ini. Dipandangnya lagi foto berikut
proposal berisi biodata seorang pria yang dikirim temannya minggu lalu. Duda 3
orang anak. Usianya lebih tua 5 tahun dari Lingga. Bukan orang jauh. Mantan
suami kawan dekat Lingga yang berpulang ke rahmatulllah 3 tahun lalu. Segala
hal tentang laki-laki itu, Lingga tahu. Sebab dulu sering bergaul, anak-anaknya
pun begitu dekat dengan Lingga. Akhirnya setelah istikharah berkali-berkali,
hati Lingga semakin mantap untuk memutuskan. Dikirimnya sebuah pesan pendek
pada teman yang menjembatani perjodohannya kali ini “Assalamu’alaykum, ma’af
kak, Lingga belum bisa”.
Ia
menolak bukan karena tak mau bersuamikan duda, tapi ia tau bagaimana
kepribadian laki-laki tersebut. Meski usianya semakin menua, menjadikan agama
sebagai prioritas utama tetap takkan ia geser posisinya hanya karna takut
dilabeli predikat perawan tua atau terkena kutukan Santuang Palalai.
Tiba-tiba dadanya terasa lapang, lapang sekali.
Minggu, 23 Agustus 2015
Semata Wayang
Entah macam mana
lagi hendak mengingatkan perempuan tua yang kami panggil Anduang itu. Telah
habis segala nasihat, petatah petitih minang pun tak tinggal kami ucap. Tapi
Anduang bersikeras dengan keinginannya. Rumah besar ini mesti dijual. Titik.
Sesungguhnya pun kami tak ada sangkut paut dengan Anduang. Anak bukan, kerabat
pun tidak. Sebab rasa iba sajalah maka tak kami biarkan beliau menjual satu-satunya
harta yang ia miliki. Akan tinggal dimana kalau rumah itu nanti sudah laku
terjual? Aku tak yakin kalau anak semata wayang yang jadi alasan Anduang
menjual rumah ini akan mau menampung beliau.
“Kau ini macam
tak pernah punya anak. Kalau lah nyawa ini bisa dijual, aku jual jugalah demi
masa depan si Djasmun anakku itu” Nah, selalu ini yang diucapkan Anduang untuk
membekap mulutku dan orang-orang yang datang menasehati beliau.
“Sebentar lagi
anakku ambil kuliah S2 di Jerman. hebat, kan? Walaupun katanya dia hendak
mengganti rumahku ini nantinya, tapi aku tak berharap sangatlah. Dia jadi orang
hebat saja sudah tak terkira syukurku”
Aku menarik
nafas panjang. Anduang terlalu menaruh harap pada si Djasmun itu. Sampai otak
kecil itu tak lagi jernih dipakai untuk berpikir. Terlalu terobsesi anaknya
jadi orang hebat, orang sukses, orang besar. Anduang pun dulunya juga orang terpandang
di kampung kami. Suaminya Wali Nagari. Sawah berpetak-petak di lingkar bukit.
Urang Kayo Gadang kata orang Minang. Tapi roda hidup macam itulah. Sejak
suaminya mangkat, sepetak demi sepetak sawah itu pun ikut pula mangkat. Habis
dijual untuk biaya hidup Anduang yang tak biasa bekerja. Ditambah untuk
membesarkan anak kebanggaan yang kelak diharap Anduang bisa mengulang kebesaran
pangkat Bapaknya.
Maka dikuliahkanlah
si Djasmun ke Ibu kota negara. Tak tanggung-tanggung biayanya. Biarlah habis
sawah terjual, biarlah merasai badan. Kelak anak akan membalas jasa
orangtuanya. Itu pikir Anduang.
Tahun-tahun
pertama kuliah, rajin betul si Djasmun berkirim surat. Dia kirim juga foto kopi
nilai-nilai kuliahnya yang bagus. Tak terkira besarnya hati Anduang. Dibawanya
foto kopi nilai itu kemana-mana. Diperlihatkannya ke orang-orang kampung yang
ia temui di lapau-lapau, di surau, di sawah. Terasa jelas aroma kebanggaan itu
dari tuturnya.
“Tengoklah.
Aduhai bagus betul nilai-nilai si Djasmun. Sebagus masa depannya kelak. Majulah
Negeri kita ini kalau dia pulang. Semaju Ibu kota. Anak-anak kau yang tak
bekerja itu bolehlah besok dipekerjakan oleh anakku. Biar terciprat suksesnya
juga” orang-orang mengangguk-angguk saja mendengar Anduang membanggakan
anaknya. Ikut pula berharap si Djasmun itu nanti membuka lapangan pekerjaan di
kampung.
Dua tahun terlewati.
Djasmun pun masih sering berkirim surat meski tak lagi sesering dahulu. Kiriman
surat pun tak lagi beserta kopian nilai-nilai cemerlang itu. Isi suratnya cuma
berisi keluhan-keluhan duit yang selalu kurang. Uang kos naik, tugas kuliah
makin banyak, makan serba tak enak, penat pulang pergi kuliah jalan kaki, yang
kesemuanya berujung minta tambahan kiriman.
Hidup dan kuliah
di ibu kota negara memang sangat luar biasa mahalnya. Tapi tak mengapalah.
Apalah artinya biaya yang ia keluarkan sekarang jika dibandingkan dengan
kesuksesan yang akan diraih anaknya kelak? Maka semakin rajinlah Anduang
menjual sawahnya.
Hari-hari terus
saja berganti. Orang-orang muda di kampung silih berganti merantau ke pelosok
negeri. Tentu ada pula yang menuju ke ibu kota negara. Mereka pulang membawa
kabar berita bermacam ragam. Tentang si anu yang sukses berdagang, si fulan
yang beristrikan orang seberang, tak ketinggalan berita tentang Djasmun anaknya
semata wayang. Ramai bisik-bisik orang tentang Djasmun. Bisik buruklah.
Satu-dua orang datang menyampaikan kelakuan busuk Djasmun selagi di Ibu kota. Berharap
agar Anduang berhenti menjual sawah dan mengirimi si Djasmun itu uang. Betapa
sudah puluhan orang ditipunya, ratusan juta uang dibawanya kabur. Anduang naik
pitam, tega betul orang-orang menggosip jelek tentang anaknya. Dia kata semua
orang iri pada anaknya yang sebentar lagi berjaya. Ia tunjuk-tunjuk muka si
perantau yang pulang menyebar gosip itu. Dicaci makinya sambil meludah kiri
kanan. Sakit betul hatinya. Anaknya berbudi pekerti baik. Keturunan keluarga
baik-baik. Manalah mungkin berperangai buruk macam kabar si perantau itu. Uang pun
tak pernah kurang dikiriminya. Bagaimanalah mungkin ia akan menilap?
Lekas-lekas ia
pulang, menulis surat dengan muka bersungut-sungut. Ditumpahkan segala kesalnya
pada anaknya. “Cepatlah kau tamat, pulang dengan titel yang membanggakan. Sakit
betul hatiku kau digosip berperangai buruk. Kelak kalau kau sudah disini, kita
bungkam mulut orang-orang itu dengan kesuksesanmu. Rajin-rajin belajar. Sebut
apa yang kurang. Asal kau berhasil, nyawa pun rela Aku gadai”
Sejak hari itu,
orang-orang mulai memandang iba pada Anduang. Ingin betul menghentikan
harapan-harapan palsunya. Sekali dua kali aku pun datang memberi nasihat. Tapi
begitulah, Anduang tak percaya. Ia kata aku ikut pula mengiri. Padahal apa yang
hendak aku iri dari si Djasmun penipu itu?
Anduang tetap sibuk
membanggakan anaknya. Sampai ludahnya terciprat ke muka lawan bicaranya saking
semangatnya ia bercerita. Orang menyungging senyum sebelah. Hanya untuk
menghargai. Padahal dalam hati mengumpat si Djasmun. Sekali-kali orang lain
ikut pula menimpali seakan ikut berbangga “Senanglah tu, Nduang. Aku pun mau pula punya anak macam si Djasmun itu.
Sekolah tinggi, pangkat tinggi, gaji tinggi, pandai pula membalas budi. Cerah
hari tua ku kelak”
Tak terkira
melambungnya hati Anduang demi mendengar pujian kepada anaknya. Tak terasa
baginya padahal orang-orang berkata dengan nada menyindir. Ia sudah terbuai
angan-angan. Harapan-harapan itu telah menumpulkan otaknya. Obsesi-obsesi
kesuksesan itu menyiksa dirinya sendiri. Ia tak percaya pada omongan orang.
Bagaimanapun, anaknya tetap yang terbaik. Anaknya pasti membalas budi.
Surat pun datang
lagi. Anaknya hendak melanjutkan kuliah S2 ke Jerman. Tak tanggung-tanggung
berhitung puluhan juta biayanya. Sawah tak ada lagi. Habis tergadai demi 5
tahun kuliah Djasmun. Apalagi yang ia punya? Maka terpikirlah untuk menjual
rumah peninggalan suaminya ini. Anduang sibuk kesana kemari mencari pembeli.
Aku pun tak ketinggalan ditawari. Kadang kalau sedang tak ke sawah, aku temani
jugalah Anduang ke kampung sebelah mencari pembeli. Ada satu dua orang yang
berminat, tapi harga tak sesuai.
Aku kasihan pada
beliau. Begitu pun para tetangga. Bagaimanapun Anduang sudah tua. Lebih
setengah abad usianya. Hendak tinggal dimana lagi ia kalau rumah ini
benar-benar terjual? Kerabat tak punya, anak pun cuma si Djasmun yang disangka
bakal sukses itu. Tak tega rasanya membiarkan Anduang larut dalam
harapan-harapan palsu yang dihembus-hembuskan Djasmun. Kami tau ia tak lagi
kuliah di Ibu kota sana sejak 2 tahun lalu. Sibuk keluar masuk penjara. Macam
mana pula hendak lanjut S-2? Ke Jerman pula katanya? Omong kosong!
Atas rasa tak
tega itu, kuhubungi saudara perantau disana, mencari tau kabar Djasmun. Hendak
apa ia gerangan dengan uang puluhan juta itu. Dan aduhai, perih lah hati saat
tau kebenarannya. Anduang bisa mati berdiri kalau tau apa guna uang itu bagi
anak kebanggaannya. Itu uang buat tebusan. Tak ada itu S-2. Omong kosong soal
Jerman. Aku tau Anduang tak akan percaya jika ku beri tahu apa yang dilakukan
anaknya di Ibu kota. Aku bisa dihardik, dituduh pengiri. Sebab itu, setelah
rumah laku terjual, uang sudah di tangan, aku bujuk Anduang untuk mengantar
langsung uang itu kepada anaknya ke ibu kota. Lagi pula mereka sudah lama tak
bersua. Anduang pasti rindu berlipat-lipat. Anduang tak mau, ia takut anaknya
akan buyar konsentrasinya jika bertemu Anduang. Anaknya bisa batal ke Jerman
demi melihat wajah sendu Anduang saat melepas kepergiannya. Aah, anduang
terlalu berangan-angan.
Aku tak patah
arang, tetap kupaksa-paksa ia dengan seribu macam alasan. “Jerman itu jauh,
Nduang. Entah takdir berkata lain. Bisa jadi pesawatnya jatuh di laut. Tak
ingin Anduang melepas kepergiannya langsung? Mungkin juga ini pertemuan
terakhir, siapa tahu?” lalu Anduang pun luluh.
Tiga hari lagi
kami berangkat. Memberi kejutan besar pada Djasmun yang bakal jadi orang
sukses. Yang bakal S-2 ke luar negeri. Ku larang Anduang memberi kabar lewat
surat, telegram atau telpon sekalipun. Ini rahasia. Ini kejutan. Kejutan yang
akan membongkar kedok busuk Djasmun tak tahu di untung itu.
Tepat jam 6
pagi, setelah berhari-hari menahan sesak aroma bus yang bercampur keringat, bau
orang tak mandi, anyir muntah dan gerahnya perjalanan, sampai jugalah kami di
terminal jakarta ini. Disini pagi turun lebih cepat rupanya. Lihatlah alam
telah terang benderang. Beda betul dengan kampung kami yang dikelilingi bukit.
Jam segini suasana masih gelap, orang-orang masih berkelimun dalam selimut.
Saudaraku sudah menunggu dengan oplet birunya. Sebelum menuju ke tempat
Djasmun, dibawanya kami sarapan dan menumpang mandi di rumahnya. Tapi Anduang
begitu tak sabaran. Ia tak selera makan, juga malas mandi. Ingin betul segera
bertemu anaknya. Rindunya telah menggelegak. Tak sanggup lagi ia menahannya.
Aku seakan tak tega membawanya menemui Djasmun. Tak tega melihat reaksi Anduang
saat kedok si penipu itu terbongkar. Tapi bagaimanalah. Aroma bangkai itu sudah
saatnya tercium di hidung Anduang.
Setelah segar,
kami pun berangkat. Semakin dekat menuju hunian Djasmun, jantungku makin
berlompatan tak karuan. Hawa panas menjalari mukaku. Kulihat Anduang duduk tak
tenang. Wajahnya sumringah. Kadang senyum mengembang. Entah. Kurang lebih tiga
puluh menit perjalanan, tibalah kami di penginapan Djasmun. Anduang bertanya
heran “Kenapa pula kita kesini? Bukannya kau hendak membawaku bertemu Djasmun?”
Aku bingung
menyusun kata-kata. Aku melirik saudaraku. Dia angkat bicara “Djasmun ada di
dalam, Nduang”. Anduang tak lagi banyak tanya, isi kepalanya dipenuhi prasangka
baik terhadap anaknya. Mungkin ada yang diurus anaknya disini.
Semakin
melangkah ke dalam, semakin berat kakiku. Saudaraku menyuruh kami menunggu. Ia
mengurus izin jenguk pada petugas. Anduang meremas-remas jarinya. Aku mendengar
degup jantungnya. Rindunya benar-benar telah mengepundan. Selang beberapa menit
petugas mengantar kami menemui Djasmun. Hawa panas makin menjalari wajahku.
Degup jantungku tak karuan. Keringat dingin berjatuhan. Aku menahan tangan
Anduang. Tak tega membiarkannya melihat kenyataan pahit ini. Tapi Anduang makin
tak sabaran. Didahuluinya langkahku. Tepat 5 langkah di depan kami, Anduang
terhenti. Begitupun jantungnya juga ikut berhenti. Tiba-tiba rasanya suara jam
di dinding turut pula berhenti. Anginpun berhenti. Semua berhenti. Djasmun
terperanjat kaget di depan sana dengan baju tahanan penjara bernomor 1345.
Bibirnya bergetar ketakutan. Kedoknya terbongkar. Tapi Anduang sudah limbung
duluan. Ia tak kuasa menahan kenyataan. Anaknya tidak akan ke jerman, anaknya
akan menjadi penghuni hotel prodeo. Entah sampai kapan.[]
Jumat, 07 Agustus 2015
Batas
Garis-garis telah dilukis pada
setiap bentangan masa yang samar
Entahkah bising angin masih
singgahi helai rambut sewarna abu
Seperti kilatan petir yang selalu
datang tiba-tiba
Tak pernah ada pertanda
Dan aku terbata mengeja batas-batas
masa
Kamis, 09 Juli 2015
Kenakalan Remaja dan Beban Berat Pendidikan
Beberapa
tahun belakangan hari-hari kita selalu dihiasi pemberitaan negatif terhadap berbagai bentuk kasus kenakalan
remaja. Bahkan menjadi trending topic
yang tidak ada habisnya baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Pasalnya,
kenakalan remaja yang kian melampaui batas telah memakan banyak korban jiwa.
Mulai dari tawuran pelajar, penyalahgunaan narkoba, merebaknya seks bebas di
kalangan remaja yang berujung aborsi, pembunuhan bermotif asmara dan ratusan
ribu kasus lainnya yang bertebaran di berbagai daerah di Indonesia.
Tawuran
pelajar seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perilaku pelajar. Komisi
Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) mencatat ada 229 kasus tawuran pelajar sepanjang
Januari-Oktober tahun 2013. Jumlah ini meningkat sekitar 44 persen dibanding
tahun lalu yang hanya 128 kasus. Dalam 229 kasus kekerasan antarpelajar SMP dan
SMA itu, 19 siswa meninggal dunia. (tempo.com/20/11/2013)
Untuk
kasus penyalahgunaan narkoba Badan Narkotika Nasional mencatat terdapat 110
ribu pecandu atau penyalahguna narkotika dan obat-obatan terlarang yang berada
di berbagai wilayah kabupaten dan kota di Riau. (antaranews.com/3/11/2013). Ditambah data menyedihkan dari Direktorat
Reserse Narkoba Polda Riau yang mencatat sebanyak 131 siswa sekolah dasar,
sepanjang Januari-September 2013, menjadi pelaku pengguna dan pengedar
narkotika serta obat-obatan terlarang (narkoba). (merdeka.com/10/10/2013)
Bukti-bukti
kenakalan remaja seakan tak ada habisnya. Angka seks bebas di kalangan remaja
semakin tinggi dari ke hari. Sebab, tercatat 46 persen remaja berusia 15-19
tahun sudah berhubungan seksual. Bahkan data Sensus Nasional menunjukkan 48-51 persen
perempuan hamil adalah remaja. Dari 3.339 kasus yang dilaporkan kepada Komnas
Anak pada 2013, sebanyak 58 persen merupakan kasus kejahatan seksual. Dari
jumlah itu, 16 persen pelakunya merupakan anak-anak. (bkkbn.go.id)
Fakta
terhadap tinggi dan mengerikannya angka kenakalan remaja ini menjadi beban
berat yang menimbulkan sebuah tanya: “Bagaimana gambaran masa depan generasi
bangsa ini?”
Sistem
pendidikan yang sekuler telah gagal mengantarkan generasi bangsa menjadi
generasi yang muslih, cerdas, peduli bangsa dan kelak mampu menjadi
pemimpin yang ideal.
Ada dua hal yang menyebabkan
kegagalan pendidikan tersebut. Pertama, paradigma pendidikan yang
keliru dengan asas sekuler. Tujuan pendidikan yang ditetapkan juga sekedar
membentuk manusia-manusia yang berpaham materialistik dan serba individualistik.
Padahal dalam Undang-Undang
Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan
pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan mulia dari pendidikan
seperti yang tertuang di dalam undang-undang ini mustahil bisa diwujudkan
selama sistem yang diterapkan di Indonesia adalah sistem kapitalisme sekuler.
Sistem yang memisahkan peranan agama dalam mengatur kehidupan. Sebab dalam
sistem ini agama hanya dijadikan sebatas pengetahuan dan aturan ritual belaka.
Dimana seluruh aturan hidup dibuat berlandaskan keterbatasan akal manusia
semata, sehingga mustahil mampu melahirkan generasi yang bertakwa, cerdas dan
mulia.
Kedua,
sinergi antara sekolah, masyarakat, dan keluarga. Pendidikan yang integral
harus melibatkan tiga unsur di atas. Sebab, ketiga unsur di atas menggambarkan
kondisi faktual obyektif pendidikan. Saat ini ketiga unsur tersebut belum
berjalan secara sinergis, di samping masing-masing unsur tersebut juga belum
berfungsi secara benar.
Buruknya pendidikan anak di rumah
memberi beban berat kepada sekolah/kampus dan menambah keruwetan persoalan di
tengah-tengah masyarakat seperti terjadinya tawuran pelajar, seks bebas,
narkoba, dan sebagainya. Keluarga di rumah semestinya menjadi filter atas
berbagai pemahaman dan pengetahuan baru yang diperolehnya di luar rumah. Di
rumah tentu saja orang tua menghadapi tantangan bahwa mereka harus jadi contoh
yang baik, terutama masalah integritas. Metode terbaik dalam membuat orang tua
memberikan perhatian besar pada anak-anaknya adalah menanamkan kesadaran bahwa
mereka sedang membentuk calon pemimpin masa depan dan menanamkan kesadaran,
bahwa setiap Muslim adalah bagian dari umat terbaik (khairu
ummah), dan itu diperlukan agar dia dapat efektif melakukan amar
ma’ruf dan nahy munkar (QS. Ali Imran : 110).
Pada saat yang sama, situasi
masyarakat yang buruk jelas membuat nilai-nilai yang mungkin sudah berhasil
ditanamkan di tengah keluarga dan sekolah/kampus menjadi kurang optimal.
Apalagi jika pendidikan yang diterima di sekolah juga kurang bagus, maka semakin
lengkaplah kehancuran dari tiga pilar pendidikan tersebut.
Di dalam Islam, pendidikan bagi
setiap Muslim merupakan kebutuhan dasar. Allah SWT telah mewajibkan setiap
Muslim untuk menuntut ilmu dan membekali dirinya dengan berbagai macam ilmu
untuk dapat menyelesaikan permasalahan dirinya, keluarga, masyarakat dan
negara.
Rasulullah saw. bersabda: Menuntut
ilmu wajib atas setiap Muslim (HR Ibnu Majah).
Dalam hadis lain dikatakan, “Jadilah
kamu orang berilmu, atau pencari ilmu, atau pendengar (ilmu), atau pecinta
(ilmu)j jangan menjadi yang kelima (orang bodoh) nanti kamu binasa.”
(Lihat: Al-Fathul Kabir, I/204).
Islam menjadikan aqidah Islam sebagai
dasar kurikulum pendidikan. Dengan keyakinan penuh bahwa untuk mewujudkan
generasi berjiwa pemimpin memerlukan kurikulum berkualitas yang disusun
berdasarkan dan berorientasikan ideology Islam bukan pasar. Materi dan metode
pendidikan didesain sedemikian rupa sehingga peserta didik memahami dan
meyakini bahwa eksistensi Allah swt dengan segala sifat-sifat uluhiyahnya
adalah realitas, kesadaran ini dimanivestasikan dengan memandang keridhoan
Allah swt sebagai kebahagiaan tertinggi, dan keterikatan kepada syariat Allah
swt adalah hal yang mutlak. Disamping itu peserta didik memandang Islam
sebagai sistem kehidupan satu-satunya yang layak bagi manusia. Di atas
prinsip-prinsip ini nilai-nilai, akhlak mulia benar-benar menghiasi segenap aktivitas
pelajar.
Islam memandang bahwa negara wajib
menyiapkan orang tua yang berkualitas. Negara harus mendorong dan memfasilitasi
orangtua dalam meningkatkan kemampuannya dalam mendidik anaknya agar tercapai
output pendidikan. Orangtua harus memiliki kepribadian Islam, karna orangtua
adalah orang pertama yang akan dicontoh oleh anak dan menjadi guru pertama dan
utama bagi anak-anaknya. Disamping menyiapkan orangtua yang berkualitas, negara
juga harus berusaha menyediakan guru-guru yang berkualitas. Yang memiliki
kepribadian Islam, yang akan menjadi model bagi anak-anak didiknya.
Sudah saatnya dunia pendidikan
mempertimbangkan sistem pendidikan yang ditawarkan Islam. Karna telah terbukti
mampu melahirkan generasi emas yang kehebatannya baik dalam pemerintahan,
sains dan teknologi, militer hingga ekonomi diakui oleh dunia semisal Umar
bin Abdul Azis, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Muhammad Alfatih, dll. []
Langganan:
Postingan (Atom)


