Senin, 07 September 2015

Yang Tak Mau Menunggu


“Kalau saja aku bisa meminta pada Tuhan, putarkan roda waktu karna aku ingin memperbaiki semuanya”

Waktu bukanlah sebuah jarum jam yang bisa diputar balik sekehendak hati. Sekali saja salah memanfaatkannya tentu ia akan menjadi rekaman buruk berupa penyesalan dikemudian hari. Terkadang, perputaran waktu yang semakin hari semakin cepat ini membuat kita merasa tidak cukup dengan masa 24 jam yang Allah berikan. Terlebih bagi orang-orang yang suka menunda-nunda pekerjaan.  Seperti yang dikatakan Benjamin Franklin bahwa kita mungkin bisa menunda waktu, tapi waktu tidak akan bisa. Ia akan terus melaju tanpa bisa dihentikan dengan cara apapun.

Seringkali kita baru menjadi orang-orang yang sadar akan bahayanya mengabaikan keberadaan waktu setelah semua kejadian buruk datang timpa menimpa. Setelah nafas tinggal satu-satu dikerongkongan, barulah sadar betapa waktu-waktu yang pernah dimiliki tidak pernah digunakan sebaik mungkin. Segala keburukan membayang, segala angan-angan agar waktu bisa diputar mundur menertawakan mereka yang terlambat melantunkan taubat. Merugilah manusia, sungguh merugilah.

Malik bin Nabi dalam bukunya yang berjudul Syarat-Syarat Kebangkitan menulis ungkapan yang menurut sebagian ulama adalah perkataan Nabi Saw.: “Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru, ‘Putra-putri Adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku, karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat.’”

Jika diperbandingkan dengan lamanya waktu di padang masyar yang 50.000 tahun itu, ternyata hidup manusia di dunia ini hanya 2 menit 1 detik (jika dipukul rata usia hidup = 60-70 thn). Sebentar sekali bukan? Lalu, dengan waktu yang sekejap itu masihkah kita membiarkan ia terbuang percuma? Sebagai seorang muslim, tentu waktu-waktu yang dilewati harus memiliki nilai ibadah. Maka jangankan untuk bermaksiat, dengan memiliki kesadaran bahwa betapa singkatnya waktu yang dimiliki ini, seorang muslim tentu juga akan belajar meninggalkan perkara-perkara mubah yang tidak punya nilai pahala di dalamnya.

Sama halnya dengan sahabat yang seringkali beralasan menunda berkerudung dan berjilbab sampai merasa siap, bukankah waktu tak mau menunggu untuk itu? Jika kematian datang, maka habislah waktu tanpa sempat menunaikan salah satu perintah besar yang Allah berikan kepada seorang muslimah. Ini baru satu kewajiban, bagaimana dengan kewajiban-kewajiban lain? Kewajiban untuk beramar ma’ruf nahyi munkar, kewajiban untuk meninggalkan riba, merajam orang-orang yang berzina, mengqishas orang-orang yang mencuri, kewajiban untuk menerapkan aturan Islam secara kaffah? Masihkah kita menjadi manusia penunda hingga kemudian Allah turunkan Azab yang besar untuk membuat kita sadar? Menjadi orang-orang yang bersegera menyambut seruan Allah tentu sebaik-baik sikap seorang muslim.

Berhenti menunda-nunda kewajiban.
"Orang bijak adalah dia yang hari ini mengerjakan apa yang orang bodoh akan mengerjakannya 3 hari kemudian" [Abdullah ibn Mubarrak]

0 komentar:

Posting Komentar