Beberapa
tahun belakangan saya mulai membiasakan diri untuk menonton siaran
berita. Bukan untuk apa-apa. Hanya ingin tahu perkembangan ekopolisosbud
dan tingkah polah kaum borjuis yang duduk di senayan. Tapi, semakin
rajin mengikuti perkembangannya, kok ya hidup saya jadi semakin nggak
tenang. Ada begitu banyak hal yang membuat dada saya sesak dan emosi
serasa ingin meledak. Betapa tidak, para aparatur negara yang setiap 5
tahun sekali diganti untuk mengatur urusan rakyat ternyata malah
menindas dan mengkhianati rakyat. Mulai dari kasus korupsi yang tidak
selesai-selesai, pembuatan undang-undang yang tidak pernah memihak
rakyat, buruknya sistem pendidikan, kemiskinan yang kian merata hingga
drama komedi yang terjadi di ruang rapat DPR yang membuat kita seakan
ingin muntah.
Pastinya bukan cuma saya yang serasa ingin
meledak dan ingin muntah. Kamu juga, kan? Diluar sana pun juga sudah
semakin banyak rakyat yang mulai sadar akan kebobrokan sistem dan
tingkah polah aparatur negara di Indonesia ini. Kemarahan yang dipendam
rakyat lama-lama akan menggelinding bak bola salju. Semakin lama semakin
besar dan siap menghantam serta meluluhlantakkan pemerintahan dzalim
ini. Tapi, tunggu dulu. Bicara tentang hantam menghantam, kamu ingin
menghantam dengan jurus apa? Jurus Reformasi atau Revolusi? Bingung,
ya? mari saya perjelas pilihannya...
Antara Reformasi dengan Revolusi
Apa perbedaan antara reformasi dengan revolusi? Reformasi adalah perubahan atas sistem yang ada, artinya reformasi itu tidak pernah mulai dari titik nol.
Reformasi lebih merupakan sebuah reaksi atas ketidakmampuan sistem yang
berlaku yang menghendaki perubahan dari suatu kondisi ke arah kondisi
yang lebih baik (Rizal Musytansir). Di Indonesia sendiri jika
kita membincang tentang reformasi maka ingatan langsung mengarah pada
peristiwa reformasi 1998 yang dilakukan mahasiswa dalam rangka
menggulingkan rezim Soeharto yang dinilai korup dan menyimpang.
Sedangkan Revolusi
adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat
dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam
revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa
direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau
melalui kekerasan.Revolusi menghendaki suatu upaya untuk merobohkan,
menjebol, dan membangun dari sistem lama kepada suatu sistem yang sama
sekali baru dan senantiasa berkaitan dengan dialektika, logika,
romantika, menjebol dan membangun (Wikipedia).
Mas Fajar 212 dalam buku Republik Mafioso-nya membedakan reformasi dan revolusi seperti ini : “Reformasi
itu seumpama pohon yang terkena penyakit maka pengikut reformasi akan
mencari sumber penyakit tersebut, menyuntikkan obat yang manjur,
serta memotong ranting2 yang terkena penyakit (‘Tambal Sulam’ bahasa
gaulnya-red). Maka beda pula perlakuan para penganut revolusi, bagi para
revolusionis pohon tersebutlah sumber penyakitnya, maka tanpa ragu2
mereka akan menggobangnya, merobohkannya, mencongkel akarnya dari tanah,
kemudian mereka akan menanam pohon yang baru di atas tanah tersebut”.
Ketemu
kan bedanya? Jadi, mau pilih jurus yang mana? Kalo saya lebih memilih
revolusi aja. Karna pada dasarnya kebobrokan yang kita saksikan
sekarang memang berakar pada kesalahan sistem kapitalis demokrasi yang
rusak. Ibarat pohon yang sakit tadi, sistem ini memang benar-benar harus
dicerabut hingga ke akar-akarnya dan harus diganti dengan sistem yang
baru, yang terbukti mampu menyejahterakan dan melindungi entitas di
dalamnya. Namun, Jika kita mengambil reformasi -ibarat abis minum obat
pereda rasa sakit yang cuma ngilangin sakit sesaat- kita harus siap
menderita lagi, harus siap ngurut dada lagi, harus siap meledak lagi.
Apa gak capek? -___-“
Bukan Revolusi semu; Kenali Ideologi kita
“Ideologi
tanpa aksi dan revolusi hanyalah sebongkah kajian dalam salah satu
kuliah kita. Dan revolusi tanpa ideologi maka dia akan menjelma menjadi
anarki”(Fajar 212)
Sejatinya, sebuah perjuangan
melawan ketertindasan tidak semata hanya dimodali semangat ingin bebas
dan merdeka saja. Tapi lebih dari itu, sebuah perjuangan harus dibangun
dari pondasi yang kokoh agar ia tidak menjadi sekedar pertumpahan darah
belaka yang hanya didasarkan pada rasa muak pada kedzaliman dan
kesewenang-wenangan penguasa dengan emosi yang meletup-letup. Diperlukan
sebuah ramuan ideologi agar jurus perlawanan yang dilakukan tidak hampa
nilai, tidak sia-sia. Sebab ideologi sendiri merupakan sebuah way of
life yang akan menjadi tolak ukur dan pemantik dasar landasan setiap
perbuatan manusia. Sudah menguras tenaga, menguras waktu, menguras uang,
menguras darah... eh, taunya gak dapat nilai apa-apa di mata Sang
Pencipta. Cape’ deech. Karena itu, biar Jurus Revolusi yang kita pake
bukan jurus palsu. Yuuuk, kenali dulu ideologi kita.
Secara umum, ideologi (Arab : mabda`) menurut Muhammad Muhammad. Ismail dalam Al FikruAlIslami (1958), adalah "al fikrual asasitubnaalaihiafkaar".
(pemikiran mendasar yang di atasnya dibangun pemikiran-pemikiran
lain). Pemikiran mendasar ini merupakan pemikiran paling asasi pada
manusia, dalam arti tidak ada lagi pemikiran lain yang lebih dalam atau
lebih mendasar daripadanya. Pemikiran mendasar ini dapat disebut sebagai
aqidah, yang merupakan pemikiran menyeluruh tentang manusia,
alam semesta, dan kehidupan. Sedang pemikiran-pemikiran cabang yang
dibangun di atas dasar aqidah tadi, merupakan peraturan bagi kehidupan
manusia (nizham) dalam segala aspeknya seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya.
Sesuatu disebut ideologi jika ia memenuhi 2 syarat penyusunannya, yaitu tersusun dari Fikrah (Ide) dan Thariqah
(metode). Menurut Syaikh Taqiyyudin An Nabhani dalam buku Nizham Al
Islam-nya Fikrah merupakan sekumpulan konsep/pemikiran yang terdiri dari
aqidah dan solusi terhadap masalah manusia. Sedang thariqah –yang
merupakan metodologi penerapan ideologi secara operasional-praktis—
terdiri dari penjelasan cara solusi masalah, cara penyebarluasan
ideologi, dan cara pemeliharan aqidah. Jadi, ideologi ditinjau dari sisi
ini adalah gabungan dari fikrah dan thariqah, sebagai satu kesatuan.
(Taqiyyudin An Nabhani, 1953, Nizham Al Islam, hlm. 22-23). Intinya adalah keberadaan Thariqah merupakan suatu keharusan agar fikrah dapat terwujud.
Berdasarkan
penjelasan di atas, kita temukan bahwa di dunia ini ternyata hanya ada 3
Ideologi. Yaitu Komunisme-Materialisme, Kapitalisme-Sekulerisme dan
Islam. Nah, syarat sebuah ideologi dikatakan benar jika ia : (1) Sesuai
dengan fitrah manusia yang selalu ingin mentaqdiskan
(menyembah/menyucikan sesuatu) ; (2) Memuaskan akal ; (3) Menentramkan
hati.
Ideologi Komunis-sosialis sendiri dibangun dari akidah rusak materialisme yang
menyatakan bahwa segala hal yang ada di dunia ini berasal dari materi
dan akan kembali menjadi materi. Tuhan telah mati bagi penganut dan
pengemban ideologi ini. Ia menganggap bahwa agama adalah candu yang
meracuni, melenakan dan menghambat perkembangan masyarakat.
Tau
Revolusi Bolshevik yang terjadi di Rusia? Revolusi yang lahir untuk
melakukan perlawanan demi meruntuhkan Rezim Tsar Nicholas II yang
terlampau Dzalim dan sewenang-wenang, yang memperlakukan rakyatnya
dengan semena-mena, tanpa prikemanusiaan. Revolusi yang digawangi oleh
Vladimir Illich Ulyanov (Lenin) dan kawan-kawannya ini berdiri di atas
ideologi Komunis-Sosialis. Ide sama rasa sama rata yang diusungnya
ternyata melahirkan banyak dukungan dari masyarakat yang sudah lama
gerah dengan ulah pemerintahan mereka pada saat itu.
Adapun Ideologi Kapitalis dibangun dari akidah sekulerisme (pemisahan
agama dengan kehidupan). Sekalipun mengakui keberadaan Pencipta tapi
pengemban ideologi ini berusaha untuk mengebiri peran Pencipta dalam
mengatur kehidupan mereka. Mereka berpendapat bahwa manusia berhak untuk
mengatur kehidupannya sendiri. Dari sinilah lahir paham yang memberi
kebebasan pada manusia dalam bertingkah laku, beragama, berpendapat dan
memiliki sesuatu. Kapitalisme kemudian melahirkan banyak anak ‘haram’
yang kini digunakan hampir seluruh masyarakat di dunia untuk mengatur
kehidupan mereka : Sekulerisme, Demokrasi, Liberalisme, Pluralisme, dll.
Contoh
revolusi yang berada di bawah payung Kapitalis-sekuler adalah Revolusi
Perancis. Pernah ketemu di pelajaran Sejarah kan? Nah, lagi-lagi
revolusi ini lahir akibat perbuatan zalim manusia. Semboyan L’etat c’est
moi (negara adalah saya) yang diagung-agungkan Raja Lois XVI akhirnya
menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Masa kepemimpinannya dipenuhi
dengan penyimpangan dan penindasan terhadap rakyat dengan
mengatasnamakan agama. Raja Lois XVI membebankan pajak yang begitu besar
kepada rakyatnya yang miskin untuk berpesta pora dan itu dilakukan atas
persetujuan gereja (dari sini nih sekulerisme itu lahir)! Terang saja
rakyat murka, geram dan marah. Akhirnya, bersama kaum borjuis dan kaum
terpelajar, rakyat menyerang penjara Bastille yang menjadi simbol
kekuasaan Raja Lois XVI, menangkap raja dan istrinya untuk diadili.
Setelah
Rezim Raja Lois runtuh, orang-orang sibuk mencari model kekuasaan yang
adil, yang tidak dimonopoli oleh orang atau kelompok-kelompok tertentu.
Maka jatuhlah pilihan pada Kapitalisme-sekuler dengan Demokrasi (satu
sistem kuno yang pernah diterapkan di Athena-Yunani) sebagai sistem
pemerintahan alternatifnya. Dengan slogan populernya “Vox Populi vox dei
(suara rakyat adalah suara tuhan)” atau dalam bahasa Abraham Lincoln,
demokrasi adalah sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk
rakyat.
Bisa dikatakan saat ini satu-satunya ideologi yang
mendominasi dunia setelah runtuhnya komunis-sosialis adalah Kapitalisme
(Dengan Amerika sebagai pengemban utamanya). Tapi sungguh sangat
disayangkan, ideologi yang mereka agung-agungkan ini pada kenyataannya
juga menyimpan banyak kelemahan. Seperti yang dikatan John Perkins,
Kapitalisme menimbulkan dampak yang lebih mengerikan daripada terorisme.
Kemiskinan, perbedaan status yang mencolok antara si kaya dan si
miskin, kerusakan lingkungan yang parah hingga penjajahan terselebung
atas nama perang melawan terorisme (padahal tujuan utamanya untuk
mengeksploitasi kekayaan alam negeri yang dijajahnya). Rusaklah
pokoknya. Saat ini, kapitalisme sendiripun tinggal menunggu detik-detik
kematiannya. Munculnya krisis keuangan hingga krisis kemanusiaan semakin
memperjelas betapa bobrok dan cacatnya ideologi ini. Banyak orang yang
mulai sadar bahwa ternyata kesejahteraan yang dijanjikan
kapitalis-sekuler-demokrasi cuma ilusi belaka.
Jadi, baik komunis ataupun kapitalis dalam melakukan perlawanan tidak terlepas dari
kekerasan dan pertumpahan darah dengan mengorbankan banyak pihak-pihak
yang tidak bersalah. Perlawanannya berlangsung cepat karena tergerak
dari emosi yang meledak-ledak. Perlawanan yang tidak hanya berusaha
menyingkirkan Pemerintah yang korup lagi dzalim, tapi juga berusaha
menyingkirkan peran Tuhan dalam mengatur kehidupan mereka. Padahal
kedzaliman akan terus berlanjut ketika penguasa dalam mengatur urusan
rakyatnya tidak menggunakan hukum-hukum/aturan-aturan yang telah
ditetapkan Tuhannya (Bukankah Pencipta yang lebih tahu apa yang
dibutuhkan oleh ciptaan-Nya?). Akal yang terbatas, nafsu yang tamak dan
ketidakmampuan dalam memahami kebutuhan semua rakyatnya menjadi satu
cacat besar yang akan membawa pemerintahannya kepada kedzaliman yang
lebih parah. Adapun pada dua ideologi ini, kesejahteraan yang dijanjikan
hanya berlangsung sesaat. Komunis dengan slogan sama rasa sama ratanya
ternyata berakhir pada sama menderita. Sedang Kapitalis, kesejahteraan
yang dijanjikan pun pada kenyataannya hanya dinikmati oleh segelintir
orang. Yaitu para penguasa dan pemilik modal. Rakyat miskin lagi-lagi
menjadi pihak yang tertindas dan paling sengsara.
Yang terakhir adalah Islam.
Akidah Islam memerintahkan setiap individu untuk menyembah Allah SWT
sebagaimana yang telah diperintahkan dan ditunjukkan oleh Rasulullah
saw. Penyembahan (ibâdah)kepada Allah SWT ini tidak hanya
termanifestasikan dalam tingkah laku pribadi. Karena, akidah Islam bukan
saja mendorong terbentuknya akhlak Islam, tetapi juga memberikan
penyelesaian yang menyeluruh terhadap semua urusan kemasyarakatan dan
pemerintahan. Artinya, Islam bukan Cuma sekedar akidah, tapi lebih jauh
dari itu, Islam adalah agama yang juga melahirkan Nidham (sistem)
kehidupan yang hukum-hukumnya (peraturan) meliputi semua aspek kehidupan
manusia. Dan tentu saja, bagi siapa saja yang berjuang untuk memuliakan
Islam dan berusaha menjadikan Islam sebagai satu-satunya sistem hukum
yang digunakan untuk mengatur segala perikehidupan manusia akan mendapat
balasan yang luar biasa digilai umat manusia: SURGA!! (tentu saja
lewat methode yang benar).
Contoh abadi revolusi Islam
adalah revolusi yang pernah digaungkan Nabi Muhammad SAW di Makkah dalam
menghancurkan tirani penguasa yang kala itu masih jahiliyyah. Bukan
dengan kekerasan. Bukan dengan Kudeta seperti yang kita lihat pada 2
ideologi di atas. Perlawanan Islam dimulai dari tahap paling dasar.
Merubah pemikiran. Para pengembannya benar-benar ditempa agar memiliki
Isi kepala (persepsi) yang sama, perasaan yang sama dan menginginkan
diatur pada sistem yang sama. Butuh waktu yang lama untuk membersihkan
pemikiran masyarakat dari sistem jahiliyah yang mengakar dan mengurat
nadi dalam diri mereka. Butuh hati yang teguh untuk tidak mudah tergoda
dengan tawaran-tawaran menggiurkan yang diberikan penguasa, untuk tidak
melakukan kompromi dengan sistem kufur yang menggurita saat itu. Butuh
keberanian yang luar biasa dalam menyampaikan kebenaran di tengah
kebathilan. Butuh mental yang sekeras baja dan keimanan sekokoh karang
dalam menggaungkan revolusi yang mengancam nyawa keluarga dan nyawa
pengemban ideologi ini. Hingga pada akhirnya revolusi yang dipimpin nabi
Muhammad saw menemukan ujungnya. Sistem Islam tegak di Madinah.
Perlahan
tapi pasti, keberadaannya menyebar ke penjuru bumi. Menakhlukkan 2
(dua) Imperium Besar yang paling berkuasa saat itu ; Imperium Persia dan
Romawi. Imperium Persia yang telah dibangun selama 1173 tahun dengan
luas 7.400.000 km2 takhluk di bawah Ideologi Islam!!! menyusul Imperium
Romawi yang mempunyai luas 5.000.000 km2 dan telah berkuasa selama 650
tahun juga berhasil ditundukkan di bawah Ideologi Islam. Kemudian
menggabungkan keduanya dan memberikan kesejahteraan dan perlindungan
pada masyarakat melebihi apa yang pernah diberikan oleh dua imperium
sebelumnya. Luarrrr biasa!!! Jika revolusi sebelumnya adalah revolusi
semu yang hanya melepaskan dahaga sesaat, maka Revolusi Islam adalah
Revolusi Hakiki yang mampu membangun peradaban paling gemilang yang
membentang hingga 2/3 dunia selama 13 Abad. Revolusi yang bergerak atas
dasar keinginan untuk melepaskan diri dari penghambaan terhadap sesama
manusia dan berusaha menjadikan Allah sebagai satu-satunya Penguasa
Tertinggi dan Penguasa Abadi.
Meski kejayaan Islam sempat
runtuh akibat pengkhianatan besar yang dilakukan Mustafa Kemal Attaturk
pada Tahun 1924, tapi ideologi ini tetap diemban oleh masing-masing
individu yang sadar akan kewajibannya untuk mengembalikan posisi Allah
sebagai satu-satunya pengatur yang berhak dipatuhi. Masing-masing
individu ini kemudian bersatu untuk menyusun langkah demi melanjutkan
kehidupan yang hanya diatur oleh Syariah Islam. Mereka berusaha menempuh
tahapan yang sama seperti yang dilakukan Nabi Muhammad Saw dalam
melakukan revolusi. Maka, dimanapun kawan menemukan mereka, maka duduk
dan dengarlah ide-ide yang diusungnya. Pelajari jurus-jurusnya. Lalu
bergabunglah dalam perjuangan yang sama. Mau? [df]
Selasa, 08 September 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar