Entah macam mana
lagi hendak mengingatkan perempuan tua yang kami panggil Anduang itu. Telah
habis segala nasihat, petatah petitih minang pun tak tinggal kami ucap. Tapi
Anduang bersikeras dengan keinginannya. Rumah besar ini mesti dijual. Titik.
Sesungguhnya pun kami tak ada sangkut paut dengan Anduang. Anak bukan, kerabat
pun tidak. Sebab rasa iba sajalah maka tak kami biarkan beliau menjual satu-satunya
harta yang ia miliki. Akan tinggal dimana kalau rumah itu nanti sudah laku
terjual? Aku tak yakin kalau anak semata wayang yang jadi alasan Anduang
menjual rumah ini akan mau menampung beliau.
“Kau ini macam
tak pernah punya anak. Kalau lah nyawa ini bisa dijual, aku jual jugalah demi
masa depan si Djasmun anakku itu” Nah, selalu ini yang diucapkan Anduang untuk
membekap mulutku dan orang-orang yang datang menasehati beliau.
“Sebentar lagi
anakku ambil kuliah S2 di Jerman. hebat, kan? Walaupun katanya dia hendak
mengganti rumahku ini nantinya, tapi aku tak berharap sangatlah. Dia jadi orang
hebat saja sudah tak terkira syukurku”
Aku menarik
nafas panjang. Anduang terlalu menaruh harap pada si Djasmun itu. Sampai otak
kecil itu tak lagi jernih dipakai untuk berpikir. Terlalu terobsesi anaknya
jadi orang hebat, orang sukses, orang besar. Anduang pun dulunya juga orang terpandang
di kampung kami. Suaminya Wali Nagari. Sawah berpetak-petak di lingkar bukit.
Urang Kayo Gadang kata orang Minang. Tapi roda hidup macam itulah. Sejak
suaminya mangkat, sepetak demi sepetak sawah itu pun ikut pula mangkat. Habis
dijual untuk biaya hidup Anduang yang tak biasa bekerja. Ditambah untuk
membesarkan anak kebanggaan yang kelak diharap Anduang bisa mengulang kebesaran
pangkat Bapaknya.
Maka dikuliahkanlah
si Djasmun ke Ibu kota negara. Tak tanggung-tanggung biayanya. Biarlah habis
sawah terjual, biarlah merasai badan. Kelak anak akan membalas jasa
orangtuanya. Itu pikir Anduang.
Tahun-tahun
pertama kuliah, rajin betul si Djasmun berkirim surat. Dia kirim juga foto kopi
nilai-nilai kuliahnya yang bagus. Tak terkira besarnya hati Anduang. Dibawanya
foto kopi nilai itu kemana-mana. Diperlihatkannya ke orang-orang kampung yang
ia temui di lapau-lapau, di surau, di sawah. Terasa jelas aroma kebanggaan itu
dari tuturnya.
“Tengoklah.
Aduhai bagus betul nilai-nilai si Djasmun. Sebagus masa depannya kelak. Majulah
Negeri kita ini kalau dia pulang. Semaju Ibu kota. Anak-anak kau yang tak
bekerja itu bolehlah besok dipekerjakan oleh anakku. Biar terciprat suksesnya
juga” orang-orang mengangguk-angguk saja mendengar Anduang membanggakan
anaknya. Ikut pula berharap si Djasmun itu nanti membuka lapangan pekerjaan di
kampung.
Dua tahun terlewati.
Djasmun pun masih sering berkirim surat meski tak lagi sesering dahulu. Kiriman
surat pun tak lagi beserta kopian nilai-nilai cemerlang itu. Isi suratnya cuma
berisi keluhan-keluhan duit yang selalu kurang. Uang kos naik, tugas kuliah
makin banyak, makan serba tak enak, penat pulang pergi kuliah jalan kaki, yang
kesemuanya berujung minta tambahan kiriman.
Hidup dan kuliah
di ibu kota negara memang sangat luar biasa mahalnya. Tapi tak mengapalah.
Apalah artinya biaya yang ia keluarkan sekarang jika dibandingkan dengan
kesuksesan yang akan diraih anaknya kelak? Maka semakin rajinlah Anduang
menjual sawahnya.
Hari-hari terus
saja berganti. Orang-orang muda di kampung silih berganti merantau ke pelosok
negeri. Tentu ada pula yang menuju ke ibu kota negara. Mereka pulang membawa
kabar berita bermacam ragam. Tentang si anu yang sukses berdagang, si fulan
yang beristrikan orang seberang, tak ketinggalan berita tentang Djasmun anaknya
semata wayang. Ramai bisik-bisik orang tentang Djasmun. Bisik buruklah.
Satu-dua orang datang menyampaikan kelakuan busuk Djasmun selagi di Ibu kota. Berharap
agar Anduang berhenti menjual sawah dan mengirimi si Djasmun itu uang. Betapa
sudah puluhan orang ditipunya, ratusan juta uang dibawanya kabur. Anduang naik
pitam, tega betul orang-orang menggosip jelek tentang anaknya. Dia kata semua
orang iri pada anaknya yang sebentar lagi berjaya. Ia tunjuk-tunjuk muka si
perantau yang pulang menyebar gosip itu. Dicaci makinya sambil meludah kiri
kanan. Sakit betul hatinya. Anaknya berbudi pekerti baik. Keturunan keluarga
baik-baik. Manalah mungkin berperangai buruk macam kabar si perantau itu. Uang pun
tak pernah kurang dikiriminya. Bagaimanalah mungkin ia akan menilap?
Lekas-lekas ia
pulang, menulis surat dengan muka bersungut-sungut. Ditumpahkan segala kesalnya
pada anaknya. “Cepatlah kau tamat, pulang dengan titel yang membanggakan. Sakit
betul hatiku kau digosip berperangai buruk. Kelak kalau kau sudah disini, kita
bungkam mulut orang-orang itu dengan kesuksesanmu. Rajin-rajin belajar. Sebut
apa yang kurang. Asal kau berhasil, nyawa pun rela Aku gadai”
Sejak hari itu,
orang-orang mulai memandang iba pada Anduang. Ingin betul menghentikan
harapan-harapan palsunya. Sekali dua kali aku pun datang memberi nasihat. Tapi
begitulah, Anduang tak percaya. Ia kata aku ikut pula mengiri. Padahal apa yang
hendak aku iri dari si Djasmun penipu itu?
Anduang tetap sibuk
membanggakan anaknya. Sampai ludahnya terciprat ke muka lawan bicaranya saking
semangatnya ia bercerita. Orang menyungging senyum sebelah. Hanya untuk
menghargai. Padahal dalam hati mengumpat si Djasmun. Sekali-kali orang lain
ikut pula menimpali seakan ikut berbangga “Senanglah tu, Nduang. Aku pun mau pula punya anak macam si Djasmun itu.
Sekolah tinggi, pangkat tinggi, gaji tinggi, pandai pula membalas budi. Cerah
hari tua ku kelak”
Tak terkira
melambungnya hati Anduang demi mendengar pujian kepada anaknya. Tak terasa
baginya padahal orang-orang berkata dengan nada menyindir. Ia sudah terbuai
angan-angan. Harapan-harapan itu telah menumpulkan otaknya. Obsesi-obsesi
kesuksesan itu menyiksa dirinya sendiri. Ia tak percaya pada omongan orang.
Bagaimanapun, anaknya tetap yang terbaik. Anaknya pasti membalas budi.
Surat pun datang
lagi. Anaknya hendak melanjutkan kuliah S2 ke Jerman. Tak tanggung-tanggung
berhitung puluhan juta biayanya. Sawah tak ada lagi. Habis tergadai demi 5
tahun kuliah Djasmun. Apalagi yang ia punya? Maka terpikirlah untuk menjual
rumah peninggalan suaminya ini. Anduang sibuk kesana kemari mencari pembeli.
Aku pun tak ketinggalan ditawari. Kadang kalau sedang tak ke sawah, aku temani
jugalah Anduang ke kampung sebelah mencari pembeli. Ada satu dua orang yang
berminat, tapi harga tak sesuai.
Aku kasihan pada
beliau. Begitu pun para tetangga. Bagaimanapun Anduang sudah tua. Lebih
setengah abad usianya. Hendak tinggal dimana lagi ia kalau rumah ini
benar-benar terjual? Kerabat tak punya, anak pun cuma si Djasmun yang disangka
bakal sukses itu. Tak tega rasanya membiarkan Anduang larut dalam
harapan-harapan palsu yang dihembus-hembuskan Djasmun. Kami tau ia tak lagi
kuliah di Ibu kota sana sejak 2 tahun lalu. Sibuk keluar masuk penjara. Macam
mana pula hendak lanjut S-2? Ke Jerman pula katanya? Omong kosong!
Atas rasa tak
tega itu, kuhubungi saudara perantau disana, mencari tau kabar Djasmun. Hendak
apa ia gerangan dengan uang puluhan juta itu. Dan aduhai, perih lah hati saat
tau kebenarannya. Anduang bisa mati berdiri kalau tau apa guna uang itu bagi
anak kebanggaannya. Itu uang buat tebusan. Tak ada itu S-2. Omong kosong soal
Jerman. Aku tau Anduang tak akan percaya jika ku beri tahu apa yang dilakukan
anaknya di Ibu kota. Aku bisa dihardik, dituduh pengiri. Sebab itu, setelah
rumah laku terjual, uang sudah di tangan, aku bujuk Anduang untuk mengantar
langsung uang itu kepada anaknya ke ibu kota. Lagi pula mereka sudah lama tak
bersua. Anduang pasti rindu berlipat-lipat. Anduang tak mau, ia takut anaknya
akan buyar konsentrasinya jika bertemu Anduang. Anaknya bisa batal ke Jerman
demi melihat wajah sendu Anduang saat melepas kepergiannya. Aah, anduang
terlalu berangan-angan.
Aku tak patah
arang, tetap kupaksa-paksa ia dengan seribu macam alasan. “Jerman itu jauh,
Nduang. Entah takdir berkata lain. Bisa jadi pesawatnya jatuh di laut. Tak
ingin Anduang melepas kepergiannya langsung? Mungkin juga ini pertemuan
terakhir, siapa tahu?” lalu Anduang pun luluh.
Tiga hari lagi
kami berangkat. Memberi kejutan besar pada Djasmun yang bakal jadi orang
sukses. Yang bakal S-2 ke luar negeri. Ku larang Anduang memberi kabar lewat
surat, telegram atau telpon sekalipun. Ini rahasia. Ini kejutan. Kejutan yang
akan membongkar kedok busuk Djasmun tak tahu di untung itu.
Tepat jam 6
pagi, setelah berhari-hari menahan sesak aroma bus yang bercampur keringat, bau
orang tak mandi, anyir muntah dan gerahnya perjalanan, sampai jugalah kami di
terminal jakarta ini. Disini pagi turun lebih cepat rupanya. Lihatlah alam
telah terang benderang. Beda betul dengan kampung kami yang dikelilingi bukit.
Jam segini suasana masih gelap, orang-orang masih berkelimun dalam selimut.
Saudaraku sudah menunggu dengan oplet birunya. Sebelum menuju ke tempat
Djasmun, dibawanya kami sarapan dan menumpang mandi di rumahnya. Tapi Anduang
begitu tak sabaran. Ia tak selera makan, juga malas mandi. Ingin betul segera
bertemu anaknya. Rindunya telah menggelegak. Tak sanggup lagi ia menahannya.
Aku seakan tak tega membawanya menemui Djasmun. Tak tega melihat reaksi Anduang
saat kedok si penipu itu terbongkar. Tapi bagaimanalah. Aroma bangkai itu sudah
saatnya tercium di hidung Anduang.
Setelah segar,
kami pun berangkat. Semakin dekat menuju hunian Djasmun, jantungku makin
berlompatan tak karuan. Hawa panas menjalari mukaku. Kulihat Anduang duduk tak
tenang. Wajahnya sumringah. Kadang senyum mengembang. Entah. Kurang lebih tiga
puluh menit perjalanan, tibalah kami di penginapan Djasmun. Anduang bertanya
heran “Kenapa pula kita kesini? Bukannya kau hendak membawaku bertemu Djasmun?”
Aku bingung
menyusun kata-kata. Aku melirik saudaraku. Dia angkat bicara “Djasmun ada di
dalam, Nduang”. Anduang tak lagi banyak tanya, isi kepalanya dipenuhi prasangka
baik terhadap anaknya. Mungkin ada yang diurus anaknya disini.
Semakin
melangkah ke dalam, semakin berat kakiku. Saudaraku menyuruh kami menunggu. Ia
mengurus izin jenguk pada petugas. Anduang meremas-remas jarinya. Aku mendengar
degup jantungnya. Rindunya benar-benar telah mengepundan. Selang beberapa menit
petugas mengantar kami menemui Djasmun. Hawa panas makin menjalari wajahku.
Degup jantungku tak karuan. Keringat dingin berjatuhan. Aku menahan tangan
Anduang. Tak tega membiarkannya melihat kenyataan pahit ini. Tapi Anduang makin
tak sabaran. Didahuluinya langkahku. Tepat 5 langkah di depan kami, Anduang
terhenti. Begitupun jantungnya juga ikut berhenti. Tiba-tiba rasanya suara jam
di dinding turut pula berhenti. Anginpun berhenti. Semua berhenti. Djasmun
terperanjat kaget di depan sana dengan baju tahanan penjara bernomor 1345.
Bibirnya bergetar ketakutan. Kedoknya terbongkar. Tapi Anduang sudah limbung
duluan. Ia tak kuasa menahan kenyataan. Anaknya tidak akan ke jerman, anaknya
akan menjadi penghuni hotel prodeo. Entah sampai kapan.[]
2 komentar:
Bagus, aku suka baca ceritanya ^o^...dr awal ampe akhir, ga pgn berhenti.. Malah ikutan jd gemes pas tau si djasmun itu ternyata boongin ibunya :)
Makasi banyak ya Mak udah meluangkan waktu baca ini sampai habis. :)
Posting Komentar