Minggu, 23 Agustus 2015

Semata Wayang



Entah macam mana lagi hendak mengingatkan perempuan tua yang kami panggil Anduang itu. Telah habis segala nasihat, petatah petitih minang pun tak tinggal kami ucap. Tapi Anduang bersikeras dengan keinginannya. Rumah besar ini mesti dijual. Titik. Sesungguhnya pun kami tak ada sangkut paut dengan Anduang. Anak bukan, kerabat pun tidak. Sebab rasa iba sajalah maka tak kami biarkan beliau menjual satu-satunya harta yang ia miliki. Akan tinggal dimana kalau rumah itu nanti sudah laku terjual? Aku tak yakin kalau anak semata wayang yang jadi alasan Anduang menjual rumah ini akan mau menampung beliau.
“Kau ini macam tak pernah punya anak. Kalau lah nyawa ini bisa dijual, aku jual jugalah demi masa depan si Djasmun anakku itu” Nah, selalu ini yang diucapkan Anduang untuk membekap mulutku dan orang-orang yang datang menasehati beliau.
“Sebentar lagi anakku ambil kuliah S2 di Jerman. hebat, kan? Walaupun katanya dia hendak mengganti rumahku ini nantinya, tapi aku tak berharap sangatlah. Dia jadi orang hebat saja sudah tak terkira syukurku”
Aku menarik nafas panjang. Anduang terlalu menaruh harap pada si Djasmun itu. Sampai otak kecil itu tak lagi jernih dipakai untuk berpikir. Terlalu terobsesi anaknya jadi orang hebat, orang sukses, orang besar. Anduang pun dulunya juga orang terpandang di kampung kami. Suaminya Wali Nagari. Sawah berpetak-petak di lingkar bukit. Urang Kayo Gadang kata orang Minang. Tapi roda hidup macam itulah. Sejak suaminya mangkat, sepetak demi sepetak sawah itu pun ikut pula mangkat. Habis dijual untuk biaya hidup Anduang yang tak biasa bekerja. Ditambah untuk membesarkan anak kebanggaan yang kelak diharap Anduang bisa mengulang kebesaran pangkat Bapaknya.
Maka dikuliahkanlah si Djasmun ke Ibu kota negara. Tak tanggung-tanggung biayanya. Biarlah habis sawah terjual, biarlah merasai badan. Kelak anak akan membalas jasa orangtuanya. Itu pikir Anduang.
Tahun-tahun pertama kuliah, rajin betul si Djasmun berkirim surat. Dia kirim juga foto kopi nilai-nilai kuliahnya yang bagus. Tak terkira besarnya hati Anduang. Dibawanya foto kopi nilai itu kemana-mana. Diperlihatkannya ke orang-orang kampung yang ia temui di lapau-lapau, di surau, di sawah. Terasa jelas aroma kebanggaan itu dari tuturnya.
“Tengoklah. Aduhai bagus betul nilai-nilai si Djasmun. Sebagus masa depannya kelak. Majulah Negeri kita ini kalau dia pulang. Semaju Ibu kota. Anak-anak kau yang tak bekerja itu bolehlah besok dipekerjakan oleh anakku. Biar terciprat suksesnya juga” orang-orang mengangguk-angguk saja mendengar Anduang membanggakan anaknya. Ikut pula berharap si Djasmun itu nanti membuka lapangan pekerjaan di kampung.
Dua tahun terlewati. Djasmun pun masih sering berkirim surat meski tak lagi sesering dahulu. Kiriman surat pun tak lagi beserta kopian nilai-nilai cemerlang itu. Isi suratnya cuma berisi keluhan-keluhan duit yang selalu kurang. Uang kos naik, tugas kuliah makin banyak, makan serba tak enak, penat pulang pergi kuliah jalan kaki, yang kesemuanya berujung minta tambahan kiriman.
Hidup dan kuliah di ibu kota negara memang sangat luar biasa mahalnya. Tapi tak mengapalah. Apalah artinya biaya yang ia keluarkan sekarang jika dibandingkan dengan kesuksesan yang akan diraih anaknya kelak? Maka semakin rajinlah Anduang menjual sawahnya.
Hari-hari terus saja berganti. Orang-orang muda di kampung silih berganti merantau ke pelosok negeri. Tentu ada pula yang menuju ke ibu kota negara. Mereka pulang membawa kabar berita bermacam ragam. Tentang si anu yang sukses berdagang, si fulan yang beristrikan orang seberang, tak ketinggalan berita tentang Djasmun anaknya semata wayang. Ramai bisik-bisik orang tentang Djasmun. Bisik buruklah. Satu-dua orang datang menyampaikan kelakuan busuk Djasmun selagi di Ibu kota. Berharap agar Anduang berhenti menjual sawah dan mengirimi si Djasmun itu uang. Betapa sudah puluhan orang ditipunya, ratusan juta uang dibawanya kabur. Anduang naik pitam, tega betul orang-orang menggosip jelek tentang anaknya. Dia kata semua orang iri pada anaknya yang sebentar lagi berjaya. Ia tunjuk-tunjuk muka si perantau yang pulang menyebar gosip itu. Dicaci makinya sambil meludah kiri kanan. Sakit betul hatinya. Anaknya berbudi pekerti baik. Keturunan keluarga baik-baik. Manalah mungkin berperangai buruk macam kabar si perantau itu. Uang pun tak pernah kurang dikiriminya. Bagaimanalah mungkin ia akan menilap?
Lekas-lekas ia pulang, menulis surat dengan muka bersungut-sungut. Ditumpahkan segala kesalnya pada anaknya. “Cepatlah kau tamat, pulang dengan titel yang membanggakan. Sakit betul hatiku kau digosip berperangai buruk. Kelak kalau kau sudah disini, kita bungkam mulut orang-orang itu dengan kesuksesanmu. Rajin-rajin belajar. Sebut apa yang kurang. Asal kau berhasil, nyawa pun rela Aku gadai”
Sejak hari itu, orang-orang mulai memandang iba pada Anduang. Ingin betul menghentikan harapan-harapan palsunya. Sekali dua kali aku pun datang memberi nasihat. Tapi begitulah, Anduang tak percaya. Ia kata aku ikut pula mengiri. Padahal apa yang hendak aku iri dari si Djasmun penipu itu?
Anduang tetap sibuk membanggakan anaknya. Sampai ludahnya terciprat ke muka lawan bicaranya saking semangatnya ia bercerita. Orang menyungging senyum sebelah. Hanya untuk menghargai. Padahal dalam hati mengumpat si Djasmun. Sekali-kali orang lain ikut pula menimpali seakan ikut berbangga “Senanglah tu, Nduang. Aku pun  mau pula punya anak macam si Djasmun itu. Sekolah tinggi, pangkat tinggi, gaji tinggi, pandai pula membalas budi. Cerah hari tua ku kelak”
Tak terkira melambungnya hati Anduang demi mendengar pujian kepada anaknya. Tak terasa baginya padahal orang-orang berkata dengan nada menyindir. Ia sudah terbuai angan-angan. Harapan-harapan itu telah menumpulkan otaknya. Obsesi-obsesi kesuksesan itu menyiksa dirinya sendiri. Ia tak percaya pada omongan orang. Bagaimanapun, anaknya tetap yang terbaik. Anaknya pasti membalas budi.
Surat pun datang lagi. Anaknya hendak melanjutkan kuliah S2 ke Jerman. Tak tanggung-tanggung berhitung puluhan juta biayanya. Sawah tak ada lagi. Habis tergadai demi 5 tahun kuliah Djasmun. Apalagi yang ia punya? Maka terpikirlah untuk menjual rumah peninggalan suaminya ini. Anduang sibuk kesana kemari mencari pembeli. Aku pun tak ketinggalan ditawari. Kadang kalau sedang tak ke sawah, aku temani jugalah Anduang ke kampung sebelah mencari pembeli. Ada satu dua orang yang berminat, tapi harga tak sesuai.
Aku kasihan pada beliau. Begitu pun para tetangga. Bagaimanapun Anduang sudah tua. Lebih setengah abad usianya. Hendak tinggal dimana lagi ia kalau rumah ini benar-benar terjual? Kerabat tak punya, anak pun cuma si Djasmun yang disangka bakal sukses itu. Tak tega rasanya membiarkan Anduang larut dalam harapan-harapan palsu yang dihembus-hembuskan Djasmun. Kami tau ia tak lagi kuliah di Ibu kota sana sejak 2 tahun lalu. Sibuk keluar masuk penjara. Macam mana pula hendak lanjut S-2? Ke Jerman pula katanya? Omong kosong!
Atas rasa tak tega itu, kuhubungi saudara perantau disana, mencari tau kabar Djasmun. Hendak apa ia gerangan dengan uang puluhan juta itu. Dan aduhai, perih lah hati saat tau kebenarannya. Anduang bisa mati berdiri kalau tau apa guna uang itu bagi anak kebanggaannya. Itu uang buat tebusan. Tak ada itu S-2. Omong kosong soal Jerman. Aku tau Anduang tak akan percaya jika ku beri tahu apa yang dilakukan anaknya di Ibu kota. Aku bisa dihardik, dituduh pengiri. Sebab itu, setelah rumah laku terjual, uang sudah di tangan, aku bujuk Anduang untuk mengantar langsung uang itu kepada anaknya ke ibu kota. Lagi pula mereka sudah lama tak bersua. Anduang pasti rindu berlipat-lipat. Anduang tak mau, ia takut anaknya akan buyar konsentrasinya jika bertemu Anduang. Anaknya bisa batal ke Jerman demi melihat wajah sendu Anduang saat melepas kepergiannya. Aah, anduang terlalu berangan-angan.
Aku tak patah arang, tetap kupaksa-paksa ia dengan seribu macam alasan. “Jerman itu jauh, Nduang. Entah takdir berkata lain. Bisa jadi pesawatnya jatuh di laut. Tak ingin Anduang melepas kepergiannya langsung? Mungkin juga ini pertemuan terakhir, siapa tahu?” lalu Anduang pun luluh.
Tiga hari lagi kami berangkat. Memberi kejutan besar pada Djasmun yang bakal jadi orang sukses. Yang bakal S-2 ke luar negeri. Ku larang Anduang memberi kabar lewat surat, telegram atau telpon sekalipun. Ini rahasia. Ini kejutan. Kejutan yang akan membongkar kedok busuk Djasmun tak tahu di untung itu.
Tepat jam 6 pagi, setelah berhari-hari menahan sesak aroma bus yang bercampur keringat, bau orang tak mandi, anyir muntah dan gerahnya perjalanan, sampai jugalah kami di terminal jakarta ini. Disini pagi turun lebih cepat rupanya. Lihatlah alam telah terang benderang. Beda betul dengan kampung kami yang dikelilingi bukit. Jam segini suasana masih gelap, orang-orang masih berkelimun dalam selimut. Saudaraku sudah menunggu dengan oplet birunya. Sebelum menuju ke tempat Djasmun, dibawanya kami sarapan dan menumpang mandi di rumahnya. Tapi Anduang begitu tak sabaran. Ia tak selera makan, juga malas mandi. Ingin betul segera bertemu anaknya. Rindunya telah menggelegak. Tak sanggup lagi ia menahannya. Aku seakan tak tega membawanya menemui Djasmun. Tak tega melihat reaksi Anduang saat kedok si penipu itu terbongkar. Tapi bagaimanalah. Aroma bangkai itu sudah saatnya tercium di hidung Anduang.
Setelah segar, kami pun berangkat. Semakin dekat menuju hunian Djasmun, jantungku makin berlompatan tak karuan. Hawa panas menjalari mukaku. Kulihat Anduang duduk tak tenang. Wajahnya sumringah. Kadang senyum mengembang. Entah. Kurang lebih tiga puluh menit perjalanan, tibalah kami di penginapan Djasmun. Anduang bertanya heran “Kenapa pula kita kesini? Bukannya kau hendak membawaku bertemu Djasmun?”
Aku bingung menyusun kata-kata. Aku melirik saudaraku. Dia angkat bicara “Djasmun ada di dalam, Nduang”. Anduang tak lagi banyak tanya, isi kepalanya dipenuhi prasangka baik terhadap anaknya. Mungkin ada yang diurus anaknya disini.
Semakin melangkah ke dalam, semakin berat kakiku. Saudaraku menyuruh kami menunggu. Ia mengurus izin jenguk pada petugas. Anduang meremas-remas jarinya. Aku mendengar degup jantungnya. Rindunya benar-benar telah mengepundan. Selang beberapa menit petugas mengantar kami menemui Djasmun. Hawa panas makin menjalari wajahku. Degup jantungku tak karuan. Keringat dingin berjatuhan. Aku menahan tangan Anduang. Tak tega membiarkannya melihat kenyataan pahit ini. Tapi Anduang makin tak sabaran. Didahuluinya langkahku. Tepat 5 langkah di depan kami, Anduang terhenti. Begitupun jantungnya juga ikut berhenti. Tiba-tiba rasanya suara jam di dinding turut pula berhenti. Anginpun berhenti. Semua berhenti. Djasmun terperanjat kaget di depan sana dengan baju tahanan penjara bernomor 1345. Bibirnya bergetar ketakutan. Kedoknya terbongkar. Tapi Anduang sudah limbung duluan. Ia tak kuasa menahan kenyataan. Anaknya tidak akan ke jerman, anaknya akan menjadi penghuni hotel prodeo. Entah sampai kapan.[]



2 komentar:

fanny Nila (dcatqueen.com) mengatakan...

Bagus, aku suka baca ceritanya ^o^...dr awal ampe akhir, ga pgn berhenti.. Malah ikutan jd gemes pas tau si djasmun itu ternyata boongin ibunya :)

Dhia agustia mengatakan...

Makasi banyak ya Mak udah meluangkan waktu baca ini sampai habis. :)

Posting Komentar