Di penghujung musim semi, angin semilir membangkitkan semangat kami bersepeda ke kolam pemancingan. Pagi-pagi sekali Jonan sudah datang menenteng peralatan memancing. Ia berteriak memanggilku dari luar pagar "hei, pemalas! Ini sudah jam 10 pagi!"
Aku meraih sepatu. Memasangnya sambil menggerutu dan memasang wajah cemberut pada Jonan. Lihatlah, jam di pergelangan tanganku baru menunjukan pukul 6.30. Aku tahu dia membohongiku.
"Aku tidak tidur semalaman gara-gara julukan itu", ucapku kesal. Ia terkekeh lucu. Huh, dia tak tau, karna takut tak bisa bangun lebih awal, aku terpaksa menahan kantuk semalam suntuk.
Lalu kami bersepeda melewati jalanan yang masih sepi. Melindas bunga-bunga cantik yang berguguran dari pohon zierkirsche. Jonan mengayuh sepedanya dengan cepat. Aku mengikuti di belakang. Hari ini aku tidak terlalu bersemangat untuk balapan. Kami tiba di kolam pemancingan sekitar pukul 7.30. Lumayan melelahkan mengayuh sepeda selama 1 jam. Aku memarkirkan sepeda di depan pintu masuk. Jonan mengikuti. Setelah mendaftar dan membeli tiket masuk, ritual memancing hari ini pun dimulai.
0 komentar:
Posting Komentar