Jumat, 01 November 2019

Wisata Ekslusif, Jalan Menuju Kepunahan Hewan Purba Komodo


Apa jadinya jika Pulau Komodo yang menjadi habitat hewan purba Varanus Komodoensis alias komodo dijadikan wisata ekslusif? Yap, yap. Seperti yang diberitakan di lini masa, pemerintah berencana untuk mengkonservasi Pulau Komodo untuk dijadikan Taman Nasional Komodo yang super ekslusif.



Gak tanggung-tanggung, untuk bisa menikmati keindahan dan keunikan hewan langka ini, agan dan sista harus siap-siap merogeh kocek sebanyak Empat Belas Juta Rupiah. Harga tiketnya bikin merinding. Setara gaji ane setahun. Wakakak. Alamat wisata online juga akhirnya ini. Cuma modal kuota sepuluh ribu doang udah bisa sampai di sana. Hihi.

Quote:Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan setelah rapat koordinasi yang melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pariwisata dan Gubernur NTT beberapa waktu lalu di Jakarta (11/10/19). “Kita ingin menata Komodo menjadi tourist destination. Jadi seperti di Afrika ada tempat safari,” kata Luhut seperti dikutip berbagai media. Pemerintah mematok biaya sekitar 1000 USD untuk setiap pengunjung. Pengelolaanya diserahkan kepada investor dalam dan luar negeri. “Pulau Komodo ini akan dibikin eksklusif dengan research yang bagus, penginapan oke. Kalau mau ke situ, keluarinlah uang berapa banyak,” sambung Luhut.
Sumber: disini


Berhubung Pak Luhut ingin mengubah pulau komodo menjadi seperti taman safari di Afrika, ada baiknya sebagai warga misqueen yang punya ponsel smart, kita kupas sedikit bagaimana kondisi masyarakat dan lingkungan di sono pasca dijadikan taman safari ekslusif.

Buat pelajaran aja, jangan sampai Pulau Komodo dan masyarakatnya bakalan bernasib malang macam suku Masai Mara dan habitat hewan langka di Afrika sana.

1. Habitat Asli Komodo Terganggu

Quote:


Serius ini, gan. Yang namanya wisata ekslusif, pasti akan memberikan layanan ekslusif juga bagi para pengunjung. Berkaca pada Taman Safari Nasional Kruger di Afrika, di dalam taman didirikan banyak bangunan-bangunan sebagai penginapan dan penunjang administrasi dan akomodasi para turis yang datang.

Dari penginapan mewah, pondok-pondok sederhana, camp-camp hingga tempat untuk barbeque-an dijejalkan di dalamnya. Jelas saja ini akan makin mempersempit tempat hidup para hewan langka dan betul-betul mengganggu ekosistem satwa liar yang hidup di sana. Bayangkan berapa banyak pohon yang ditebang demi ini semua? Ekosistem tumbuhan pun pastinya juga akan ikutan rusak. Ane takut, kerakusan para kapitalis ini akan merusak ruang gerak dan kelangsungan hidup komodo ke depannya.



2. Masyarakat Tersingkirkan

Quote:

Faktanya, belum apa-apa, masyarakat yang hidup di sekitar pulau komodo sudah digusur duluan. Pasti agan dan sista belum lupalah berita penutupan Pulau ini dengan alasan perbaikan. Lha, faktanya, ujug-ujug Pak Luhut datang membawa kabar buruk, bahwa Pulau Komodo akan dijadikan taman wisata ekslusif. Bikin sakit hati masyarakat setempat saja. Padahal banyak dari masyarakat sekitar yang menggantungkan hidup di sana.

Jangan sampailah komunitas setempat bernasib sama seperti orang-orang suku Masai di Kenya. Mereka bahkan gak kecipratan apa-apa dari pengembangan wisata model begini. Karena kebutuhan wisatawan pun sudah terpenuhi di dalam lokasi taman wisata, tanpa harus berinteraksi dengan masyarakat setempat. Karena nantinya, wisata model begini akan memberi batas yang tegas antara turis dengan komunitas lokal. Ini yang disebut Enclave Tourism.


Berikut yang terjadi pada hewan yang hidup di taman safari Afrika:
Quote:

FLORESA.CO –
Kehadiran Taman Nasional di Afrika menyebabkan penurunan populasi satwa liar. Berdasarkan laporan Patrick Adam, seorang wartawan yang meliput tentang Taman-taman Nasional di Afrika, antara rentang waktu 1970 hingga 2005, populasi beberapa spesies mamalia besar seperti singa, zebra, gajah, dan jerapah mengalami penurunan kurang lebih 59% pada Taman-taman Nasional di Afrika.[iv]Sementara di Tanzania populasi Gajah menurun hingga 53%, dari 109,000 ekor pada tahun 2009 menjadi hanya 51.000 ekor pada tahun 2015.[v]

Sistem konservasi melalui Taman Nasional di Afrika secara derastis mengubah pola migrasi alami tahunan dari satwa liar. Hidup serba terbatas dalam enclave Taman Nasional, menyebabkan satwa-satwa liar itu tidak lagi dapat berpindah tempat secara alami untuk mencari mencari makan. Krisis makanan pada musim-musim tertentu, menyebabkan banyak dari satwa liar itu yang mati. Sementara itu, efek kehadiran Taman Nasional yang memisahkan secara tegas antara antara wilayah konservasi dengan pemukiman penduduk setempat, telah menciptakan permusuhan antara penduduk setempat dengan satwa liar. Di Tanzania, pemisahan ini membuat area-area Taman Nasional tampak seperti Pulau kecil di tengah lautan populasi penduduk Maasai. Alhasil, meski dipaksa untuk hidup dalamenclave Taman Nasional, banyak dari satwa liar itu yang mencari makan di area penggembalaan ternak dan pertanian masyarakat suku Maasai. Akibatnya banyak dari satwa liar tersebut yang mati dibunuh oleh para peternak dan petani.

Sumber: disini


Intinya bagi ane pribadi, untuk apa mengubah pulau komodo demi wisata ekslusif, kalau hanya untuk menguntungkan sekelompok elit kapital? Biarkanlah komodo dan masyarakat setempat berbaur sebagaimana biasanya. Lagipula, siapa yang paling mengerti tentang komodo kalau bukan komunitas lokal sana?

Berhenti terus menerus memikirkan profit, jika akhirnya ekosistem binatang purba dan lingkungan sekitarnya jadi rusak. Kita tak perlu mencontoh Taman Nasional Afrika, karena pada faktanya, hewan-hewan langka yang hidup di Taman Nasional Serengeti maupun Kidepo, sedang berjalan menuju kepunahannya. 😭😭


______________
Sumber: opini pribadi dan disini

0 komentar:

Posting Komentar